Stasiun Solo Jebres: Sejarah, Arsitektur, Fasilitas, Jadwal & Destinasi Terdekat
Jalan Ledoksari Utara No. 1, Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57128, Indonesia.


Tentang Stasiun Solo Jebres
Berada di sisi timur Kota Surakarta, Stasiun Solo Jebres menyimpan peran penting dalam sejarah perkeretaapian Jawa.
Bangunannya bergaya kolonial masih berdiri kokoh hingga kini, tak hanya difungsikan sebagai simpul transportasi aktif, tetapi juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Stasiun ini menghubungkan lintas utara Pulau Jawa dengan kota-kota besar seperti Semarang dan Surabaya, sekaligus menjadi titik penting untuk layanan Commuter Line Yogyakarta.
Meskipun tak lagi menjadi stasiun keberangkatan kereta jarak jauh sejak 2014, aktivitas penumpang dan logistik tetap berjalan.
Lokasinya berada di Jl. Ledoksari No. 1, Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres.
Dari segi arsitektur dan posisi strategis, stasiun ini menjadi titik temu antara fungsi historis dan operasional.
Sebuah contoh bagaimana bangunan lama tetap bisa berperan dalam sistem transportasi modern.
Foto: businesssolo, RaFaDa20631, dan Wibowo Djatmiko (Wie146) via Wikipedia
Stasiun Antik, Masih Beroperasi
Meski bergaya arsitektur lama, Stasiun Solo Jebres masih aktif melayani penumpang hingga kini. Ruang tunggu luas dan terawat mendukung pengalaman perjalanan yang efisien.
Praktis dan Nyaman
Stasiun ini jadi titik persinggahan ideal untuk perpindahan dari KA jarak jauh ke KRL. Banyak penumpang memulai atau mengakhiri perjalanan di sini, termasuk dari relasi Madiun–Jogja.
Tenang dan Ramah
Suasana tidak terlalu ramai memberi kesan nyaman saat menunggu. Petugas stasiun sigap dan ramah, membantu proses perjalanan tetap lancar.
Dekat Pasar Tradisional
Letaknya dekat Pasar Jebres membuat penumpang mudah mencari makanan lokal. Tinggal menyeberang dari pintu stasiun, banyak pilihan kuliner tersedia.

Jadwal, Harga, dan Rute Stasiun Solo Jebres 2025
Berikut informasi terbaru mengenai jadwal, rute, dan tarif KRL Commuter Line dari Stasiun Solo Jebres menuju Yogyakarta per April 2025.
Jadwal Keberangkatan KRL Solo Jebres – Yogyakarta
KRL dari Stasiun Solo Jebres berangkat setiap hari dengan jadwal sebagai berikut:
05:01 WIB
06:14 WIB
07:21 WIB
08:56 WIB
10:26 WIB
11:26 WIB
13:47 WIB
14:57 WIB
16:16 WIB
17:11 WIB
18:14 WIB
20:59 WIB
Waktu tempuh dari Solo Jebres ke Yogyakarta sekitar 68 menit, tergantung kondisi operasional.
Rute dan Stasiun Pemberhentian
Perjalanan KRL dari Solo Jebres menuju Yogyakarta melewati beberapa stasiun berikut:
Stasiun Solo Jebres
Stasiun Solo Balapan
Stasiun Purwosari
Stasiun Gawok
Stasiun Delanggu
Stasiun Ceper
Stasiun Klaten
Stasiun Srowot
Stasiun Brambanan
Stasiun Maguwo
Stasiun Lempuyangan
Stasiun Yogyakarta Tugu
Rute ini menghubungkan Solo dan Yogyakarta, memudahkan akses ke berbagai destinasi di kedua kota.
Tarif dan Metode Pembayaran
Tarif KRL Solo–Yogyakarta adalah Rp8.000 per perjalanan. Pembayaran dapat dilakukan melalui:
Kartu Multi Trip (KMT)
Kartu elektronik seperti E-Money (Mandiri), Flazz (BCA), TapCash (BNI), dan BRIZZI (BRI)
Pembelian tiket langsung di loket stasiun
Penumpang juga dapat membeli tiket secara online melalui aplikasi Access by KAI, C-Access, atau fitur GoTransit pada aplikasi Gojek.
Selalu periksa jadwal terbaru melalui aplikasi resmi KAI Access atau situs resmi KAI Commuter sebelum melakukan perjalanan, karena jadwal dapat berubah sewaktu-waktu.
Foto: commuterline.id
Fasilitas Stasiun Solo Jebres
Ruang tunggu penumpang
Loket tiket manual
Mesin tap in/tap out KRL
Toilet umum
Mushola
Area parkir kendaraan
Akses langsung ke halte Batik Solo Trans
Peron tinggi untuk KRL
Ruang tunggu khusus keluarga keraton
Kanopi baja pada pintu masuk utama
Terminal peti kemas (tidak aktif)
Depot EMU dan gardu listrik untuk KRL
Jalur ganda aktif menuju Palur dan Solo Balapan
Sistem persinyalan elektrik
Akses langsung ke Pasar Jebres
Area cagar budaya dengan arsitektur kolonial
Keramik pelapis dinding dan lantai
Jalur khusus untuk kereta barang
Papan informasi jadwal kereta
Penerangan dan ventilasi alami

Tempat Wisata Dekat Stasiun Solo Jebres
Pasar Gede Hardjonagoro
- Jarak: ±2 km
- Pasar tradisional dan pusat kuliner khas Solo.
Keraton Surakarta Hadiningrat
- Jarak: ±2,5 km
- Istana Kasunanan Surakarta yang menyimpan sejarah dan budaya Jawa.
Kampung Batik Kauman
- Jarak: ±3,6 km
- Sentra batik Solo dengan galeri dan proses pembuatan batik.
Pura Mangkunegaran
- Jarak: ±1,9 km
- Istana Mangkunegaran bergaya arsitektur tradisional Jawa.
Solo Safari
- Jarak: ±4 km
- Kebun binatang modern dengan koleksi satwa dan area rekreasi.
Museum Keris Nusantara
- Jarak: ±3 km
- Museum dengan koleksi keris dari seluruh nusantara.
Taman Balekambang
- Jarak: ±3,5 km
- Taman kota yang asri untuk bersantai atau aktivitas keluarga.
Masjid Sheikh Zayed Surakarta
- Jarak: ±4 km
- Masjid megah bergaya Timur Tengah yang menjadi ikon baru Solo.
Museum Batik Danar Hadi
- Jarak: ±3 km
- Museum dan galeri batik dengan koleksi bersejarah.
Foto: Instagram @adityakurniawanpp

Sejarah Stasiun Solo Jebres
Berdiri di Atas Jalur Lama Milik NIS
Stasiun Solo Jebres memiliki sejarah yang berbeda dibanding stasiun lainnya di Surakarta.
Dibangun di atas jalur lama milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), stasiun ini merupakan bagian dari proyek jalur Samarang–Vorstenlanden yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daerah kerajaan di pedalaman Jawa.
Pembangunan oleh Staatsspoorwegen dan Peran Kasunanan
Didirikan pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen (SS) atas izin pemerintah Kasunanan Surakarta, pembangunan stasiun ini tidak bisa dilepaskan dari diplomasi antara Hindia Belanda dan Keraton.
Selain memperkuat koneksi politik, keberadaan stasiun ini mendukung pengangkutan hasil bumi dari wilayah Karesidenan Surakarta menuju pelabuhan ekspor di Cilacap, dan kemudian ke Tanjung Priok setelah jalur Kroya–Cirebon tersambung pada 1917.
Fungsi sebagai Transportasi Kerajaan dan Kota
Selain untuk logistik, Stasiun Solo Jebres juga menjadi pusat mobilitas keluarga Kasunanan Surakarta menuju kota besar seperti Batavia dan Surabaya.
Karena itu, stasiun ini memiliki ruang tunggu khusus bagi keluarga kerajaan.
Di awal abad ke-20, rute trem dalam kota bahkan terhubung hingga ke Stasiun Jebres, melewati titik penting seperti Pasar Gede dan Jembatan Kali Pepe.
Asal Nama
Nama “Jebres” dipercaya berasal dari penyederhanaan nama seorang warga Belanda, Van der Jeep Reic, yang pernah tinggal di daerah tersebut.
Nama ini kemudian diserap lidah lokal menjadi "Jebres."
Rumah tempat tinggalnya kini berada tak jauh dari RSUD Dr. Moewardi Solo.
Foto: Wikipedia

Desain Arsitektur Stasiun Solo Jebres
Arsitektur Stasiun Solo Jebres menunjukkan pendekatan yang khas dan tidak seragam dengan stasiun lain milik Staatsspoorwegen (SS).
Bangunan utamanya menerapkan gaya Indische Empire.
Namun fasad depan memperlihatkan pengaruh kuat dari langgam Neoklasik, seperti terlihat pada detail jalusi, list dinding, serta pintu dan jendela lengkung yang dihiasi moulding.
Sentuhan Art Nouveau juga terasa melalui elemen dekoratif pada ventilasi, jalusi besi, dan ornamen lengkung setengah lingkaran di atas pintu keberangkatan.
Komposisinya simetris, dengan pola ruang memanjang dari timur ke barat.
Pintu utama berada tepat di tengah, menghadap Jalan Ledoksari, dan ditandai dengan peninggian atap serta kanopi logam sebagai penanda masuk.
Sayap kiri dan kanan bangunan lebih rendah, memperkuat karakter linier dan horizontal.
Keseimbangan bentuk ini didukung oleh ritme bukaan jendela dan pintu yang seragam, mempertegas harmoni visual bangunan secara keseluruhan.
Bagian fasad tengah menampilkan atap pelana dengan segitiga sofi yang dihias cornice, dua lunette (jendela atas berbentuk setengah lingkaran), serta dua pintu melengkung sebagai akses utama ke hall stasiun.
Detail semacam ini memperkuat kesan monumental.
Di bagian bawah dinding, penggunaan pelapis keramik bertujuan praktis agar mudah dibersihkan, sementara lantainya dilapisi ubin putih polos.
Meski usianya telah lebih dari satu abad, proporsi ruang, pengolahan cahaya, dan sirkulasi udara alami tetap relevan dalam konteks bangunan publik masa kini.
Foto: Instagram @argo_sdn
Waktu Operasional
| Senin | 00:00 - 23:59 | |
| Selasa | 00:00 - 23:59 | |
| Rabu | 00:00 - 23:59 | |
| Kamis | 00:00 - 23:59 | |
| Jumat | 00:00 - 23:59 | |
| Sabtu | 00:00 - 23:59 | |
| Minggu | 00:00 - 23:59 |
Tempat Lain di Sekitar
Ulasan
Kebersihan Dapat Diperbaiki
Aku ke sini baru pertama kali di tahun 2025 sekitar bulan Januari/Februari ini. Aku ke sini karena emang untuk transit KA, dimana sebelumnya naik KA BIAS dari Kota Madiun lalu lanjut naik KRL ke Jogja. Sebelumnya aku melihat stasiun ini seperti stasiun pada umumnya sih. Untuk fasilitas juga oke sekali, petugas juga sangat baik. Ruang tunggu juga sangat baik, tempat duduknya sangat banyak juga. Tapi semuanya sedikit berubah ketika aku mencoba untuk ke kamar mandi. Emang secara kasat mata fasilitas kamar mandi di stasiun ini terlihat bersih. Tp kebetulan tidak sengaja pas aku lihat ke lubang pembuangan kok seperti ada "uget-uget" gitu dan dalam jumlah yang banyak. Aku jadi sangat geli deh lihat itu. Masak iya aku salah lihat, tp kelihatannya engga deh dan emang ada makhluk hidup sejenis uget-uget berwarna hitam tapi sangat kecil. Mungkin bisa lebih diperhatikan untuk kebersihannya secara mendetail. Agar pengguna layanan KAI dapat lebih merasa aman dan nyaman. Terimakasih atas pelayanan yang diberikan.😊
Stasiun Antik
beberapa tahun lalu pertama kali datang ke sini, eh ternyata di masa depan beberapa kali sudah turun dan naik di stasiun ini. dulu dari jalan depan stasiun sangat sepiiiii. sampe ga berani jalan sendiri, harus ada yang nemenin. sekarang seramai itu. tetep selalu naik kereta jalur pantura haha, yaitu Matarmaja, Brantas dan Majapahit. andalan. stasiunnya sekarang jadi tempat turun naik KRL solo jogja. mesin tap KRL terbatas dan dua arah untuk tap in dan tap out. untung jarang KRL yang arah berlawan di jam yang sama, jadi aman aja. stasiun model kuno tapi tetap terawat kok. ruang tunggu untuk non penumpang cukup jauh dari loby untuk check in. sampai terakhir datang belum ada check in face recognition, masih manual dengan petugas.
Banyak Tempat Makan
Stasiun di solo/Surakarta selain stasiun Balapan.. Lokasi sebenarnya ga terlalu jauh dari Stasiun balapan.. Lebih suka turun di stasiun ini karena di sekitar stasiun lebih banyak kuliner tempat makan. Jika naik kereta Majapahit ke Jakarta juga berhenti disini. Kekurangannya disini belum ada Water drinking Station seperti di stasiun Solo Balapan..
Sepi, Nyaman, Tenang
Stasiunnya sepi, nyaman, dan tenang. Ke stasiun ini karena mau jalan-jalan ke Solo. Di depan stasiun, ada Pasar Jebres. Kesini juga naik KRL, selama 1 jam lebih berdiri karena KRL penuh, tapi tidak desak desakkan. Baru dapet kursi waktu orang-orang turun di Stasiun Solo Balapan. Ketika mau pulang dari Stasiun Solo Jebres ke Stasiun Tugu sangat enak, karena KRL masih sangat sepi + termasuk pemberhentian ke 2 dari arah Stasiun Palur. Jadi, bisa duduk dengan tenang hingga pemberhentian terakhir.
Stasiun Kecil
Riwayatmu kini.. alhamdulilah berkesempatan main ke stasiun solo jebres. Tidak banyak berubah, hanya ada renovasi di kanan kiri bangunan utama. Stasiun kecil yg kini ramai seiring perkembangan mode transportasi. Musola dan kamar mandinya bersih. Di depan stasiun terdapat pasar yg menjual byk makanan. Jd jika cari makan bs ke pasar tersebut. Tinggal nyebrang aja..





