Ingin Membangun Rumah Anti Tanah Longsor? Ketahui Hal-Hal Berikut Ini

23 Jul 2019 - Yuhan Al Khairi

Ingin Membangun Rumah Anti Tanah Longsor? Ketahui Hal-Hal Berikut Ini

(Photo: Shutterstock)

Fenomena tanah longsor merupakan bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia. Tingginya curah hujan di tanah air membuat beberapa daerahnya menjadi rawan terkena bencana yang satu ini.

Seperti dikutip Okezone, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang Januari-Juni 2019 saja, sudah terjadi sekitar 2.047 bencana alam di Indonesia.

Terdapat, 366 orang meninggal, 24 orang hilang, 1.497 luka-luka, serta 1.633.702 orang mengungsi, yang mayoritas disebabkan oleh bencana banjir dan tanah longsor.

Sebut saja seperti banjir dan longsor di Sulawesi Selatan pada bulan Januari kemarin, kasus di Sentai di bulan Maret, serta bencana di kabupaten/kota di Bengkulu pada April 2019 silam.

Ketiga kasus ini bukan hanya menelan korban jiwa, namun juga kerugian materil yang sangat besar.

Maka dari itu, sebagai negara yang kerap diterpa bencana longsor, sudah sewajarnya kita mempersiapkan diri dalam menghadapi masalah ini, dengan mengetahui seluk-beluk mengenai tanah longsor.

Untuk lebih jelasnya, simak penjabaran di bawah ini.

Mengenal Tanah Longsor

Meskipun sering mendengar istilah yang satu ini, namun tidak banyak di antara kita yang mengetahui, apa sih sebenarnya pengertian tanah longsor?

Tanah longsor merupakan suatu perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, dan tanah yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. 

Proses terjadinya tanah longsor diakibatkan oleh air yang meresap ke dalam tanah, sehingga membuat bobot dari tanah menjadi bertambah.

Jika air tersebut meresap ke dalam bagian tanah kedap air – yang berfungsi sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi lebih licin dan lapuk, sehingga bergerak keluar lereng.

Dari pengertian tanah longsor di atas, dapat diketahui bahwa fenomena ini rentan terjadi pada wilayah-wilayah yang memiliki kontur berbukit dan pegunungan, dengan lereng-lereng yang curam.

Selain di wilayah tersebut, bencana alam yang satu ini juga kerap terjadi pada lahan pertanian dan perkebunan yang posisinya terletak di dataran miring.

Setelah mengetahui pengertian tanah longsor, saatnya kita membahas hal-hal yang dapat menyebabkan bencana tersebut bisa terjadi. Berikut selengkapnya.

Penyebab Tanah Longsor


(Photo: Pixabay)

Bencana tanah longsor tidak bisa terjadi begitu saja, terdapat dua faktor utama yang disinyalir menjadi penyebab terjadinya bencana alam yang satu ini, yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu.

Faktor pendorong adalah faktor yang mempengaruhi suatu material, sehingga material tersebut terdorong untuk bergerak keluar lereng.

Sedang kedua, faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan material tersebut bergerak hingga terjadi tanah longsor. Selain faktor di atas, terdapat faktor lain yang merupakan penyebab tanah longsor, seperti:

  1. Intensitas Hujan yang Tinggi

Penyebab tanah longsor yang pertama, merupakan penyebab yang mungkin paling sering kamu dengar.

Wajar saja, pasalnya, ketika musim kemarau tiba, kondisi tanah menjadi kering sehingga membentuk pori-pori atau rongga pada tanah. Pori-pori itu kemudian menyebabkan keretakan pada permukaan tanah.

Lantas, ketika musim penghujan tiba, air hujan secara otomatis masuk ke dalam rongga tanah yang telah terbuka. Hal ini membuat tanah jadi erosi dan dipenuhi oleh air, hingga rentan bergeser dan longsor.

  1. Gempa Atau Getaran

Iya, sebagai negara dengan gunung berapi aktif terbanyak di dunia, Indonesia juga memiliki potensi bencana gempa yang cukup besar.

Oleh sebab itu, sering kali ditemui ketika gempa berlangsung, secara bersamaan di wilayah lereng gunung terjadi fenomena tanah longsor.

  1. Penebangan Pohon

Maraknya penebangan pohon secara ilegal yang terjadi di Indonesia juga menjadi penyebab tanah longsor. Sebab, pohon sendiri berfungsi sebagai penyimpan air dan memperkuat struktur tanah.

Jika pohon di hutan gundul, maka tidak ada lagi media yang bisa menampung derasnya air hujan. Apabila hal tersebut terjadi, permukaan tanah di sekitarnya akan rapuh dan mudah terjadi longsor.

  1. Penataan Lahan Pertanian yang Buruk

Tata letak wilayah juga sangat mempengaruhi terjadinya tanah longsor. Sebab, tanaman pertanian dan perkebunan memiliki akar yang kecil dan tidak cukup kokoh untuk menjaga struktur tanah tetap kokoh.

Oleh karenanya, sebaiknya hindari membuka lahan pertanian dan perkebunan di daerah lereng gunung. Meski lahan tersebut subur, namun hal ini bisa menjadi penyebab tanah longsor.

Cara Membuat Rumah Tahan Longsor

Setelah mengetahui lebih dalam mengenai tanah longsor, saatnya kita membahas bagaimana caranya membangun rumah yang tahan akan terpaan tanah longsor.

Secara garis besar, posisi dan konstruksi rumah juga sangat mempengaruhi besar kecilnya dampak longsor terhadap hunianmu.

Maka dari itu, sebagai langkah pencegahan, hindari membangun rumah di area bawah atau dekat tebing. Pasalnya, kontur tanah di area tersebut cenderung labil dan tidak landai, sehingga rentan terjadi longsor.

Namun, apabila hal tersebut tidak dapat dihindari, maka ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan sebagai cara membuat rumah anti longsor.


(Photo: Pexels)

  1. Teknik Konstruksi Soil Nailing

Jika secara posisi lahan rumahmu termasuk rawan longsor, maka teknik soil nailing bisa kamu aplikasikan untuk meminimalisir dan mencegah terjadinya longsor.

Soil nailing adalah teknik pengokohan tanah in-situ untuk menjaga kestabilan galian lahan, dengan cara memasukkan besi beton ke permukaan tanah hingga membuat tanah tersebut lebih stabil.

Caranya, dengan mengebor permukaan tanah ke dalam secara miring, lalu dimasukkan besi beton berukuran kecil, dan ditambal dengan campuran semen.

Hal ini dimaksudkan, agar air yang masuk ke dalam tanah nantinya akan tertahan oleh besi beton yang telah ditanam ke dalam tanah.

Sedikit tips, jika daerah rumahmu memiliki curah hujan yang cukup tinggi atau volume airnya terlalu besar, maka gunakan material besi beton dari plastik, untuk menghindari besi cepat berkarat.

  1. Teknik Sheet Pile

Selain teknik konstruksi soil nailing, teknik sheet pile juga dapat menjadi alternatif dalam membangun rumah anti tanah longsor.

Namun, berbeda dengan soil nailing, teknik sheet pile biasanya digunakan pada konstruksi berat atau bangunan tinggi, yang dirancang dengan tulangan untuk menahan beban permanen setelah konstruksi.

Sheet pile atau dinding turap adalah dinding vertikal berdimensi relatif tipis, yang berfungsi untuk membendung tanah dan masuknya air ke dalam lubang galian.

Terdapat tiga jenis turap yang memiliki fungsi dan sifatnya masing-masing, yaitu Turap Kayu, Turap Beton, dan Turap Baja.

Beda lokasi, kontur tanah, dan struktur bangunan, maka berbeda pula jenis turap yang dipakai. Maka, berdiskusi lah lebih dulu dengan ahli konstruksi ketika kamu ingin membangun rumah anti tanah longsor.

  1. Menggunakan Bronjong

Meski terdengar asing, namun kamu pasti pernah melihat teknik konstruksi yang satu ini. Bronjong atau biasa disebut gabion, merupakan sebuah konstruksi dasar untuk sebuah bangunan atau tanggul.

Bentuknya berupa anyaman  kawat baja yang dibuat dengan teknik lilitan ganda yang membentuk lubang-lubang hingga tercipta seperti segi enam.

Bagian dalamnya diisi dengan batuan berukuran besar untuk mencegah erosi tanah. Biasanya, bronjong ditemukan pada area tebing atau tepian sungai yang tanahnya relatif labil.

Nah, metode konstruksi anti tanah longsor ini dikenal ampuh karena memiliki sifat yang lebih fleksibel dibandingkan model konstruksi lainnya.

Hal tersebut membuat bronjong bisa mengikuti pergerakan tanah yang ada di bawahnya tanpa harus merusak konstruksi dasar bangunan.

Keunggulan kedua, tumpukan batu yang terdapat di dalam bronjong memungkinkan air untuk dapat mengalir di sela-selanya. Sehingga, tekanan tanah akan berkurang dan meminimalisir risiko tanah longsor.

Secara umum, itu tadi tiga model konstruksi yang dapat kamu terapkan dalam membangun rumah anti tanah longsor.

Selain konstruksi, bangunan rumah juga harus dibangun secara permanen. Hindari membangun rumah jenis semi permanen, sebab biasanya lebih ringkih dan tidak kokoh.

Semoga informasi di atas bermanfaat. Selamat mencoba!

Author:

Yuhan Al Khairi