Standar Tinggi Dinding Rumah 2 Lantai dan Alasan Pembatasannya

29 Jul 2020 - Miyanti Rahman

Standar Tinggi Dinding Rumah 2 Lantai dan Alasan Pembatasannya

Rumah 2 lantai merupakan solusi untuk Anda yang ingin memiliki landed house dengan luas bangunan besar di perkotaan.

Terbatasnya lahan di perkotaan sudah menjadi kendala umum. Jadi, akan sulit apabila ingin memperbesar luas bangunan secara horizontal.

Namun dalam membangun rumah bertingkat, meskipun hanya 2 lantai, ada beberapa hal krusial yang tidak boleh luput dari perhatian.

Hal krusial itu di antaranya adalah rencana tata letak ruangan, struktur, kolom tambahan, pembuatan dak dan material.

Lalu yang tidak kalah penting adalah standar tinggi dinding rumah 2 lantai yang tidak diperkenankan melebihi kapasitas bangunan.

Namun, sebelum mengulas tentang standar tinggi dinding rumah 2 lantai, lebih baik pahami dulu mengapa tinggi bangunan dibatasi.

Mengapa Tinggi Bangunan Dibatasi?


Tinggi bangunan adalah tinggi maksimum yang diperbolehkan bagi suatu bangunan di atas lahan.

Tinggi bangunan dikelompokan menjadi tiga jenis, yaitu tinggi bangunan rendah, bangunan sedang dan bangunan tinggi.

Setiap jenis tinggi bangunan memiliki standar berbeda yang tidak boleh dilanggar. 

Apa alasannya? Simak penjelasan di bawah ini.

Pertimbangan Jalur Pesawat Terbang

Peraturan tentang tinggi bangunan tidak boleh dilanggar terutama di kawasan dekat bandara.

Pasalnya, daerah yang dekat dengan bandara perlu area terbuka yang bebas dari gangguan untuk jalur naik dan turun pesawat.

Area yang dilewati oleh jalur pesawat pasti memiliki peraturan tinggi bangunan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tinggi bangunan dibatasi agar bangunan dan operasi pesawat terbang tetap aman dan lancar.

Pertimbangan Floor Area Ratio (FAR)

Pernahkah Anda mendengar floor area ratio (FAR)? 

FAR merupakan istilah lain dari Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

KLB sendiri adalah angka perbandingan antara luas seluruh bangunan dengan luas tanah.

Jika luas seluruh bangunan sudah mencapai batas maksimal, maka jumlah lantai bangunan pun tidak boleh ditambah lagi.

Jadi, tinggi bangunan hanya sebatas itu saja. 

Sementara untuk tinggi lantai ke lantai bisa diatur tergantung jenis bangunannya.

Pertimbangan Bencana Kebakaran Berdasarkan Peraturan Dinas Pekerjaan Umum (DPU)

Jika terjadi kebakaran, maka proses pemadaman api pada bangunan yang terlalu tinggi akan sulit.

Tinggi bangunan hendaknya sesuai dengan Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan yang dikeluarkan oleh DPU pada 1987.

Peraturan DPU tersebut mengulas tentang pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung.

Batas tinggi maksimum dan batas luas maksimum suatu bangunan ditentukan di dalamnya.

Lantas, berapa standar yang diterapkan agar bangunan dan penghuninya tetap aman? Berikut jawabannya.

Berapa Standar Tinggi Rumah 2 Lantai?


Peraturan tentang standar tinggi dinding rumah 2 lantai memang tidak seketat peraturan yang mengatur tinggi gedung pencakar langit.

Namun harus tetap diperhatikan guna menjaga keamanan penghuni rumah dan menghindari bahaya yang mungkin terjadi.

Nah untuk mengetahui standar tinggi dinding rumah 2 lantai bisa menggunakan perhitungan-perhitungan di bawah ini.

Baca juga:

Inspirasi Rumah Minimalis 2 Lantai dan Rekomendasi Terjangkau

Menghitung Total Luas dan Jumlah Lantai

Tinggi gedung pencakar langit sangat tergantung pada perhitungan KLB yang sudah disinggung sebelumnya.

KLB ditetapkan karena setiap bangunan berhak menerima pencahayaan atau sinar matahari yang layak.

Cara menghitung jumlah lantai berdasarkan KLB, yaitu menggunakan rumus Total Luas Lantai = Luas Lahan X KLB.

Angka KLB diketahui dari Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang berlaku di masing-masing daerah.

Misalnya anggap saja Anda memiliki lahan seluas  200 m2 dan lahan tersebut berada di daerah yang memiliki nilai KLB 1,2.

Berdasarkan angka-angka di atas, diketahui luas seluruh lantai yang diperbolehkan untuk dibangun yaitu 200 m2 X 1,2 = 240 m2.

Total luas lantai tersebut bisa dibagi menjadi 2 lantai dengan luas masing-masing lantai 120 m2.

Selain untuk gedung pencakar langit atau high-rise building, rumus di atas tentu bisa menjadi acuan saat menentukan total luas dan jumlah lantai rumah.

Nah, setelah mengetahui perhitungan di atas, pertanyaan berikutnya adalah berapa tinggi plafon ideal untuk bangunan tersebut?

Menghitung Tinggi Plafon Ideal

Cara menghitung total luas dan jumlah lantai berdasarkan KLB sudah diketahui, sekarang waktunya menghitung tinggi plafon ideal.

Dengan mengetahui tinggi plafon rumah, kita bisa menentukan berapa meter standar tinggi dinding rumah 2 lantai yang harus dibangun.

Betul, tinggi plafon memang bisa diatur suka-suka. Namun akan lebih baik apabila menggunakan perhitungan yang sesuai standar.

Rumus yang sering digunakan untuk menghitung tinggi plafon ideal, yaitu panjang ditambah lebar ruangan dibagi dua.

Contohnya:

Diketahui total luas lantai bangunan yang harus dibangun, yaitu 120 m2 per lantai (berdasarkan KLB).

Anda pun membagi angka 120 m2 tersebut ke dalam panjang 12 m dan lebar 10 m (Luas = Panjang X Lebar = 120 m2).

Artinya, ruangan yang memiliki panjang 12 m dan lebar 10 m, sebaiknya memiliki tinggi plafon 11 m.

Perlu dicatat rumus di atas bukan sebuah rumus baku. Pasalnya, tinggi plafon ideal juga bisa disesuaikan dengan desain interior.

Adapun tinggi plafon ideal untuk rumah yang berada di daerah bersuhu dingin yaitu sekitar 2,4 atau 2,5 meter.

Itu dia cara menghitung standar tinggi dinding rumah 2 lantai. Semoga informasinya bermanfaat untuk Anda!

Baca juga:

Panduan Menghitung Biaya Bangun Rumah 2 Lantai secara Tepat

Author:

Miyanti Rahman