
Berbeda dengan plafon konvensional yang rata, plafon drop ceiling menawarkan dimensi dan estetika yang lebih dinamis.
Dalam dunia desain interior modern, langit-langit atau plafon tidak lagi sekadar penutup atap yang polos dan datar.
Plafon telah bertransformasi menjadi elemen penting yang memengaruhi estetika dan fungsionalitas ruangan.
Salah satu inovasi yang populer adalah penggunaan drop ceiling.
Plafon jenis ini menawarkan solusi menarik untuk menyembunyikan instalasi kabel, pipa, atau sistem ventilasi yang mungkin terlihat kurang rapi, sekaligus memberikan sentuhan visual yang lebih dinamis.
Mari berkenalan lebih jauh dengan plafon drop ceiling!
Apa Itu Plafon Drop Ceiling?
Karakteristik Plafon Drop Ceiling

foto: armstrongceilings.com
Plafon drop ceiling memiliki beberapa karakteristik utama, berikut rinciannya:
- Terdiri dari panel-panel yang terbuat dari bahan ringan seperti gypsum.
- Rangka metal terdiri dari profil “T” atau profil “L” yang dipasang pada dinding atau atap dengan jarak tertentu.
- Panel-panel plafon diikat pada rangka metal menggunakan klip atau pengait, sehingga mudah dipasang dan dilepas.
- Model plafon ini umumnya lebih mudah dipasang daripada plafon konvensional, karena bahannya yang ringan dan metode pemasangan yang sederhana.
- Permukaan plafon datar dan rata sehingga memberi kesan bersih dan modern pada interior rumah.
- Bisa digunakan untuk menutupi instalasi pipa, kabel listrik, dan AC yang terlihat kurang estetis pada bagian ceiling rumah.
- Dapat dipersonalisasi dengan berbagai desain, warna dan tekstur, untuk menciptakan tampilan yang unik dan menarik pada interior ruangan.
- Plafon ini dapat menyerap suara sehingga cocok digunakan untuk ruangan kedap suara.
Sebagai informasi, ada banyak jenis plafon yang bisa digunakan untuk membuat model drop ceiling ini.
Maka itu, ukuran plafon drop ceiling berbeda-beda, tergantung kebutuhan, ukuran ruangan, dan bahan yang digunakan.
Sebagai referensi, berikut beberapa jenis plafon drop ceiling yang bisa kamu pilih.
Perbedaan Drop Ceiling dan Up Ceiling
Foto: arsigriya.com
Up ceiling adalah variasi model atau bentuk plafon yang sebagian besar permukaannya terangkat ke atas.
Jenis up ceiling banyak ditemukan pada rumah berdesain minimalis dan cocok untuk hunian mungil.
Mengapa demikian? Pasalnya, model plafon ini dipercaya mampu memberi kesan lega dan luas pada ruangan.
Sementara, drop ceiling adalah jenis plafon gantung yang bentuknya agak menonjol.
Plafon drop ceiling juga bisa dipakai untuk membuat ruangan terlihat lebih aesthetic.
Bentuk plafon drop ceiling sekilas seperti melengkung atau membentuk kotak, sehingga ada celah yang bisa dipakai untuk memaksimalkan pencahayaan.
Karena itu, plafon drop ceiling bisa memberi efek cahaya yang memikat, misalnya memberi pantulan cahaya yang keluar dari dalam plafon.
Itulah yang membuat plafon tersebut dapat mewujudkan kesan estetis pada ruangan.
Baca Juga:
7 Desain Ceiling Rumah yang Cocok untuk Kamar Tidur
Jenis-Jenis Plafon Drop Ceiling
1. Plafon Triplek
Bahan pertama yang bisa digunakan untuk membuat plafon drop ceiling adalah triplek.
Bahan triplek banyak dipakai karena mudah dibentuk dan gampang diaplikasikan.
Selain itu, triplek juga menjadi salah satu bahan plafon yang harganya terjangkau.
Terdapat beberapa ukuran triplek di pasaran, mulai dari 3, 4, 5 hingga 6 mm.
2. Plafon Gypsum
Bahan plafon gypsum pun banyak diaplikasikan karena dapat menyesuaikan dengan berbagai gaya hunian.
Baik jenis plafon drop ceiling atau up ceiling, bahan gypsum bisa kamu andalkan.
Serupa seperti triplek, bahan gypsum mudah dibentuk dan dipasang.
Ketebalannya pun baik sehingga sangat direkomendasikan.
Bila Anda ingin membuat plafon drop ceiling dengan gypsum, cobalah rancang dengan rangka furing atau kayu agar mendapat hasil lebih optimal.
3. Plafon Eternit
Plafon eternit terbuat dari fiber dan semen.
Tipe plafon ini ukurannya rata-rata cukup kecil dan tipis, tetapi tergolong mudah dipasang, murah dan tahan air.
Untuk kekurangannya pun, kamu mesti memperhatikannya dengan baik.
Pasalnya, menurut banyak sumber, plafon eternit bahannya mudah retak dan cenderung berisiko mengganggu kesehatan pernapasan.
4. Plafon GRC
Kalau yang satu ini pasti kamu sudah tidak asing, karena plafon GRC banyak dipakai oleh masyarakat luas.
GRC yang merupakan kependekan dari Glassfiber Reinforced Cement Board, cocok dijadikan bahan membuat plafon drop ceiling.
Bahan satu ini memiliki banyak keunggulan dan ukurannya lebar-lebar.
Maka itu, bila Anda hendak membuat drop ceiling, bahan GRC bisa menjadi alternatif yang tepat.
Untuk kekurangan, plafon GRC mudah retak saat proses pemasangan.
Ini mesti jadi perhatian agar tukang lebih hati-hati saat memasangnya.
5. Plafon PVC
Terakhir adalah plafon PVC atau Polyvinyl Chloride.
Material drop ceiling ini cocok digunakan untuk desain rumah apa pun.
Bahan PVC pun sangat baik karena punya banyak kelebihan, di antaranya ringan, tahan api, tidak mudah rembes, dan anti-rayap.
Menariknya, plafon PVC juga memiliki varian warna yang cukup banyak.
Jika tertarik, berikut estimasi harga plafon PVC di pasaran:
| Jenis | Harga |
| Plafon Gypsum | Rp150.000–Rp185.000/m2 |
| Plafon GRC | Rp150.000–Rp185.000/m2 |
| Plafon PVC Shunda | Rp300.000–Rp350.000/m2 |
| Plafon PVC Standar | Rp200.000–Rp255.000/m2 |
Masing-masing jenis plafon memiliki ukurannya tersendiri, misal untuk plafon PVC paling ideal berukuran 2,8–3,2 meter.
Sementara, biaya pemasangan plafon berkisar antara Rp50–70 ribu per meter, tergantung pada jenis dan kesulitan pemasangannya.
Baca juga:
8 Inspirasi Desain Atap Rumah Modern
Contoh Desai Plafon Drop Ceiling
***
Demikian penjelasan mengenai plafon drop ceiling.
Semoga bermanfaat, Property People.
Jika sedang mencari rumah impian, cek laman www.99.co/id sekarang juga!



