Berita

Viral Masjid Al Safar yang Dianggap Masjid Iluminati. Begini Faktanya!

4 Juni 2019
masjid al safar
2 menit

Baru-baru ini Ridwan Kamil dibuat heboh karena salah satu karya arsitektur terbarunya, Masjid Al Safar dianggap sebagai masjid iluminati.

Meskipun bangunan tersebut adalah sebuah masjid, namun ternyata masih ada yang memandangnya dengan pandangan cukup tajam.

Padahal, masjid karya Ridwan Kamil yang terletak di KM 88 Tol Cipularang-Padaleunyi ini telah diresmikan sejak 2016 silam.

Namun, baru beberapa hari terakhir kehebohan soal masjid Al Safar yang dianggap sebagai masjid iluminati ini mencuat.

Masjid yang dibuat demi kebanggaan dan kemajuan arsitektur Islam ini pun kini berada di tengah pusaran konflik.

Bagaimana bisa sebuah masjid dianggap sebagai simbol iluminati?

Awal Mula Viralnya Masjid Al Safar

Semua kehebohan ini berawal dari potongan video seorang penceramah yang menganggap masjid ini mengandung simbol-simbol iluminati.

Menurutnya, masjid yang diarsiteki Ridwan Kamil ini memuat beberapa simbol iluminati seperti bentuk segitiga dan bentuk satu mata di dalam masjid.

Penceramah tersebut menjelaskan bahwa simbol-simbol iluminati nampak jelas dari mulai pintu masuk hingga ke dalam.

“Maka, ketika kita shalat, sebetulnya kita menghadap siapa? Menghadap Allah atau segitiga satu mata?” ujarnya.

Kekhawatiran kemudian muncul karena dikaitkan dengan iluminati yang berasal dari gerakan Freemason.

Baca Juga:

Masjid Istiqlal Jakarta, Lambang Kemerdekaan Indonesia yang Mendunia

Gerakan ini dianggap sebagai gerakan rahasia yang salah satu misinya adalah untuk menghapuskan peran agama di dunia.

Ridwan Kamil (RK), yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat ini pun lantas membantah pernyataan penceramah tersebut.

RK kemudian menjelaskan bahwa desain masjid ini merupakan eksperimen teori lipat Folding Architecture.

Masuk Nominasi Penghargaan Internasional

masjid al safar

Sumber: kompas.com

Sikap penceramah yang tak melakukan tabayun atau pengkajian atas tafsir desain masjid ini benar-benar sangat disayangkan oleh RK.

Pada Jumat (31/5) siang, Ridwan Kamil pun langsung memberikan klarifikasinya melalui cuitan di akun twitter pribadinya @ridwankamil.

“Jika eksperimentasi bentuk itu ditafsir, ya tentu tidak bisa dihindari. Tapi, jika disimpulkan bahwa bentuk-bentuknya adalah simbol iluminati, saya kira itu tidak betul,” ujar RK.

Tudingan tersebut sangat disayangkan karena justru masjid ini masuk sebagai nominasi masjid berasitektur terbaik Abdullatif Al Fozan Award 2019 dengan 26 masjid lainnya.

Penilaian Al Mafa dari Arab Saudi ini diberikan pada masjid-masjid yang menunjukan desain, perencanaan, dan ide arsitektur yang brilian di abad ke-21.

Reza Achmed Nurtjahja, Principal Urbane Indonesia sendiri menjelaskan bahwa pihaknya diminta mengirimkan desain masjid ini oleh panitia dari Abdullatif Al Fozan.

Hasilnya, masjid berluas 6.000 meter persegi dan berkapasitas hingga 1.200 jamaah ini terpilih menjadi 1 dari 27 desain terbaik dengan berbagai kategori.

Tanggapan Pihak Jasa Marga

PT Jasa Marga selaku pengelola rest area jalan tol pun memberikan bantahannya melalui Corporate Communication Department Head Jasa Marga, Irra Susiyanti.

Menurut Irra, masjid rancangan Ridwan Kamil ini konsepnya sudah sesuai untuk rest area KM 88 B.

PT Jasa Marga pun menghimbau agar masyarakat tak menelan informasi soal masjid ini secara mentah-mentah.

“Kami mengimbau masyarakat agar bijak dalam mencerna informasi yang beredar,” ujar Irra Susiyanti dalam keterangan tertulis, Minggu (2/6).

Nah, bagaimana menurutmu, Sahabat 99?

Baca Juga:

Masjid Cipaganti: Pertama dan Tertua di Bandung Utara

Semoga artikel ini dapat bermanfaat ya!

Nantikan info terbaru soal masjid di Indonesia dari blog 99.co Indonesia.

Coba deh cari propertinya di 99.co/id karena banyak yang menarik, lho!

You Might Also Like