Arsitektur Post Modern, dari Aliran hingga Ciri Khas Bangunan

13 Jul 2020 - Miyanti Rahman

Arsitektur Post Modern, dari Aliran hingga Ciri Khas Bangunan

Foto: Invaluable

Pengetahuan tentang arsitektur post modern sebaiknya tidak diketahui oleh mahasiswa, dosen dan praktisi di dunia arsitektur saja.

Namun, orang awam yang terjun di bisnis properti pun harus mengetahui tentang arsitektur post modern.

Pasalnya, gaya bangunan sekarang banyak yang menerapkan prinsip arsitektur postmodern, dari bangunan residensial, komersial, hingga perkantoran.

Lantas bagaimana awal mula munculnya arsitektur postmodern yang terus berkembang hingga saat ini?

Sejarah Arsitektur Post Modern


Foto: Invaluable

Arsitektur post modern merupakan sebuah era yang menandai berakhirnya era arsitektur modern.

Istilah postmodern sendiri sudah eksis sejak 1960-1970-an, tidak hanya di dunia arsitektur saja, tetapi juga di dunia seni, film dan bahkan ideologi.

Munculnya arsitektur postmodern berawal dari kejenuhan terhadap arsitektur modern.

Pada saat itu, nilai-nilai formalitas dan minimalis dalam arsitektur modern dianggap tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman.

Gaya bangunan arsitektur modern dianggap tidak bervariasi, hanya bentuk kotak yang seragam dan monoton sehingga melahirkan kejenuhan.

Tanda berakhirnya era arsitektur modern, yaitu adanya penghancuran Pruitt-Igoe Housing di Kota Santa Louis, negara bagian Missouri, Amerika Serikat pada 15 Juli 1972.

Kendati demikian, bukan berarti arsitektur post modern ingin lepas dan membuang semua nilai-nilai dalam arsitektur modern.

Justru gaya bangunan arsitektur post modern sangat dipengaruhi oleh gaya bangunan era sebelumnya.

Sejak 1980-an gaya bangunan arsitektur postmodern terus mengalami perkembangan, lalu pada 1990-an perkembangannya lebih jauh lagi.

Tokoh arsitektur postmodern di antaranya Charles Jencks, Robert Venturi, Philip Johnson dan Michael Graves.

Adapun contoh bangunan dengan gaya arsitektur postmodern, yaitu Vanna Venturi House dan Guild House karya Robert Venturi.

Foto: Deezen

Aliran Arsitektur Post Modern


Foto: Invaluable

Arsitektur post modern merupakan percampuran gaya arsitektur tradisional dan nontradisional, gabungan modern dan nonmodern.

Gaya bangunan arsitektur post modern menerapkan perpaduan dua unsur (hybrid) dan bermuka ganda atau disebut juga double coding.

Adapun aliran dalam arsitektur postmodern yang harus diketahui, yaitu sebagai berikut.

Arsitektur Post Modern Historicism

Gaya bangunan dalam aliran arsitektur postmodern historicism biasanya menerapkan elemen dalam arsitektur klasik.

Contoh elemen tersebut di antaranya kombinasi  kolom ionic, doric, dan corinthian.

Selain itu, arsitektur post modern historicism juga menggabungkan elemen dalam arsitektur modern.

Tokoh arsitek aliran ini, yaitu Philip Johnson, Robert Venturi, Eero Saarinen, Kisho Kurokawa dan Kyionori Kikutake.

Arsitektur Post Modern Straight Revivalism

Elemen-elemen dalam arsitektur neoklasik dihidupkan kembali pada aliran arsitektur post modern straight revivalism ini.

Elemen-elemen tersebut dihidupkan melalui gaya bangunan yang bersifat monumental.

Selain itu, gaya bangunan arsitektur postmodern straight revivalism juga mengaplikasikan desain yang berirama dan simetris.

Tokoh arsitek dalam aliran ini di antaranya Monta Mozuna, Aldo Rossi, Ricardo Bofill dan Mario Botta.

Arsitektur Post Modern Neovernacularism

Gaya bangunan arsitektur post modern neo vernacularism mengawinkan elemen dalam arsitektur modern dengan elemen tradisional.

Selain itu, juga dengan elemen lokal yang tersedia di lingkungan sekitar tempat bangunan didirikan.

Contoh penerapan aliran ini, yaitu pada bangunan modern apartemen Patraland Amarta yang menggunakan dekorasi arsitektur Jawa.

Baca juga:

7 Jenis dan Keunikan Rumah Joglo sebagai Rumah Adat Jawa yang Menarik

Adapun tokoh arsitektur post modern neovernacularism di antaranya Darbourne and Darke, Joseph Esherick dan Aldo Van Eyck.

Arsitektur Post Modern Contextualism

Pada arsitektur postmodern contextualism, konsep gaya bangunan mengarah dan terpusat pada lokasi penempatan bangunan.

Artinya, desain harus memperhatikan lingkungan sekitar agar tercipta bangunan yang selaras dengan lingkungannya.

Nama lain aliran contextualism, yaitu aliran urbanist atau dikenal juga arsitektur ramah lingkungan.

Tokoh arsitektur post modern contextualism, di antaranya James Stirling, Lucien Kroll dan Leon Krier.

Arsitektur Post Modern Metaphor dan Metaphysical

Gaya bangunan arsitektur postmodern metaphor dan metaphysical biasanya menarik, unik dan filosofis.

Gaya tersebut merupakan ungkapan metafora dan metafisika (spiritual) dari arsitek yang diungkapkan secara eksplisit dan implisit.

Biasanya, ada cerita filosofis dibalik bangunan dalam aliran arsitektur post modern yang satu ini.

Minoru Takeyama, Antonio Gaudi, dan Stanley Tigerman adalah tokoh arsitek dalam aliran arsitektur postmodern metaphor dan metaphysical.

Arsitektur Post Modern Space

Aliran ini memperlihatkan proses pembentukan ruang dengan cara mengomposisi sejumlah komponen bangunan.

Fokus dalam proses tersebut, yaitu merancang interpretasi ruang spesial dimana ada dua atau lebih ruang yang bertemu.

Dengan begitu, ruang lebih dari sekedar ruang abstrak sehingga hadir keanekaragaman yang memberi kejutan dan kesan tertentu saat ditempati.

Tokoh arsitek dalam aliran ini, yaitu Robert Stern, Charles Moore, Kohn, Pederson-Fox dan Peter Eisenman.

Ciri Khas Arsitektur Post Modern

Charles Jencks adalah tokoh yang mencetuskan lahirnya era postmodern, dia pun menyebut tiga hal yang mendasarinya.

Pertama kehidupan sudah berkembang karena cepatnya komunikasi dan daya tiru manusia.

Kedua canggihnya teknologi menghasilkan produk-produk yang bersifat pribadi, sedangkan era modern hanya menghasilkan produk massal.

Ketiga, yaitu ada kecenderungan untuk kembali menghidupkan nilai-nilai tradisional atau daerah.

Berdasarkan ketiga hal di atas, maka ciri khas bangunan arsitektur postmodern, yaitu sebagai berikut.

  • Mengandung unsur-unsur komunikatif yang bersifat lokal dan populer.

  • Membangkitkan kenangan yang bersifat historik, misalnya penerapan elemen dalam arsitektur klasik.

  • Berkonteks urban seperti bangunan arsitektur postmodern contextualism.

  • Menerapkan kembali teknik ornamentasi.

  • Representasional.

  • Berwujud metaforik, artinya bisa berupa bentuk lain.

  • Hasil dari partisipasi.

  • Mencerminkan aspirasi umum.

  • Bersifat plural atau beraneka ragam.

Lantas bagaimana dengan perkembangan arsitektur post modern di Indonesia sendiri?

Arsitektur Post Modern di Indonesia


Foto: Unsplash

Istilah postmodern memang asing di telinga masyarakat Indonesia dulu dan sekarang.

Namun tanpa disadari, era postmodern sudah berkembang di tanah air, bahkan sebelum dicetuskan oleh dunia internasional.

Pasalnya, kebudayaan di Indonesia bersifat plural, berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke.

Budaya dan tradisi berkembang di daerah masing-masing sehingga gaya rumah adat pun sangat beragam.

Seperti diketahui gaya bangunan arsitektur post modern memadukan art, science serta craft dan teknologi.

Tidak hanya itu, gaya bangunan arsitektur era ini juga menerapkan kultur internasional dan lokal.

Contoh penerapan arsitektur postmodern di Indonesia bisa dilihat melalui revitalisasi kawasan Saribu Rumah Gadang.

Proyek tersebut dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dan statusnya masih dalam proses pembangunan.

Dengan menerapkan gaya arsitektur post modern, masyarakat tidak hanya bisa memanfaatkan teknologi terbaru.

Selain itu, masyarakat bisa lebih dekat dengan lingkungan dalam konteks geografi dan budaya.

Baca juga:

Mengenal Arsitektur Vernakular, dari Unsur hingga Perannya

Bagaimana, tertarik dengan bangunan hunian yang menerapkan gaya arsitektur post modern?

Yuk, langsung saja jelajahi situs 99.co Indonesia dan temukan hunian terbaik yang cocok untuk Anda.

Semoga informasi ini bermanfaat!

Author:

Miyanti Rahman