Geliat Pembangunan Infrastruktur Daerah Bandung Timur dan Sekelumit Permasalahan yang Masih Tersisa

Last update: 4 September 2023 6 min read
Author:

Pembangunan infrastruktur di daerah Bandung Timur menggeliat dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai infrastruktur dan fasilitas umum, mulai dari sekolah, universitas, pusat perbelanjaan, sarana olahraga hingga tempat rekreasi, tersedia lengkap di Bandung Timur.

Seiring dengan hal itu, Bandung Timur pun dianggap sebagai salah satu wilayah paling prospektif bagi para pencari hunian.

Pesatnya pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik di Bandung Timur, diikuti pula dengan pertumbuhan pembangunan properti residensial.

Tidak hanya kompleks perumahan, di kawasan ini juga mulai banyak berdiri gedung-gedung apartemen dan rumah susun yang bisa dijadikan pilihan hunian bagi masyarakat.

Saya pribadi, yang lebih kurang sudah 29 tahun menjadi warga Bandung Timur, merasa pesatnya pembangunan infrastruktur di sini memberikan banyak dampak positif.

Salah satunya berhasil mengubah status Bandung Timur dari yang awalnya dianggap “daerah pinggiran” menjadi kawasan berkembang.

Baca juga: Rekomendasi Rumah Kontrakan di Bandung di Bawah Rp20 Juta dan Rp30 Juta

Proyek ‘Bandung Metropolis’, yang Memantik Geliat Pembangunan di Bandung Timur

pembangunan infrstruktur yang layak disyukuri

Seperti kata pepatah “tidak ada asap tanpa api,” geliat pembangunan infrastruktur di kawasan Bandung Timur juga bukannya tanpa alasan.

Sejak era kepemimpinan Dada Rosada sebagai Walikota Bandung, Bandung Timur tepatnya di daerah Gedebage telah dicanangkan untuk menjadi kawasan pertumbuhan primer.

Proyek tersebut ditandai dengan pembangunan sejumlah infrastruktur, termasuk megaproyek pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan (GBLA) pada 2009.

Ketika tampuk kepemimpinan Kota Bandung beralih ke tangan Ridwan Kamil, proyek pembangunan Gedebage untuk menjadi kawasan pertumbuhan primer tak lantas dihapuskan, alias berlanjut dengan istilah baru ‘Bandung Teknopolis’.

Meski berbeda istilah, kedua proyek tersebut tetap memiliki tujuan sama, yakni pemerataan pembangunan di Kota Bandung dan menjadikan kawasan Gedebage sebagai pusat kota baru.

Meski begitu, proyek ‘Bandung Teknopolis’ memiliki konsep yang lebih kekinian.

Sebab, tujuannya adalah menjadikan kawasan Gedebage sebagai kota kecil di dalam Kota Bandung yang berbasis Teknologi Informasi (IT).

Konsep dari proyek tersebut terinspirasi dari Silicon Valley di San Francisco, California, Amerika Serikat (AS).

Lewat proyek ‘Bandung Teknopolis’ pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum di Bandung Timur, khususnya kawasan Gedebage dan sekitarnya pun mulai menggeliat.

Bahkan, geliatnya masih berlanjut setelah Ridwan Kamil menanggalkan jabatan sebagai Walikota Bandung.

Di tangan penerusnya, Oded M Danial (almarhum), pembangunan Bandung Timur masih berlanjut, meski secara spesifik istilah ‘Bandung Teknopolis’ sudah tidak lagi digunakan.

Dampak positif dari masifnya pembangunan adalah, orang Bandung Timur kalau mau cari hiburan nggak perlu pergi jauh-jauh ke pusat kota.

Sudah banyak fasilitas dan infrastruktur di Bandung Timur yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.

Seperti pusat perbelanjaan yang ada bioskopnya, fasilitas pendidikan dari mulai tingkat paud sampai universitas, serta tempat wisata.

Bahkan, daerah rumah saya saja memiliki akses mudah untuk menjangkau Stadion GBLA dan Masjid Raya Al-Jabbar.

Untuk sampai ke kedua tempat tersebut, saya cukup berjalan kaki selama 15 hingga 20 menitan.

Begitu pula dengan akses tol, ada dua jalan tol yang bisa diakses dengan mudah di Bandung Timur, yakni Gerbang Tol Purbaleunyi dan Gedebage.

Seperti sudah saya katakan di atas, wajah Bandung Timur saat ini benar-benar telah berubah menjadi kawasan berkembang.

Agak berbeda kondisinya dengan 10 atau 15 tahun lalu, di mana kawasan Bandung Timur bukan menjadi daerah prioritas para pencari hunian karena statusnya sebagai daerah “pasisian”.

Meski secara administratif, komplek tempat tinggal saya masuk dalam wilayah Kota Bandung.

Sekelumit Permasalahan yang Masih Tersisa di Bandung Timur

mengais rezeki dari timur ke barat

Terlepas dari kian masifnya pembangunan infrastruktur, tetap ada sekelumit permasalahan yang perlu diperhatikan apabila kamu berencana tinggal di Bandung Timur.

Salah satunya terkait banjir karena beberapa kawasan Bandung Timur merupakan daerah langganan banjir, terlebih wilayah Gedebage dan sekitarnya.

Sialnya, komplek perumahan tempat tinggal saya ada di kawasan Gedebage, yang sudah jelas dan tak diragukan lagi berstatus daerah langganan banjir.

Permasalahan banjir sejatinya merupakan hal biasa bagi kami.

Menurut cerita bapak, dari dulu daerah tempat tinggal kami memang sudah jadi langganan banjir.

“Baru seminggu pindah saja, sudah langsung disambut banjir,” kata bapak.

Jadi, bagi saya dan keluarga, banjir itu seperti event tahunan yang nggak ditunggu-tunggu juga.

Biar bagaimana, tinggal di kawasan langganan banjir bukan kebanggaan karena jelas menyusahkan.

Selain karena harus kerja bakti membersihkan seisi rumah yang kemasukan air, beberapa kali juga kami harus mengikhlaskan hilangnya sejumlah barang seperti baju, jaket, atau sepatu karena digondol maling saat dijemur.

Bahkan, jika banjir besar terjadi di sekitaran perempatan Gedebage, sudah bisa dipastikan kemacetan parah terjadi di sepanjang simpang Jalan Soekarno Hatta-Gedebage.

Meski begitu, tetap ada hikmah dari banjir yang hampir setiap tahun menyapa.

Setidaknya, kalau kebanjiran kami jadi punya alasan untuk nggak sekolah atau berangkat ngantor.

Sampai saat ini, banjir masih menjadi salah satu permasalahan yang terjadi di Bandung Timur.

Pemkot Bandung sejatinya terus melakukan ikhtiar untuk menangani permasalahan tersebut.

Beberapa upaya dilakukan, seperti pembangunan kolam retensi di kawasan Pasar Induk Gedebage dan penyediaan rumah pompa di beberapa perumahan, termasuk perumahan tempat tinggal saya.

Harus diakui, upaya-upaya tersebut memang belum berhasil membuat sejumlah titik di kawasan Bandung Timur terbebas dari genangan banjir ketika curah hujan cukup tinggi.

Namun, kehadiran kolam retensi dan rumah pompa terbilang efektif dalam menghilangkan dampak dari banjir itu sendiri.

Keduanya cukup efektif dalam menghilangkan genangan banjir secara cepat, sehingga bisa mengurangi efek domino dari banjir, yang salah satunya adalah kemacetan parah.

Baca juga: 7 Keuntungan Membeli Ruko Dijual di Bandung

Mengais Rezeki dari Timur ke Barat

potret bandung timur

Selain banjir, permasalahan lain yang agaknya lumrah dihadapi oleh sebagian warga Bandung Timur, termasuk saya adalah jauhnya jarak rumah dengan tempat kerja.

Saya adalah pegawai medioker yang berkantor di daerah barat Kota Bandung.

Untuk sampai ke kantor, saya harus menempuh perjalanan selama 45 menit hingga 60 menit dengan memacu kendaraan roda dua.

Bukan hanya soal jarak dari rumah ke kantor yang lumayan jauh, permasalahan lain yang harus dihadapi adalah berjibaku dengan kemacetan.

Apalagi jika sudah berhadapan dengan lampu merah “penguji iman” di persimpangan Jalan Soekarno Hatta-Kiaracondong-Buah Batu.

Stopan yang dijuluki sebagai “lampu merah terlama di Indonesia” itu, memang memiliki durasi lampu merah yang cukup menguji kesabaran, sekitar lebih kurang 5 menit.

Jadi, selain modal bensin yang cukup, diperlukan juga kesabaran ekstra apabila melintas di spot lampu merah tersebut.

Sebenarnya, untuk warga Bandung Timur yang senasib dengan saya, ada beberapa solusi untuk menghindari kemacetan di jam-jam sibuk.

Pertama, melewati beberapa titik jalan alternatif-yang untungnya ada banyak.

Solusi kedua, bisa nongkrong dulu di kantor, dan pulang setelah pukul 19:00 WIB.

Biasanya, pada jam tersebut kondisi lalu lintas di jalan utama sudah mulai “waras”.

Terakhir, memanfaatkan transportasi umum seperti kereta api.

Sebenarnya, saya ingin pergi ngantor dengan kereta api saja, mengingat jarak rumah dengan Stasiun Cimekar yang sangat dekat. Selain itu, lebih menghemat tenaga juga.

Namun, masalahnya akses kendaraan umum dari kantor ke stasiun terbilang cukup susah. Jadi, kalau mau gampang harus naik ojek online, yang membuat jatah pengeluaran harian membengkak.

Meski begitu, saya pribadi tetap masih memprioritaskan Bandung Timur sebagai pilihan tempat tinggal, sebab ini adalah kawasan berkembang  yang sangat prospektif sebagai hunian.

Jadi, kalau saya punya rezeki untuk bisa beli rumah sendiri, prioritasnya tetap di Bandung Timur.

Selain agar bisa dekat sama orang tua, alasannya adalah proses pembangunan daerah tersebut juga masih terus berjalan.

Baca juga: Cari Rekomendasi Apartemen di Bandung? Ini 7 Pilihannya

 

Septian Nugraha adalah jurnalis dan content writer berpengalaman. Lama berkarier sebagai jurnalis olahraga, khususnya dalam bidang sepak bola untuk sejumlah media massa besar di Indonesia. Di antaranya adalah Harian Olahraga TopSkor (skor.id), panditfootball.com, CNN Indonesia, dan kompas.com. Per Februari 2022, Septian memutuskan bergabung bersama 99 Group Indonesia, untuk berkarier sebagai property content writer.