
Memasuki tahun 2023, harga rumah diramalkan masih akan mengalami kenaikan.
Hal tersebut dikarenakan oleh commodity boom, atau adanya lonjakan harga komoditas dan realisasi pajak.
Seperti diketahui, pada pertengahan 2022 lalu harga rumah naik sebesar 5–15%, bila dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
Kenaikan dipicu karena adanya peningkatan harga nikel dan batu bara, yang turut mengerek harga besi sebagai material pembuatan rumah.
Selain itu pada September 2022 lalu, Pemerintah Indonesia juga resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kenaikan harga BBM tentu berpengaruh pada meningkatnya ongkos produksi, yang turut mengerek harga material bangunan.
Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati, memproyeksikan era commodity boom baru akan berakhir pada 2023.
Artinya potensi kenaikan harga rumah diprediksi masih akan berlangsung, hingga terjadinya normalisasi dari situasi tersebut.
Peluang Investasi Properti saat Harga Rumah Naik
Meski begitu, per November 2022, belum terlihat lagi pergerakan kenaikan harga properti residensial.
Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa kondisi ini akan bertahan setidaknya hingga akhir tahun.
Ini merujuk pada hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) Triwulan III-2022, yang dilakukan terhadap sampel developer di 18 kota.
Dilansir dari Kompas, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Triwulan IV-2022 diprediksi sebesar 1,65% (yoy), lebih rendah dari Triwulan III-2022 yakni 1,94% (yoy).
Melambatnya tren kenaikan harga properti residensial diperkirakan terjadi pada seluruh tipe rumah.
Tertahannya tren kenaikan tersebut seharusnya bisa menjadi peluang, bagi kamu yang berniat untuk memulai investasi properti.
Kamu bisa memanfaatkan lambatnya tren kenaikan harga properti, untuk membeli hunian yang bisa dijual kembali atau disewakan.
Seperti diketahui, tujuan dari investasi properti adalah mendapatkan Return of Investment (ROI), baik melalui hasil sewa, jual, atau keduanya.
Bila sedang mencari rumah dijual atau apartemen dijual untuk investasi, ada banyak pilihannya di laman 99.co Indonesia.
Kamu bisa menemukan hunian berkualitas dengan harga terjangkau di berbagai seluruh Indonesia.
Di antaranya mulai dari rumah dijual di Bandung, rumah dijual di Jakarta, hingga rumah dijual di Bogor.
Faktor-Fator yang Menyebabkan Harga Rumah Naik
Kenaikan harga properti khususnya rumah, jelas bukan sesuatu yang mengejutkan. Mengingat, kenaikannya hampir pasti terjadi tiap tahun.
Maka itu, dari sudut pandang investasi, properti dipandang sebagai ladang bisnis yang menjanjikan.
Apalagi persentase kenaikan harga rumah pun cukup signifikan, ditaksir bisa mencapai 10–15% per tahunnya.
Lantas, aspek apa saja yang membuat harga properti terus merangkak setiap tahunnya? Berikut kami hadirkan ulasannya.
Terjadinya Inflasi
Faktor-faktor yang memicu inflasi adalah permintaan tinggi, naiknya biaya produksi, hingga kekacauan kondisi ekonomi dan politik.
Inflasi berpengaruh pada kenaikan harga barang dan jasa, tak terkecuali harga material bangunan.
Situasi tersebut tentu akan mengerek ongkos produksi, yang berpengaruh pada kenaikan harga properti.
Baca juga:
3 Langkah Mudah Investasi Rumah dengan KPR
Tingginya Permintaan
Semakin tinggi permintaan, maka semakin tinggi pula harga komoditas. Hal tersebut pun berlaku dalam dunia properti.
Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal.
Hal itu tentunya sejalan dengan terus merangkak naiknya harga rumah sebagai komoditas.
Menipisnya Ketersediaan Lahan
Di Indonesia, tingginya permintaan akan tempat tinggal tidak dibarengi dengan ketersediaan lahan yang memadai.
Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.
Tak ayal, banyak developer yang memutar otak dengan mengalihkan proyek pembangunan properti residensial ke kawasan pinggiran kota.
Hal tersebut dilakukan guna menekan biaya pembelian lahan yang tinggi di pusat kota.
Sehingga kebutuhan masyarakat akan hunian tetap dapat terakomodasi dengan baik.
Perkembangan Infrastruktur
Lokasi dan aksesibilitas menjadi salah satu faktor yang menentukan tinggi-rendahnya harga rumah.
Hunian yang berada di pusat kota dengan lokasi strategis dan kemudahan aksesibilitas, sudah pasti dibanderol dengan harga tinggi.
Hanya saja, harga jual rumah di pinggiran kota pun terus melonjak, seiring meningkatnya perkembangan infrastruktur di wilayah tersebut.
Baca juga:
6 Tips Memulai Usaha Jual Beli Rumah Bekas
Kenaikan Harga Bahan Bangunan
Selain inflasi, kenaikan material juga bisa disebabkan oleh sejumlah hal, salah satunya kondisi politik dunia.
Misalnya invasi Rusia ke Ukraina, yang secara tidak langsung mengerek harga minyak sawit dunia melambung.
Hal tersebut berpengaruh pada kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk material bangunan.
Sehingga bisa berdampak pada melambungnya ongkos produksi pembuatan rumah.
Itulah pembahasan mengenai pengaruh harga rumah naik terhadap peluang investasi properti.
Bila sedang mencari rumah dengan harga di bawah Rp500 juta untuk instrumen, maka unit hunian di Sukamanah Islamic Village dan Mustika Park Place bisa menjadi rekomendasi yang ideal.
Semoga informasi ini bermanfaat.