
photo: pexels.com
Pengertian daya beli masyarakat adalah kemampuan masyarakat (konsumen) untuk membeli barang yang dibutuhkan dan biasanya akan mengalami kondisi berupa peningkatan atau penurunan. Daya beli masyarakat ini terkait erat dengan permintaan.
Dan berikut macam-macam permintaan berdasarkan daya beli masyarakat:
1. Permintaan efektif
Permintaan yang muncul dan disertai dengan kemampuan membayar (punya daya beli).
2. Permintaan potensial
Permintaan yang berasal dari kalangan yang memiliki daya beli, namun belum membeli barang atau jasa tersebut.
3. Permintaan absolut
Kebalikan dari permintaan efektif, di sini permintaan muncul dari mereka yang tidak memiliki daya beli (kemampuan membayar).
Selain berdasarkan daya beli masyarakat, ada pula permintaan berdasarkan jumlah subjek pendukung yakni permintaan individu, yang berasal dari seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan permintaan kolektif alias permintaan pasar yang merupakan kumpulan dari permintaan para individu.
Di 2020, Daya Beli Masyarakat Indonesia Diprediksi Lesu
photo: pexels.com
Baru-baru ini ahli memprediksi bahwa daya beli masyarakat Indonesia 2020 akan melemah, khususnya menjelang Bulan Ramadhan dan Lebaran tahun ini.
Tapi ada pula kemungkinan lain yang akan terjadi jelang momen besar setiap tahun ini yaitu daya beli masyarakat bisa saja stabil, namun justru pasokannya yang terhambat.
Sebenarnya, sebelum memasuki tahun 2020 ini, daya beli masyarakat Indonesia 2019 juga sudah memperlihatkan penurunan.
Khususnya di kuartal keempat, dimana konsumsi rumah tangga turun hampir di semua komponen seperti makanan dan minuman, pakaian, hingga jasa perawatan.
Secara umum, sebenarnya perlambatan sektor ekonomi sebuah negara juga tak lepas dari kondisi perekonomian global.
Bagi Indonesia misalnya, perlambatan yang dialami mitra dagang seperti Amerika dan China juga berimbas pada kondisi perekonomian dalam negeri.
Tapi jika kembali melihat ke kondisi dalam negeri, sebenarnya apa ya yang menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat?
Penyebab daya beli masyarakat lesu khususnya di Indonesia belakangan ini dinilai karena peningkatan harga pada beberapa bahan pangan misalnya daging sapi.
photo: unsplash.com
Karena itu pemerintah diminta untuk mengantisipasi dan menyiapkan upaya pengendalian harga terkait kondisi ini, tentunya dengan tujuan agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan jelang Lebaran nanti.
Penurunan yang dialami tahun ini, juga dianggap pengaruh kenaikan sejumlah tarif, misalnya iuran BPJS, tarif jalan tol hingga harga rokok yang khususnya memengaruhi kalangan menengah maupun kalangan bawah.
Bagi mereka yang berpenghasilan kecil, pemotongan subsidi solar dan LPG 3 kg dinilai jadi penyebab daya beli masyarakat rendah. Sementara kalangan menengah, dinilai cukup terpengaruh dengan kebijakan kenaikan iuran BPJS.
Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk melakukan pertimbangan ulang sebelum memberlakukan berbagai kebijakan tersebut. Kalaupun kenaikan tak bisa dihindari, setidaknya tidak diberlakukan dalam waktu yang bersamaan.
Kenaikan harga mungkin memang bisa membantu meningkatkan penerimaan pemerintah, namun berdampak negatif pada tingkat konsumsi masyarakat dan bahkan bisa menekan daya beli masyarakat. Terlebih jika inflasi lebih tinggi dari pendapatan.
photo: pixabay.com
Inflasi sendiri dalam ilmu ekonomi adalah kondisi dimana naiknya harga secara terus menerus yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya konsumsi yang meningkat hingga ketidaklancaran distribusi.
Ada yang beranggapan bahwa untuk menaikkan daya beli masyarakat maka caranya adalah menurunkan tingkat inflasi. Dengan kata lain, ini adalah kondisi dimana terjadi penurunan harga terus menerus dalam satu periode.
Kondisi ini bisa terjadi ketika peredaran mata uang sangat minim biasanya disebabkan oleh beberapa faktor.
Misalnya banyak yang tertarik dengan suku bunga yang tinggi sehingga lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank. Faktor penyebab lainnya adalah:
-
Peningkatan jumlah barang di pasaran sementara permintaan tidak sebanyak itu sehingga akibatnya nilai barang pun menurun
-
Banyak kompetitor yang menghasilkan produk yang sama, sehingga arus jual terus tertekan
-
Menurunnya permintaan barang
Dan dalam ilmu ekonomi, kondisi penambahan nilai mata uang untuk mengembalikan daya beli masyarakat disebut deflasi.
photo: pixabay.com
Meski beberapa orang beranggapan bahwa deflasi akan lebih menguntungkan karena masyarakat bisa memenuhi kebutuhan, dimana harga-harga jadi relatif murah, tapi banyak pula yang meyakini bahwa kondisi ini juga bisa mengacaukan kondisi perekonomian suatu negara.
Bisa dibilang kondisi deflasi ini bisa memberikan imbas positif dan negatif di saat yang bersamaan.
Dampak positif:
a. Membuat masyarakat lebih hemat dengan menabung
b. Nilai mata uang menguat
Dampak negatif:
a. Menurunnya pendapatan perusahaan
b. Pengurangan gaji atau bahkan PHK
c. Merosotnya harga saham terkait dari banyaknya perusahaan yang merugi
Tentunya ada kondisi yang dinilai lebih ideal dalam mengatasi masalah ini. Misalnya dengan pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat dan mengarahkan terciptanya lapangan kerja untuk bisa menaikkan pendapatan masyarakat.
photo: unsplash.com
Ya, daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat pengangguran. Untuk lebih jelasnya, berikut pengaruh tingkat pengangguran pada sektor perekonomian:
1. Menurunkan pendapatan
Karena pengangguran berarti orang yang tidak bekerja dan tidak memiliki pendapatan, menimbulkan kondisi yang jadi penyebab turunnya pendapatan masyarakat secara umum.
Dan otomatis, turunnya pendapatan juga menurunkan daya beli, lalu menurunkan permintaan dan konsumsi serta Gross Domestic Product (GDP).
2. Menurunkan tingkat investasi modal
Kalau bicara GDP, juga tak terlepas dari komponen lainnya yaitu investasi. Artinya jika GDP menurun, maka investasi yang berkolerasi dengan GDP juga akan ikut menurun.
Sederhananya, jika pengangguran tidak memiliki pendapatan, maka mereka tidak bisa menabung (berinvestasi).
3. Menurunkan penerimaan pemerintah
Masih terkait dengan ketiadaan pemasukan, dalam hal ini ketiadaan penerimaan oleh pemerintah di sektor pajak seperti pajak pendapatan.
Jadi jika angka pengangguran tinggi, maka pajak yang akan diterima pemerintah akan turun. Jika penerimaan turun, tentunya pengeluaran pemerintah ikut turun.
Jadi menciptakan peluang kerja bagi pengangguran, juga bisa membantu mengatasi masalah terkait daya beli masyarakat.
photo: pixabay.com
Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan kebijakan bagi mereka yang sudah bekerja. Salah satu cara meningkatkan daya beli masyarakat dalam hal ini adalah memberikan kelonggaran dengan menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Cara ini dinilai efektif dalam menjaga daya beli masyarakat menengah ke atas.