Mengenal Arsitektur Vernakular, dari Unsur hingga Perannya

6 Jul 2020 - Miyanti Rahman

Mengenal Arsitektur Vernakular, dari Unsur hingga Perannya

Istilah arsitektur vernakular tentu sudah sering didengar oleh telinga mereka yang berkutat di dunia arsitektur.

Namun asing bagi masyarakat awam, karena istilah arsitektur vernakular terdengar sangat teoretis.

Kendati demikian, istilah arsitektur vernakular patut untuk dipahami, apalagi dalam praktiknya banyak diterapkan di Indonesia.

Jadi, jika Anda berminat untuk berkecimpung di dunia bisnis properti, maka tidak ada salahnya memahami definisi arsitektur vernakular.

Definisi dan Perbedaan Arsitektur Vernakular dengan Arsitektur Tradisional

Definisi Arsitektur Vernakular

Kata vernakular dalam istilah arsitektur vernakular berasal dari Bahasa Latin, vernaculus yang artinya lokal, domestik atau asli pribumi.

Jika didefinisikan secara luas, maka arsitektur vernakular adalah teori arsitektur yang mempelajari bangunan yang dibuat oleh penduduk asli.

Teori tentang arsitektur vernakular sendiri sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi istilahnya baru digunakan secara eksplisit pada 1818.

Berdasarkan teori  arsitektur vernakular, penduduk asli menyusun bangunan tanpa campur tangan profesional.

Kendati demikian, saat ini sudah banyak arsitek yang merancang karyanya dengan mengadopsi gaya arsitektur vernakular.

Gaya arsitektur vernakular sendiri secara orisinal menyesuaikan dengan kondisi alam dan keunikan budaya setempat.

Selain itu, penduduk asli menyusun bangunan hanya dengan menggunakan teknik dan bahan bangunan yang ada di lingkungan sekitar.

Bangunan yang disusun (biasanya tempat tinggal) sangat bergantung kepada kemampuan desain dan kebutuhan penduduk asli tersebut.

Perbedaan Arsitektur Vernakular dengan Arsitektur Tradisional

Berdasarkan penjelasan definisi di atas, arsitektur vernakular mencerminkan arsitektur primitif, asli, leluhur, adat dan atau etnis.

Namun arsitektur vernakular tidak bisa disamakan dengan arsitektur tradisional, meskipun keduanya memiliki akar makna yang hampir mirip.

Keduanya sering dikaitkan dengan konsep dan desain bangunan yang bersentuhan dengan aspek budaya, genius lokal dan lain sebagainya.

Kata tradisional sendiri berasal dari Bahasa Latin, traditionem dari traditio yang artinya serah terima, memberikan dan estafet.

Menurut Suharjanto (2011), arsitektur vernakular adalah bentuk karya orisinal yang sangat spesifik.

Arsitektur vernakular mengandung filosofi lokal yang sangat kuat dan bersifat kontekstual sesuai dengan zamannya.

Sementara arsitektur tradisional adalah maha karya vernakular yang diakui secara lisan dan turun temurun.

Pengakuan terhadap maha karya vernakular tersebut bertahan dalam rentang waktu yang lama, bahkan sangat lama.

Unsur-unsur Arsitektur Vernakular


Arsitektur vernakular tidak dapat dilepaskan dari aspek teknis, budaya, dan lingkungan, sedangkan unsur pembentuknya terdiri dari dua unsur.

Kedua unsur arsitektur vernakular ini saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain.

Adapun yang dimaksud kedua unsur tersebut, yaitu unsur bentuk pada ranah fisik dan unsur makna pada ranah abstrak.

Unsur Bentuk pada Ranah Fisik

Unsur bentuk tidak dapat dilepaskan dari dunia arsitektur, termasuk arsitektur vernakular.

Pasalnya, bentuk merupakan media komunikasi yang bisa menyampaikan makna dan maksud seorang arsitek.

Pada bangunan arsitektur vernakular tentu saja arsiteknya adalah penduduk asli sendiri.

Oleh karena itu, unsur bentuk harus bisa didefinisikan dengan baik sehingga berperan dari segi fungsi, simbol, geografis dan teknologi.

Unsur bentuk pada ranah fisik arsitektur vernakular bisa dipahami dari wujud bangunan.

Selain wujud, unsur bentuk yang perlu dipahami, yaitu warna, tekstur, dan proporsi bangunan.

Unsur bentuk pada ranah fisik bisa dibilang unsur yang paling menonjol dibanding unsur kedua.

Unsur Makna pada Ranah Abstrak

Unsur makna pada ranah abstrak arsitektur vernakular bisa diungkapkan secara verbal atau melalui bahasa, juga melalui benda atau tanda.

Makna merupakan alat untuk melihat, memahami dan mengartikan lambang atau simbol, semua indera bisa digunakan untuk memahaminya.

Adapun unsur makna yang bisa diungkap oleh indera penglihatan, biasanya melalui bentuk, warna, pencahayaan dan tekstur. 

Menurut teorinya, makna sendiri dibagi menjadi dua, yaitu makna objektif dan makna responsif atau subjektif.

Makna objektif merupakan makna yang muncul dari luar dan berkaitan dengan objek, kejadian dan sebagainya.

Sementara makna-makna subjektif merupakan makna yang berkaitan dengan faktor internal pengamat dan ditangkap oleh perasaannya sendiri.

Pada arsitektur vernakular makna tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tentang simbol sebagai media fisik.

Peran Arsitektur Vernakular

Sudah disebutkan bahwa arsitektur vernakular sendiri sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sejak pra-sejarah.

Konsep tentang arsitektur vernakular tidak hanya hadir di Nusantara, tetapi di seluruh penjuru dunia.

Setiap negara memiliki karakteristik masing-masing terkait bangunan arsitektur vernakularnya.

Karakteristik tersebut tentunya sesuai dengan tradisi dan kondisi lingkungan di mana arsitektur vernakular itu berkembang.

Arsitektur vernakular memiliki peran yang sangat penting di dunia arsitektur dan kehidupan masyarakat saat ini.

Melalui arsitektur vernakular seorang arsitek bahkan masyarakat awam bisa mengetahui bagaimana adaptasi penduduk asli terhadap alam.

Dengan begitu, kita pun belajar menanggulangi iklim dan bencana dari cara mereka membangun tempat tinggal.

Melalui arsitektur vernakular jugalah penduduk asli mengajarkan kita cara memanfaatkan potensi lokal untuk bahan bangunan.

Para profesional bangunan saat ini tentunya bisa mendapatkan insight yang bagus dari kehadiran arsitektur vernakular.

Insight tersebut bisa saja diterapkan di bangunan-bangunan modern apabila masih relevan.

Rumah Adat dengan Arsitektur Vernakular


Seperti yang sudah dijelaskan bahwa arsitektur vernakular mencerminkan arsitektur primitif, asli, leluhur, adat dan atau etnis.

Indonesia merupakan gudangnya bangunan arsitektur vernakular, karena memiliki berbagai macam rumah adat.

Jika dihitung, maka jumlahnya sangat banyak, karena rumah adat tersebut terdapat di berbagai daerah yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Rumah Sasak

Rumah Sasak merupakan bangunan arsitektur vernakular yang dibangun oleh penduduk asli Pulau Lombok.

Melalui bangunan arsitektur vernakularnya, penduduk asli Pulau Lombok merefleksikan kepercayaan Islam dan praktik animisme.

Rumah Sasak juga mencampurkan tradisi Pulau Bali dan tradisi masyarakat Indonesia bagian timur.

Jika dilihat dari luar, struktur atap Rumah Sasak mirip dengan atap Rumah Joglo yang dibangun oleh penduduk asli Pulau Jawa.

Rumah Bali

Bangunan arsitektur vernakular Rumah Bali merefleksikan kepercayaan Hindu-Buddha dari Jawa Timur atau disebut juga Bali baru.

Kala itu penduduk asli Jawa Timur bermigrasi ke Pulau Bali untuk menghindari dominasi raja-raja Islam.

Kendati demikian, tradisi Bali lama dan langgam bangunan tetap dipraktikkan oleh masyarakat yang mendiami daerah pegunungan.

Oleh karena itu, bangunan arsitektur vernakular Rumah Bali terbagi menjadi dua.

Rumah Honai

Contoh selanjutnya adalah rumah adat Papua yang dikenal dengan Rumah Honai.

Dibangun oleh penduduk asli Irian Jaya alias Papua yang mendiami daerah pegunungan, Rumah Honai terdiri dari dua lantai.

Biasanya lantai pertama untuk kamar, sementara lantai kedua untuk tempat beraktivitas, santai dan lain-lain.

Bangunan arsitektur vernakular penduduk asli Papua ini menggunakan bahan bangunan dari kayu.

Sementara atapnya yang berbentuk kerucut terbuat dari tumpukan jerami atau ilalang yang disusun sedemikian rupa.


Selain tiga contoh di atas, Indonesia masih memiliki banyak bangunan arsitektur vernakular rumah adat lainnya.

Gaya arsitektur vernakular sederet rumah adat tersebut banyak mengilhami gaya arsitektur bangunan rumah tapak di Indonesia saat ini.

Anda tertarik memiliki rumah tapak yang menerapkan gaya arsitektur vernakular? 

Yuk, jelajahi saja informasi rumah dijual di 99.co Indonesia.

Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda seputar dunia properti!

Author:

Miyanti Rahman