
Investasi properti atau emas masih menjadi pilihan favorit masyarakat Indonesia, terutama jika ingin melakukan store of value.
Kedua aset tersebut bisa dikategorikan sebagai store of value (penyimpan nilai), karena bisa mempertahankan nilainya dari waktu ke waktu, tidak mudah tergerus inflasi, dan bisa dipertukarkan atau dijual kembali tanpa kehilangan nilai secara signifikan.
Namun tentu saja, kedua aset itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya, properti yang bisa dibuat produktif dengan cara disewakan atau emas yang sifatnya lebih likuid karena bisa cepat dijual.
Di bawah ini, kami akan membahas kelebihan dan kekurangan dari investasi properti atau emas.
Perlu digarisbawahi, tulisan pada artikel ini bukan merupakan ajakan jual atau beli aset investasi tertentu, tapi merupakan edukasi agar kamu semakin paham.
Keputusan pembelian aset investasi sebaiknya didasari oleh riset mendalam dan pemahaman mengenai risikonya.
Apa Itu Investasi Properti?

Investasi properti adalah kegiatan membeli bangunan atau tanah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.
Keuntungan tersebut umumnya diperoleh melalui dua hal, yakni kenaikan harga (capital gain) dan disewakan atau dibuat produktif.
Properti, terutama yang berada di lokasi strategis yang terus berkembang, biasanya akan mengalami kenaikan harga seiring berjalannya waktu.
Jadi, investasi properti bukan merupakan investasi jangka pendek, tapi jangka panjang.
Lalu, tidak semua properti cocok untuk disewakan. Biasanya, properti yang bisa dibuat produktif adalah apartemen, rumah, gudang, kos-kosan, atau ruang kantor.
Nantinya, investor properti akan menerima pendapatan pasif secara bulanan atau tahunan.
Baca juga: Sebelum Berinvestasi Properti Syariah, Ketahui Hal-Hal Ini
Apa Itu Investasi Emas?

Investasi emas adalah kegiatan emas, biasanya dalam bentuk emas batangan atau emas logam mulia, lalu menyimpannya dengan tujuan nilainya naik di masa depan.
Adapun kenaikan emas umumnya disebabkan karena sifatnya yang terbatas, lalu banyak orang ingin memilikinya saat kondisi ekonomi tidak pasti, inflasi tinggi, atau nilai mata uang melemah..
Jika melihat performa masa lalunya, harga emas memang mengalami tren kenaikan dalam jangka panjang.
Apalagi ketika dilepaskannya standar emas oleh AS tahun 1971, yaitu saat dolar tidak lagi dijamin oleh emas.
Rata-rata imbal hasil (return) emas secara global dalam jangka panjang adalah sekitar 7–8 persen per tahun dalam USD.
Nah, karena di Indonesia ada pelemahan rupiah terhadap dolar, return emas dalam rupiah bisa lebih tinggi, sekitar 9-12 persen per tahun.
Namun, emas tidak selalu naik setiap tahun. Ada masa ketika harga emas stagnan atau bahkan turun selama bertahun-tahun.
Contohnya, pada periode 2020–2022, harga emas cenderung stagnan di sekitar $1,800–$2,000.
Baca juga: Cocok Jadi Investasi, Segini Harga Rumah Tipe 36 Sekarang
Kelebihan dan Kekurangan Investasi Properti
Kelebihan
- Nilainya cenderung naik dalam jangka panjang
- Dapat memberikan penghasilan pasif (sewa)
- Bisa dimanfaatkan secara langsung (ditinggali atau digunakan)
- Lebih tahan terhadap inflasi
- Aset fisik yang terlihat dan jelas kepemilikannya
Kekurangan
- Modal awal besar (tidak terjangkau semua orang), kecuali properti yang sudah ditokenisasi dengan bantuan blockchain
- Tidak likuid (butuh waktu dan proses untuk dijual)
- Biaya perawatan, pajak, dan legalitas cukup tinggi
- Risiko lokasi: jika lingkungan kurang berkembang, nilainya stagnan
- Bisa terdampak bencana atau perubahan tata kota

Kelebihan dan Kekurangan Investasi Emas
Kelebihan
- Nilainya stabil dan tahan terhadap inflasi
- Mudah dijual dan dibeli (likuid)
- Bisa disimpan dalam jumlah kecil maupun besar
- Tidak perlu biaya perawatan
- Cocok sebagai alat diversifikasi dan lindung nilai saat krisis
Kekurangan
- Tidak menghasilkan pendapatan pasif (seperti sewa atau dividen), kecuali dimasukkan dalam sistem deposito
- Harga bisa stagnan atau turun dalam jangka pendek
- Rentan terhadap pencurian jika tidak disimpan dengan aman
- Ada selisih jual-beli (spread) yang bisa cukup tinggi
- Pengaruh dari nilai tukar (terutama di Indonesia, karena harga emas mengikuti dolar AS)
Dari rincian di atas, lantas siapa saja yang cocok investasi properti atau emas? Berikut penjelasannya.
Baca juga: Panduan Investasi Properti | Definisi hingga Keuntungannya

Siapa Saja yang Cocok Investasi Properti?
Investor Bermodal Besar
Pertama, orang yang cocok berinvestasi properti adalah investor yang punya modal besar.
Itu karena, dibutuhkan dana awal yang besar untuk membeli rumah, ruko, atau tanah.
Investor Jangka Panjang
Properti cocok untuk investor jangka panjang yang tidak terburu-buru ingin menjual atau mendapat untung cepat.
Pasalnya, nilai properti biasanya naik dalam jangka waktu bertahun-tahun.
Jadi, sebelum membeli properti, pastikan investor sudah memiliki cukup dana untuk tabungan, dana darurat, dan kebutuhan proteksi (asuransi).
Pencari Penghasilan Pasif
Investasi properti cocok untuk pensiunan, karyawan, atau pengusaha yang ingin cash flow tambahan.
Properti bisa disewakan dan menghasilkan uang rutin, terutama untuk properti rumah sewa, kos-kosan, apartemen, ruko, dan gudang.
Pencari Aset Aman dan Nyata
Aset properti bersifat fisik dan nilainya cenderung stabil.
Berinvestasi properti cocok untuk yang kurang nyaman dengan risiko tinggi di pasar saham atau kripto.
Pemilik Lahan atau Warisan
Jika kamu mendapatkan aset warisan berupa tanah atau bangunan, investasi properti tentu bisa lebih murah dan mudah dimulai.
Kamu bisa memanfaatkan aset warisan tersebut.
Baca juga: 7 Cara Investasi Emas bagi Pemula yang Aman dan Menguntungkan
Siapa Saja yang Cocok Investasi Emas?
Orang yang Ingin Lindung Nilai (Hedge) dari Inflasi
Emas merupakan aset yang stabil ketika harga-harga naik atau terjadi inflasi tak terkendali.
Emas menjaga nilai kekayaan dari penurunan daya beli uang.
Investor Konservatif
Investasi emas cocok untuk investor yang tidak menyukai risiko tinggi atau fluktuasi ekstrem seperti saham atau kripto.
Pemilik Dana Darurat atau Tabungan Jangka Menengah
Biasanya, investor menyimpan dana darurat dalam bentuk cash atau reksadana pasar uang.
Namun, sah-sah saja jika ingin menyimpan dana darurat dalam bentuk emas asalkan mengetahui naik turun harganya.
Emas mudah dicairkan (likuid), cocok sebagai cadangan saat butuh dana cepat.
Orang yang Khawatir Krisis Ekonomi atau Politik
Ketika ekonomi tidak menentu, emas bisa dianggap sebagai aset “safe haven”.
Emas bisa menjaga aset saat krisis global atau ketegangan geopolitik.
Investor yang Ingin Diversifikasi Portofolio
Jika portofolio investasimu terlalu fokus di saham atau properti, emas bisa berperan sebagai penyeimbang.
Diversifikasi ini cocok untuk investor berpengalaman yang ingin mengurangi risiko keseluruhan.
Pemula yang Baru Belajar Investasi
Investasi emas bisa dimulai dari nominal kecil. Tidak hanya emas fisik, sekarang tersedia juga opsi emas digital atau tabungan emas.
Emas cocok untuk anak muda, mahasiswa, atau karyawan baru yang baru belajar investasi.
***
Itulah pembahasan seputar kelebihan dan kekurangan antara investasi properti atau emas.
Memilih antara investasi properti atau emas bergantung pada tujuan keuangan, modal, dan profil risiko masing-masing orang.
Properti cocok untuk yang siap berinvestasi jangka panjang dan mengelola aset fisik, sementara emas lebih pas untuk yang ingin lindung nilai dan kemudahan likuiditas
Tidak ada pilihan yang mutlak lebih baik.
Namun yang terpenting, adalah memahami karakteristik keduanya dan menyesuaikannya dengan strategi keuangan pribadi.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran keuangan profesional. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi. Sebaiknya konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi, terutama jika menyangkut jumlah dana yang besar atau risiko yang tinggi.