Berita

5 Konflik Agama Terbesar di Indonesia | 2019 Masih Ada?

3 menit

Konflik agama terus berlanjut di tahun 2019. Pelarangan dekorasi Natal dan mengucapkan Selamat Natal bukanlah satu-satunya perselisihan yang terjadi dekade ini.

Konflik antar agama terjadi karena perbedaan keyakinan dan ego manusia yang menjadi-jadi.

Miris sekali, nyatanya di Indonesia perselisihan agama sudah terulang bertahun-tahun lamanya.

Sayangnya, tahun 2019 ini pun tidak terkecuali.

Banyak kasus yang muncul dari setiap daerah besar maupun kecil, dan parahnya lagi, hampir semuanya berawal dari argumen sepele.

Jika Anda ketinggalan berita, mari kita rekap konflik agama terbesar dan paling viral dekade ini!

Konflik Agama Terbesar di Indonesia. Negeri Kita Kapan Akur?

1. Perselisihan Agama di Aceh

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berjalan di bawah hukum syariat islam.

Bagaimana bisa?

Ya, pemerintah memberikan peraturan spesial untuk Aceh agar tidak memerdekakan diri sendiri serta mendirikan negeri khilafah seperti yang rakyatnya tuntut zaman dahulu.

Di tahun 2015, kerusuhan antara umat muslim dan nasrani sempat terjadi.

Demonstram dari kubu Islam menginginkan pemerintah untuk membongkar beberapa gereja Kristen di Aceh.

Korban pun berjatuhan, beberapa orang dari kedua belah suku banyak yang terluka.

Untungya kompani ini tidak melebar dan dapat diatasi sebelum permasalahannya melebar.

2. Konflik Poso

Berbeda dengan perselisihan agama di Aceh, konflik di Poso pada tahun 2000 tidak berhasil dibendung.

Permasalahan antara dua agama ini terjadi selama bertahun-tahun.

Perselisihan politik itu awalnya terjadi karena masalah agama.

konflik agama

Sumber: beritasatu.com

Baca Juga:

5 Negara yang Melarang Perayaan Natal. Intoleransi Beragama?

Pada tahun 1990-an, Poso dipenuhi oleh penduduk beragama Islam, namun seiring berjalannya tahun, banyak orang luar yang datang ke Poso sehingga agama Kristen menjadi dominan.

Kurangnya peran pemerintah membuat konflik ini berlangsung selama puluhan tahun dengan jumlah korban jiwa sangat tinggi.

Perselisihan agama ini berakhir di tahun 2001 setelah adanya mediasi oleh mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla.

3. Konflik Tanjungbadai

Pada Sabtu, 20 Juli 2016, 11 wihara dan 2 yayasan dirusak oleh warga mengamuk di Tanjungbadai, Sumatera Utara.

Beberapa bangunan disamping tempat beribadah umat Buddha tersebut hangus terbakar, termasuk delapan mobil dan beberapa motor yang terparkir di depannya.

Menurut catatan pemerintah, jumlah kerugian mencapai lebih dari Rp3 milyar rupiah.

Kerusuhan ini disulut oleh konflik agama antara umat Islam dan Buddha.

Kabarnya, sebagian warga Tanjungbadai merasa tersinggung setelah mendengar pemeluk agama Buddha berdarah Tionghoa protes akan kerasnya suara adzan dari sebuah masjid lokal.

Belum lagi rumor seorang wanita yang melempari masjid dengan batu dan mengusir imam di dalamnya menyebar secara cepat.

Tidak ada tindakan hukum yang ditempuh kedua belah pihak.

Sampai sekrang, ke-11 wihara tersebut selalu dijaga polisi setiap jam beribadah.

4. Konflik Sampang

Konflik antar agama berikutnya terjadi antara pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan penganut Islam Syiah.

Perselisihan keyakinan tersebut menelan korban.

Dua orang warga Syi’ah tewas sementara enam lainnya mengalami luka berat dan harus dirawat di rumah sakit setempat.

konflik agama

Sumber: tempo.co

Konflik Sampang berawal di tahun 2004, dan berpuncak pada pembakaran rumah Ketua Ikatan Jamaah Ahl Al-Bait, atau yang dikenal sebagai IJABI.

2 rumah jamaah syi’ah lainnya dibakar, dan mushola pun rusak diamuk 500 warga yang mengaku sebagai jamaah Ahlus Sunnah Wal-Jamaah.

5. Konflik Papua

Baru kemarin rasanya media massa dipenuhi oleh berita konflik antar agama di Papua.

Dari kabar yang beredar, konflik tersebut dimulai dengan tuntutan Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) untuk membongkar menara Masjid Al-Aqsha Sentani.

Alasan dibalik tuntutan PGGJ adalah menara Masjid Al-Aqsha Sentani yang dibangun terlalu tinggi dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya…

…sehingga dikhawatirkan menghalangi pemandangan dan membuat gereja disampingnya tampak terhempit.

Menanggapi tuntutan masyarakat Papua, Kementerian Agama ikut angkat bicara dan turun tangan.

DIkutip dari detik.com, Menag menyatakan, “Selesaikan dengan musyawarah. Kami mendukung penuh langkah-langkah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan Pemda yang akan melakukan musyawarah antar mereka.”

Ia juga menghimbau Kakanwil dan Kakankemenag untuk terus proaktif dalam memantau kasus pembangunan menara dan penuntutan PGGJ di tahun 2018 tersebut.

Baca Juga:

Kena Kasus Penipuan Berlandaskan Agama, Anggota Pengajian Diminta Bayar Rp300 Ribu untuk Melihat Tuhan

Semoga bermanfaat artikelnya ya, Sahabat 99!

Jangan lupa untuk pantau terus informasi penting seputar properti lewat Blog 99.co Indonesia.

Tak lupa, pastikan kamu menemukan properti idaman di 99.co/id.

Samala Mahadi

Content Writer and all things Basquiat connoisseur.

Related Posts