Pesona Arsitektur Rumah Apung di Indonesia

1 Jul 2020 - Dyah Siwi Tridya

Pesona Arsitektur Rumah Apung di Indonesia

foto: pinterest

Rumah apung dianggap sebagai hunian yang unik. Konsep rumah apung sendiri dapat dijumpai di berbagai daerah bantaran laut atau sungai yang ada di Indonesia. 

Di negara lain rumah apung dibuat untuk mengatasi permasalahan banjir. 

Selain konsep rumah apung dapat diadopsi untuk daerah perkotaan yang dekat dengan sungai atau laut. 

Karena harga rumah yang mahal dan ketersediaan lahan semakin sedikit.

Sekarang ini banyak arsitektur yang mendesain rumah apung dengan harga yang murah serta fondasi yang kuat. Selain itu rangka beton dan kaca dapat bertahan lama. 

Perkembangan konsep rumah apung sudah ada dari zaman kerajaan. 

Memiliki banyak rumah apung yang beraneka ragam, untuk sebutannya pun berbeda disetiap wilayah. 

Ada yang menyebut rumah apung sebagai rumah rakit di Palembang. Jika di Kalimantan disebut dengan rumah lanting.

Arsitektur Unik Rumah Rakit di Sumatera Selatan


foto: wisatalengkap

Rumah rakit sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang. Rumah rakit dibangun khusus untuk orang-orang asing yang datang dan menetap di Palembang.

Saat itu pendatang yang menetap di Palembang berasal dari Cina, Belanda, Arab dan Persia. 

Dan semua pendatang kecuali bangsa Arab, tidak diperbolehkan untuk membangun rumah di darat.

Tujuannya adalah agar memudahkan kesultanan Palembang untuk mengatur dan mengontrol gerak-gerik warga asing. 

Jika terdapat tindakan yang mencurigakan maka tali pengikat rumah akan dipotong dan membuat rumah hanyut terbawa arus.

Rumah rakit saat itu didominasi oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Maka banyak arsitektur rumah rakit terpengaruh oleh budaya Cina.

Rumah rakit dibangun di sepanjang pinggiran Sungai Musi, Sungai Ogan, Sungai Komering.

Desain Rumah Rakit

Pondasi

Rumah rakit memiliki banyak ukuran mulai dari 36 sampai 64 meter persegi. Rumah rakit terbuat dari kayu dengan pondasi bambu pilihan. 

Bambu yang dipilih adalah bambu tua, tujuannya agar bertahan lama. Agar bisa mengapung, bambu dibuat seperti lanting atau kumpulan bambu  tua yang terdiri dari 100 bambu. 

Contohnya, jika ingin membuat rumah rakit dengan ukuran 9 x 10 meter maka lanting yang diperlukan sebanyak 7 lanting atau 700 bambu tua. 

Hindari penggunaan bambu yang cacat.

Dinding

Ada perbedaan bahan yang digunakan dalam membangun dinding rumah rakit. 

Di mana kelas menengah ke atas akan menggunakan kayu keras atau papan untuk dindingnya. 

Sedangkan masyarakat kelas bawah menggunakan pelupuh atau bilah bilah bambu yang dipukul hingga pipih untuk dindingnya. 

Untuk tiang di dalam rumah menggunakan kayu jenis trembesi. 

Penyangga

Rumah rakit memiliki 4 sampai 6 penyangga yang ditancapkan di dasar sungai dan diikatkan ke tonggak kayu di pinggir sungai agar rumah rakit tidak terbawa arus atau hanyut.

Struktur Atap Rumah Rakit

Untuk atapnya sendiri memiliki bentuk atap yang khas. terlihat bentuk atap pelana yang melengkung dan simetris. 

Atau ada juga atap berbentuk pelana datar dengan penutup atap dari daun nipah, alang-alang atau ijuk. 

Untuk balok penyangga atap rumah rakit digunakan jenis kayu seru atau medang gatal berkualitas sedang. 

Kayu jenis ini sangat tahan terhadap rayap kayu kering. Tapi jika tidak dirawat dengan benar kayu seru dapat berjamur dan lama kelamaan akan lapuk atau busuk.

Fungsi Rumah Rakit

Rumah rakit memiliki dua pintu yang menghadap ke sungai dan ke darat, fungsinya pun jelas berbeda. 

Untuk rumah yang menghadap ke sungai dikhususkan untuk berdagang seperti warung, bengkel, hingga pom bensin sampai untuk mencari ikan. 

Sedangkan area rumah yang menghadap barat dikhususkan untuk aktivitas ke darat dan rumah tinggal.

Struktur Rumah Lanting di Kalimantan


foto: Antara News

Bicara soal Kalimantan pasti tidak lepas dari sebutan pulau seribu sungai. Apalagi sungai-sungai ini memotong daerah lainnya. 

Untuk rumah apung yang terkenal di Kalimantan adalah rumah lanting banjar atau bisa disebut rumah banjar. 

Rumah banjar ini terletak di pinggir sepanjang sungai Martapura. Hadirnya rumah lanting di Kalimantan terutama di daerah Banjarmasin

Karena menjadi pusat perdagangan. Rumah lanting sendiri terbuat dari kayu, sedangkan bagian bawah menggunakan kayu gelondongan atau bisa dengan drum. 

Pondasi

Material pondasi untuk rumah lanting terdiri dari, bamboo, kayu gelondongan, dan drum besi. 

Pondasi pada rumah lanting berfungsi sebagai pelampung dan penyangga beban dari rumah. 

Sehingga dibutuhkan pondasi yang tepat. Jika menggunakan pondasi drum plastik. Untuk jumlahnya bisa disesuaikan dengan ukuran keseluruhan rumah. 

Ada yang menggunakan 4 sampai 16 drum plastik, caranya drum plastik diikat satu sama lain dengan besi slink untuk memperkuat pondasi.

Rumah lanting dengan pondasi drum plastik biasanya digunakan untuk tempat berdagang.

Untuk material kayu gelondongan, gunakan kayu yang berukuran diameter 1 meter persegi.  

Caranya membuat pondasi sama dengan drum plastik. Penggunaan kayu gelondongan bisa bertahan 50 sampai 60 tahun tergantung  perawatannya.

Selain 2 material diatas, dapat juga menggunakan pondasi berupa bambu untuk rumah lanting. 

Ketahanan pondasi bambu jelas berbeda dengan kayu gelondongan. Material bambu hanya bertahan sekitar dua sampai tiga tahun dan harus melakukan pergantian rutin. 

Untuk jumlah bambu yang digunakan adalah 180 bambu dan dibagi untuk bagian belakang dan bagian depan bangunan. 

Di atas pondasi terdapat sloof atau beton bertulang yang diletakkan secara horizontal di atas pondasi

Fungsinya untuk menyebarkan beban bangunan ke semua titik di pondasi, sehingga tidak ada beban yang berat sebelah. 

Dan gelagar yang menghubungkan bangunan, biasanya digunakan jenis kayu ulin. 

Atap

Untuk atap rumah lanting khas Banjar sendiri menggunakan atap yang berbentuk pelana. Atap jenis pelana ini sangat sesuai karena memiliki berat yang ringan. 

Atap yang digunakan pada rumah lanting kebanyakan menggunakan konstruksi atap bentuk pelana. 

Dan untuk penutup atasnya menggunakan daun rumbia. Tapi dengan seiringnya waktu banyak beralih ke penutup atap seng. 

Selain bentuk pelana ada juga yang menggunakan bentuk perisai, tergantung daerah masing-masing. 

Untuk rangkainya digunakan material kayu ringan seperti kayu lanan. Kayu lanan adalah jenis kayu kelas dua yang sering digunakan masyarakat Kalimantan Selatan untuk konstruksi rumah. 

Kayu ini memiliki karakteristik yang ringan dan elastis, jika dipakai untuk rumah lanting dan tidak membuat beban pada pondasi.

Dinding 

Material rumah lanting yang paling sering digunakan adalah material kayu. 

Dinding rumah lanting menggunakan kayu papan lanan yang harus disusun secara horizontal dan bertumpuk. 

Alasannya untuk menghindari masuknya air ke rumah saat hujan. Dan juga berperan untuk menurunkan kelembaban. 

Sebaiknya jangan terlalu rapat saat menyusun dinding rumah, pastikan ada celah di papan kayu untuk mengurangi kelembaban. 

Selain menggunakan papan lanan, rumah lanting juga menggunakan kayu papan ulin yang cocok untuk mengatasi perubahan iklim di Kalimantan.

Penggunaan kayu ulin karena memiliki tingkat kekuatan dan keawetan yang sangat baik. 

Kayu ulin dikenal cukup tahan terhadap air dan serangan serangga kayu seperti rayap.

Kekayaan dan keanekaragaman budaya Indonesia memang tidak diragukan lagi. 

Ada banyak rumah tradisional yang kini hampir punah, sama seperti rumah apung di berbagai daerah. 

Untuk itu jaga dan lestarikan warisan budaya ya, agar terus terjaga.

Semoga bermanfaat!

Author:

Dyah Siwi Tridya