Sistem Utilitas Bangunan yang Wajib Ada di Bangunan Bertingkat

26 Jun 2020 - Miyanti Rahman

Sistem Utilitas Bangunan yang Wajib Ada di Bangunan Bertingkat

Sebelum mencari properti di situs 99.co/id, kenali dulu yuk sistem utilitas bangunan yang harus ada di setiap bangunan bertingkat.

Anda pernah mendengar istilah utilitas bangunan? 

Istilah ini sudah enggak asing lagi bagi mereka yang bekerja di bidang arsitektur dan konstruksi bangunan.

Utilitas bangunan merupakan hal yang wajib diperhatikan sejak awal tahap perencanaan dan perancangan bangunan, terutama bangunan gedung bertingkat.

Pasalnya jika utilitas bangunan pada suatu bangunan tidak lengkap, maka bangunan tidak akan beroperasi dengan baik.

Selain itu, ketidaklengkapan utilitas bangunan juga bisa membahayakan keselamatan penghuni bangunan.  

Lantas, apa itu utilitas bangunan?

Apa Itu Utilitas Bangunan?


Menurut Yoyok Rahayu Basuki, pengertian utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan.

Kelengkapan tersebut digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, kemudahan, komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan.

Sistem utilitas bangunan untuk setiap bangunan memang berbeda-beda sehingga memerlukan pengkajian khusus.

Nah pengkajian khusus tersebut sangat tergantung kepada jenis dan fungsi masing-masing bangunan yang sedang direncanakan.

Contohnya sistem utilitas bangunan untuk gedung rumah sakit, tentu saja berbeda dengan sistem utilitas bangunan untuk gedung hotel, apartemen, atau perkantoran.

Namun meskipun jenis dan fungsinya berbeda, secara garis besar bangunan-bangunan tersebut pasti memiliki sistem utilitas bangunan di bawah ini.

Sistem Utilitas Bangunan


Berikut adalah penjabaran sistem utilitas bangunan yang lazim ditemukan pada bangunan-bangunan bertingkat.

Sistem Plambing dan Sanitasi

Plambing dan sanitasi merupakan bagian dari sistem utilitas bangunan yang harus ada di setiap bangunan, baik itu bangunan bertingkat maupun horizontal.

Sistem ini wajib dirancang untuk mencukupi kebutuhan penghuni bangunan akan transportasi dan suplai air bersih.

Selain itu, sistem utilitas bangunan yang satu ini juga mengatur pengeluaran air ke tempat-tempat yang dilaluinya tanpa pencemaran.

Kebutuhan transportasi dan suplai air bersih penghuni bangunan dapat diperoleh dari beberapa sumber air bersih.

Sumber air bersih tersebut di antaranya mata air, sungai, hujan, dan air dalam tanah yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM).

Adapun yang dimaksud dengan air buangan dalam pengeluaran air, yaitu air bekas buangan, air limbah, air hujan, dan air limbah khusus.

Sistem plambing dan sanitasi yang ideal harus bebas dari kerusakan dan minimal memiliki daya tahan untuk 30 tahun ke depan.

Selain itu, permukaan sistem ini juga harus halus dan tahan air, serta tidak ada bagian-bagian yang bisa menyebabkan kotoran mengendap.

Sistem plambing dan sanitasi yang baik akan memberi perlindungan kesehatan kepada penghuni bangunan maupun lingkungan sekitarnya.

Sistem Pencegah Kebakaran

Bangunan-bangunan tinggi wajib memiliki sistem pencegah kebakaran untuk menghindari korban jiwa dan kerugian harta benda.

Selain itu, juga untuk menghindari terganggunya proses produksi barang dan jasa, serta kerusakan lingkungan gedung.

Terkait dengan sistem pencegah kebakaran ini, jenis-jenis bangunan setidaknya harus memenuhi kriteria struktur utama.

Pada bangunan kelas A struktur bangunan harus tahan terhadap gempuran api minimal selama tiga jam.

Adapun yang termasuk dalam bangunan kelas A, yaitu gedung hotel, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, rumah sakit, dan lain-lain.

Sementara pada bangunan kelas B struktur utama bangunannya harus tahan minimal selama dua jam terhadap kebakaran.

Bangunan kelas B meliputi perumahan bertingkat, asrama, serta fasilitas sosial seperti sekolah dan tempat ibadah.

Ada juga klasifikasi bangunan kelas C yang harus mampu bertahan selama satu jam apabila terjadi kebakaran, yaitu bangunan satu lantai dan sederhana.

Lalu bangunan-bangunan yang tidak termasuk klasifikasi bangunan di atas, maka masuk dalam daftar bangunan kelas D.

Sistem Tata Udara dan Ventilasi

Perancangan sistem tata udara berkaitan dengan pengkondisian lingkungan melalui pengendalian suhu, kelembaban dan arah pergerakan udara.

Selain itu, juga termasuk pengendalian partikel dan pembuangan kontaminan di udara seperti vapors dan fumes.

Sistem tata udara dan ventilasi terdiri dari beberapa alat dan mesin yang masing-masing memiliki fungsi berbeda-beda.

Contoh penerapan sistem ini, yaitu pada pemasangan air conditioner (AC) sebagai alat pendingin ruangan dalam ruangan tertutup.

Seperti yang kita rasakan, AC berfungsi untuk memberikan rasa nyaman dan kesejukan kepada orang-orang di dalam bangunan.

Selain AC, bangunan kelas A biasanya memiliki penghisap asap atau exhaust untuk menjaga sirkulasi udara dalam ruangan agar tetap stabil dan sehat.

Namun perancangan sistem tata udara pada suatu bangunan tidak hanya bergantung kepada penggunaan AC dan exhaust saja.

Ada juga perancangan sistem ventilasi yang dilakukan dengan cara merekayasa arsitektur bangunan untuk melancarkan udara yang keluar masuk ruangan dalam bangunan.

Sistem ventilasi yang baik bisa mengurangi penggunaan AC sehingga energi listrik lebih hemat dan biaya operasional berkurang.

Sistem Pencahayaan dan Elektrikal

Sistem utilitas bangunan selanjutnya yang harus dirancang dengan cermat, yaitu perancangan daya listrik atau pencahayaan.

Perancang bangunan perlu menentukan peletakan titik-titik pencahayaan, elektrikal, dan mekanikal yang tepat sesuai dengan kebutuhan penghuni gedung.

Definisi tepat yang dimaksud, yaitu cahaya yang dihasilkan harus menyebar secara efektif dan efisien ke setiap sudut ruangan.

Sistem ini tidak hanya bergantung kepada keberadaan lampu saja, tetapi juga kepada pengaturan masuk cahaya alami seperti sinar matahari.

Dengan adanya pengaturan masuk cahaya alami, bangunan yang memerlukan banyak lampu bisa lebih hemat energi listrik pada siang hari.

Alhasil biaya operasional bangunan bisa ditekan sedemikian rupa sehingga pengeluaran lebih efektif dan efisien.

Selain itu, sistem daya listrik ini juga meliputi instalasi pemasangan stop kontak, saklar lampu, sekring listrik, ground penangkal petir dan sebagainya.

Adapun sumber daya listriknya biasanya menggunakan generator untuk menghindari pemadaman yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Generator yang digunakan tentunya harus sesuai dengan daya listrik yang dibutuhkan oleh penghuni bangunan.

Sistem Transportasi dalam Bangunan

Pada bangunan bertingkat seperti gedung perkantoran, hotel, dan apartemen sistem transportasi yang memadai mutlak diperlukan.

Sistem utilitas bangunan yang satu ini diperlukan untuk mengangkut penghuni bangunan ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Contoh implementasi dalam sistem transportasi adalah pemasangan alat transportasi vertikal seperti elevator atau lift.

Sementara di gedung-gedung pusat perbelanjaan, alat transportasi yang biasa digunakan adalah eskalator atau disebut juga tangga berjalan.

Alat-alat transportasi dalam bangunan harus diperhatikan dan dirawat secara berkala karena terkait aspek keselamatan nyawa manusia.

Budaya penggunaan sistem transportasi dalam bangunan harus mengutamakan safety meskipun terlihat seperti hal yang sepele.

Perawatan alat-alat sistem transportasi meliputi pengecekan mesin, rantai, dan sistem elektrikal pada elevator atau lift.

Perawatan pada eskalator di gedung-gedung pusat perbelanjaan juga tidak jauh berbeda, yaitu meliputi pengecekan mesin, rantai, dan sistem elektrikal.

Sistem Keamanan

Sistem utilitas bangunan yang tidak kalah penting dan harus diperhatikan adalah perancangan sistem keamanan atau security.

Sistem yang satu ini berguna untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi penghuni gedung dari hal-hal yang berkaitan dengan kriminalitas dan terorisme.

Fungsi lain sistem keamanan bangunan yaitu untuk memaksimalkan pengawasan di sekitar area bangunan.

Dengan adanya pengawasan yang maksimal, berbagai ancaman bahaya pun bisa dihindari seperti kebakaran dan lain-lain.

Contoh implementasi sistem keamanan bangunan meliputi pemasangan kamera CCTV, hydrant, dan tabung pemadam kebakaran.

Selain itu, implementasinya juga termasuk pemasangan smoke detector, extinguisher, sensor detector gate, door emergency dan lain sebagainya.

Nah contoh implementasi sistem keamanan yang disebutkan di atas berkaitan dengan alat-alat keamanan yang canggih.

Ada juga sistem keamanan yang diwujudkan dengan pengawasan manual yang dilakukan oleh aparat keamanan dan resepsionis di lobi bangunan.

Sistem keamanan ganda diterapkan oleh bangunan yang memaksimalkan fungsi alat-alat keamanan cangging dan pengawasan manual.

Sistem Komunikasi

Terakhir di sini adalah perancangan sistem komunikasi yang diwujudkan dengan pemasangan perangkat informasi dan jaringan.

Perangkat informasi dan jaringan tersebut di antaranya telepon, jaringan WIFI internet, TV cable, instalasi fax, sound system/loudspeaker, dan lain sebagainya.

Sistem komunikasi berguna untuk mengakses informasi yang bersifat lokal, yaitu antar sesama penghuni gedung, serta informasi yang bersifat global.

Itulah tujuh sistem utilitas bangunan yang patut diketahui.

Aktivitas manusia dalam bangunan bertingkat bisa dibilang sangat kompleks sehingga seluruh sistem utilitas bangunan harus terintegrasi.

Integrasi seluruh sistem tersebut dapat dicapai apabila bangunan dirancang dengan perencanaan yang matang sejak awal.

Sistem utilitas bangunan yang sudah dipaparkan di atas tentunya harus menjadi bahan perhatian saat Anda mencari properti di situs 99.co/id.

Sekian informasi tentang utilitas bangunan, semoga artikel panduan ini menambah wawasan Anda terutama di bidang properti dan bangunan ya.

Author:

Miyanti Rahman