+ Pasang Iklan Gratis
/

Gunung Prau: Daya Tarik, Jalur Pendakian, HTM dan Larangan

Bakulan, Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
Buka
4.8/5
Yuhan Al Khairi
Yuhan Al Khairi
Banner 1
Banner 2
Banner 3
Banner 4

Mengenal Gunung Prau

Gunung Prau adalah salah satu destinasi pendakian paling populer yang terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.565 meter di atas permukaan laut dan terkenal dengan pemandangan sunrise-nya yang memukau.

Jalur pendakiannya relatif landai, cocok untuk pemula yang ingin merasakan pengalaman hiking sekaligus menikmati keindahan alam.

Selain itu, ada banyak hewan langka yang menjadikan Gunung Prau sebagai habitat, seperti elang Jawa, sigung, dan macan tutul Jawa.

Meski begitu, kombinasi keindahan alam dan aksesibilitas yang mudah menjadikan gunung ini pilihan tepat untuk petualangan yang berkesan.

Icon 0

Pemandangan Golden Sunrise

Dari puncak Gunung Prau, pendaki dapat menyaksikan matahari terbit di balik Gunung Sindoro dan Sumbing dengan latar belakang langit yang dramatis.

Icon 1

Padang Savana dan Edelweiss

Terdapat padang savana hijau yang luas dan bunga edelweiss Jawa di puncak Gunung Prau. Pemandangan ini menjadikan area sekitar puncak sangat fotogenik.

Icon 2

Pemandangan Gunung-Gunung Besar

Dari puncak Gunung Prau, pendaki bisa melihat lima gunung besar, yaitu Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Lawu. Lalu, ada pula panorama Gunung Slamet di arah baratnya.

Icon 3

Fenomena Embun Es di Musim Kemarau

Saat musim kemarau, suhu di kawasan Gunung Prau bisa turun drastis hingga membentuk embun es pada pagi hari. Fenomena unik ini sangat jarang ditemukan di tempat lain.

Sejarah Gunung Prau

Nama "Prau" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "perahu".

Penamaan ini diambil dari bentuk gunung tersebut yang menyerupai perahu terbalik.

Selama masa kolonial, ilmuwan Belanda menjadikan Gunung Prau sebagai lokasi penelitian keanekaragaman hayati dan geologi Dataran Tinggi Dieng.

Selain itu, jalur di sekitar gunung ini pernah menjadi rute perdagangan yang menghubungkan wilayah pantai utara dan selatan Jawa Tengah.

Sejarah Gunung Prau juga berkaitan dengan kebudayaan di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Sejak dahulu, kawasan ini dikenal sebagai tempat suci oleh masyarakat Hindu Jawa karena candi-candi kuno dan situs arkeologinya.

Meskipun Gunung Prau tidak memiliki catatan sejarah yang spesifik, keberadaannya sangat dihormati oleh masyarakat lokal.

Gunung ini dipercaya sebagai tempat pertapaan dan simbol keagungan alam.

Namun, seiring waktu, Gunung Prau mulai dikenal luas sebagai destinasi pendakian, terutama karena keindahan panoramanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat sejalan dengan berkembangnya tren pendakian di Indonesia.

Banner

Jalur Pendakian Gunung Prau dan Harga Tiketnya

Gunung Prau memiliki beberapa jalur pendakian resmi yang tersebar di sekitar kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Masing-masing jalur mempunyai karakteristik tersendiri, baik dari segi panjang rute, tingkat kemiringan, hingga fasilitas yang tersedia.

Berikut beberapa jalur terpopuler beserta estimasi biaya tiketnya:

1. Jalur Patak Banteng

Jalur ini paling ramai digunakan karena akses mudah dan jalurnya yang relatif pendek.

Pendakian bisa ditempuh dalam waktu 2–3 jam dengan medan yang cukup menanjak.

Namun, tetap cocok untuk pendaki pemula yang ingin perjalanan cepat menuju puncak.

Harga tiket masuknya sekitar Rp15–20 ribu per orang, belum termasuk biaya parkir dan ojek.

2. Jalur Dieng (Basecamp Dieng Wetan)

Jalur ini memiliki pemandangan paling beragam karena pendaki akan melintasi kawasan pertanian, hutan, dan savana.

Waktu tempuh menuju puncak via jalur ini sekitar 3–4 jam dengan tingkat kesulitan sedang.

Namun, jalur ini sejatinya cocok bagi pendaki yang ingin menikmati perjalanan lebih santai.

Tiket masuk melalui jalur ini berkisar Rp15–25 ribu, tergantung musim dan kebijakan pengelola.

3. Jalur Kalilembu

Alternatif lain yang cukup populer adalah jalur Kalilembu.

Jalur ini menawarkan lintasan yang rekatif landai meski sedikit lebih panjang.

Cocok bagi pendaki yang ingin hiking sambil menikmati pemandangan tanpa terburu-buru.

Waktu tempuh rata-ratanya berkisar 3–4 jam dengan biaya tiket sekitar Rp20 ribu per orang.

4. Jalur Wates

Jalur Wates memiliki kontur tanah yang stabil dan tertata rapi.

Meskipun tidak sepopuler Patak Banteng, jalur ini cukup nyaman dan sering digunakan oleh pendaki berpengalaman.

Untuk sampai ke puncak, waktu tempuh dari jalur ini berkisar 3 jam.

Tiket masuknya sendiri dikenakan mulai dari Rp15 ribu per orang.

5. Jalur Dwarawati

Jalur ini tergolong baru dan cocok bagi pendaki yang ingin mencoba rute alternatif.

Medannya relatif sedang (cukup menantang tapi aman) dan cenderung lebih sepi.

Untuk sampai ke puncak, waktu tempuhnya yang dibutuhkan sekitar 3 jam perjalanan.

Tiket masuknya rata-rata dikenakan sebesar Rp15–20 ribu per pendaki.

6. Jalur Igirmranak

Jalur Igirmranak lebih jarang digunakan karena memiliki jarak tempuh yang lebih panjang.

Namun, jalur ini cocok untuk pendaki yang mencari suasana tenang dan pengalaman berbeda.

Jika melalui jalur Igirmranak, waktu tempu menuju puncak bisa mencapai 4 jam.

Namun, harga tiket masuknya dikenakan lebih murah, yakni mulai dari Rp10 ribu saja.

Sebagian besar basecamp juga menyediakan jasa ojek ke titik awal pendakian dengan tarif sekitar Rp10–20 ribu.

Sementara, parkir kendaraan dikenai biaya tambahan antara Rp5–10 ribu.

Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Gunung Prau?

Waktu terbaik untuk mendaki Gunung Prau adalah ketika musim kemarau, yakni antara bulan Mei hingga Agustus.

Pada periode ini, cuaca cenderung lebih cerah dan risiko turunnya hujan relatif rendah.

Jalur pendakian lebih aman, bahkan pemandangan matahari terbit maupun terbenam bisa dinikmati tanpa tertutup kabut.

Namun, pada saat itu suhu di malam hari bisa sangat dingin, jadi bawalah jaket tebal dan perlengkapan camping yang memadai.

Musim ini juga menjadi momen terbaik untuk menyaksikan fenomena kristal es di puncak.

Biasanya jalur pendakian Gunung Prau lebih ramai, sehingga datanglah lebih awal dan pesan perlengkapan dari basecamp terlebih dahulu.

Banner

Mitos dan Larangan di Gunung Prau

Gunung Prau memiliki beberapa mitos yang diyakini oleh masyarakat setempat, seperti:

⚠️ Larangan Mendaki bagi Wanita yang Haid: Diyakini bahwa wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan mendaki karena dianggap "tidak suci" dan bisa membawa musibah.

⚠️ Sandekala: Larangan mendaki saat adzan Maghrib atau pergantian hari karena diyakini sebagai waktu yang mistis dan rawan gangguan makhluk halus.

⚠️ Penjelmaan Burung Jalak: Burung jalak yang ditemukan di jalur pendakian dipercaya sebagai penjelmaan makhluk halus, sehingga dilarang untuk diganggu atau ditangkap.

Selain itu, ada pula larangan resmi dari pihak pengelola yang wajib dipatuhi oleh pendaki.

Larangan ini disertai dengan sanksi yang bisa dikenakan apabila terjadi pelanggaran, seperti:

🚫 Masuk tanpa izin dikenai sanksi membayar harga tiket dan satu bibit pohon.

🚫 Membuang sampah sembarangan dikenai sanksi membayar lima bibit pohon.

🚫 Membuat api unggun dikenai sanksi membayar dua bibit pohon.

🚫 Tidak membawa sampah turun dikenai sanksi membayar dua bibit pohon.

🚫 Menebang pohon dikenai sanksi membayar 10 bibit pohon.

🚫 Jika membawa senjata tajam (lebih dari 30 cm), maka barang akan diamankan dan wajib membayar dua bibit pohon.

🚫 Jika membawa kembang api maka barang diamankan.

🚫 Menyalakan kembang api dikenai sanksi membayar 10 bibit pohon.

🚫 Membawa minuman keras dikenai sanksi membayar empat bibit pohon.

🚫 Tindak pencurian pencurian akan dipidana dan wajib membayar 10 bibit pohon.

🚫 Jika membawa alat musik atau pengeras suara, maka barang diamankan dan wajib membayar satu bibit pohon.

🚫 Jika memetik bunga edelweiss, maka pendaki diwajibkan untuk mengembalikannya ke tempat semula dan membayar dua bibit pohon.

🚫 Berzina dikenai sanksi diserahkan ke pihak berwajib dan membayar 10 bibit pohon.

🚫 Melakukan vandalisme dikenai sanksi membayar lima bibit pohon.

🚫 Kencing dalam boto dikenai sanksi membayar lima bibit pohon.

🚫 Membawa sepeda atau sepeda motor naik dikenai sanksi membayar 10 bibit pohon.

🚫 Jika membawa tisu basah, maka barang akan diamankan dan wajib membayar 10 bibit pohon sesuai jumlah per itemnya.

Harga satu bibit pohon, termasuk penanaman dan angkutnya dikenakan sebesar Rp20 ribu.

Waktu Operasional

Senin00:00 - 23:59
Selasa00:00 - 23:59
Rabu00:00 - 23:59
Kamis00:00 - 23:59
Jumat00:00 - 23:59
Sabtu00:00 - 23:59
Minggu00:00 - 23:59

Tempat Lain di Sekitar

Ulasan

4.8
3237 reviews

Pertanyaan Seputar Gunung Prau

Gunung Prau aktif atau tidak?

Gunung Prau bukanlah gunung berapi aktif. Gunung ini termasuk dalam kategori non-aktif, sehingga relatif aman untuk didaki tanpa risiko letusan.

Gunung Prau berapa derajat?

Suhu di Gunung Prau pada malam hingga dini hari bisa turun drastis sampai 0 derajat Celsius. Udaranya bahkan bisa lebih dinding pada musim kemarau.

Kenapa Gunung Prau disebut Gunung Mayit?

Selain perahu, Gunung Prau dikenal sebagai “Gunung Mayit”. Julukan ini muncul dari kisah masyarakat yang mengaitkan bentuk puncak Gunung Prau dengan siluet orang berbaring.

Properti Dijual di Wonosobo, Jawa Tengah

Lihat Semua
Tipe Properti: