
foto: indonesiadesign
Dari zaman dahulu, desain arsitektur sering mengalami perubahan mengikuti kebutuhan manusia.
Tidak terkecuali di Indonesia, ada beragam bentuk arsitektur yang hadir mulai dari tradisional hingga modern.
Tapi tahu enggak sih, di Indonesia ada bangunan yang paling tersohor pascakemerdekaan.
Desain arsitektur rumah ini khusus untuk orang kaya, arsitektur rumah ini sering disebut gaya jengki (yankee).
Sejarah Arsitektur Modern Jengki
Gaya arsitektur jengki mulai kembali populer.
Seorang fotografer Tariq Khalil bercerita mengenai arsitektur jengki dalam bukunya “RETRONESIA: The Years of Building Dangerously”.
Dalam buku tersebut sang fotografer mengabadikan dan mengulik lebih dalam mengenai arsitektur jengki di berbagai daerah.
Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa arsitektur ini memang asli Indonesia.
Arsitektur jengki atau bisa disebut dengan “yankee” hadir pada tahun 1950 – 1965-an.
Menjadi bentuk dan simbol perlawanan terhadap gaya arsitektur kolonial yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan.
Gaya bangunan jengki tentu saja terinspirasi dari arsitektur Amerika, yang melahirkan istilah “yankee”, kemudian menjadi jengki.
Gaya jengki banyak mengambil unsur elemen dari arsitektur indies, tradisional dan modern.
Dari ketiga elemen itulah tercipta gaya jengki yang memiliki arti kebebasan setelah merayakan kemerdekaan Indonesia.
Tapi jika dilihat lebih seksama, gaya jengki cenderung mengarah ke gaya kontemporer.
Tak semua kalangan bisa menikmati gaya arsitektur ini, hanya orang elit dan pedagang kaya yang mampu memilikinya.
Jadi wajar saja jika banyak orang Indonesia belum mengenal gaya jengki.
Karakteristik Arsitektur Gaya Jengki
Bentuk dan gaya jengki di setiap daerah tentu saja memiliki karakteristik tersendiri.
Meskipun dianggap sudah ketinggalan zaman dan dilupakan, gaya arsitektur jengki tetap menjadi warisan arsitektur nasional.
Berikut ini beberapa ciri atau karakteristik dari arsitektur gaya Jengki.
Bentuk Atap
foto: Thariq Khalil
Ciri khusus yang bisa dikenali dalam arsitektur ini adalah penggunaan atap pelana yang memiliki kemiringan yang tak lazim.
Hal ini disesuaikan dengan iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi.
Bentuk atap pelana memiliki beberapa patahan dan lapisan, lalu diantaranya terdapat ruang ventilasi udara.
Desain atap ini memiliki ukuran yang ramping dan tampak memanjang jika dilihat dari samping.
Dinding
Untuk eksterior bangunan, rumah gaya jengki dapat mudah dikenali dari tekstur dinding luarnya.
Penggunaan dinding dengan efek timbul seperti batu alam memang paling disenangi saat itu.
Selain motifnya beragam, kesan alami dan santai ditujukan untuk melawan arsitektur serius dari kolonial Belanda saat itu.
Untuk bagian tembok rumah, ada perbedaan mencolok yang bisa ditemukan.
Bentuk tembok rumah jengki memiliki bentuk kotak dan belah ketupat, di mana salah satu sisi tembok lebih maju ke depan.
foto: Thariq Khalil
Selain itu terdapat tiang miring bentuk V sebagai penyangga kanopi yang menjadi ciri khas dari eksterior rumah jengki.
Jendela
foto: matakota
Bentuk asimetris tidak hanya diterapkan di bagian atap saja, jendela diletakkan tidak sejajar dengan banyaknya bukaan.
Gaya jengki mengutamakan sistem sirkulasi udara, jadi wajar saja banyak ditemukan ventilasi di setiap sudut rumah.
Ukuran rumah jengki terbilang tak terlalu luas maupun sempit, tapi didesain melebar.
Selain itu interior bangunannya pun mengutamakan efektivitas dan fungsional ruangan.
Beranda Rumah
foto: Thariq Khalil
Beranda rumah pada bangunan lebih menjorok ke dalam atau biasa disebut dengan portico.
Fungsi beranda rumah sebagai ruang penerima tamu, ruang santai, dan ruang berkumpul.
Biasanya ukuran beranda lebih luas dan lebar.
Furnitur
foto: rumahku
Furnitur jengki memiliki bentuk unik, contohnya bentuk kaki furnitur seperti di gambar atas yang menjorok ke depan.
Memang cukup banyak furnitur yang digunakan memiliki kaki seperti lemari, kursi tamu, meja kopi dan sebagainya.
Material furniturnya adalah kayu jati dengan kualitas baik dan diimbangi penggunaan material kain atau kulit.
Desain Arsitektur Gaya Jengki di Indonesia
Sering disebut gaya arsitektur anti-mainstream, tapi nyatanya banyak gaya jengki ditemukan di berbagai daerah hingga pelosok desa.
Berikut ini beberapa daerah yang memiliki hunian dengan gaya jengki.
Arsitektur Jengki di Surabaya
foto: ayorek
Dikutip pada halaman matakota.id, rumah arsitektur ini memiliki penampilan dari ciri-ciri di atas.
Rumah ini merupakan bekas mess angkatan darat yang memiliki arsitektur dengan gaya kolonial.
Pemilik melakukan renovasi tanpa tahu desain seperti apa yang diterapkan.
Perombakan pada fasad membuat tampilan rumah jengki tampak unik dan tetap mempertahankan kesan vintage.
Arsitektur Jengki di Malang
foto: bbc
Hunian yang dimiliki oleh veteran perang keturunan Tionghoa ini merupakan rumah bergaya Belanda dengan sentuhan modern dan teralis gaya maritim.
Terdapat tiang penyangga dengan huruf lambda Yunani sebagai bingkai kisi teralis.
Hotel Bumi Sangkuriang – Ciumbuleuit
foto: bbc
Dibangun pada tahun 1957 dan didesain oleh Gmelig Meyling dari NV Ingenieurs Bureau Vrijburg.
Sang arsitek mengubah total clubhouse dengan meninggalkan gaya neoklasik yang sering diterapkan di rumah dan gedung Belanda.
Bangunan ini kemudian beralih fungsi menjadi hotel dan restoran hingga saat ini.
Nah, itulah informasi seputar arsitektur gaya jengki yang meski tidak bertahan lama tapi memiliki makna mendalam.