Gaya Hidup Kesehatan

Pengertian, Penyebab, dan Cara Menghindari Insecure | 100% Lengkap!

3 menit

Insecure kerap diidentikan dengan rasa kurang percaya diri, cemas, dan minder. Konon, padanan tersebut merujuk pada sebuah gangguan kesehatan mental yang dapat dialami semua orang, termasuk kaum millennial.

Sahabat 99, pasti pernah mendengar istilah insecure, bukan?

Sebuah padanan yang kerap digaungkan dan dikeluhkan oleh banyak orang, termasuk akhir-akhir ini kaum millennial.

Umumnya, insecure atau insecurity merujuk pada perasaan tak percaya diri, minder, dan rasa cemas.

Konon, semua orang akan mengalami hal tersebut walau kadarnya berbeda-beda.

Jika dibiarkan berlarut dan tidak ‘disembuhkan’, insecurity dapat mengganggu aktivitas, lo.

Supaya terang benderang dan tak salah kaprah, kali ini 99.co Indonesia berkesempatan mewawancarai seorang Psikolog Klinis, bernama Mariska S. Rompis untuk membedah seluk beluk mengenai insecurity.

Kini Mariska tengah sibuk menjadi psikolog praktik di Pusat Inovasi Psikologi (PIP) Unpad dan Brawijaya Clinic Buah Batu Bandung.

Serta, ia merupakan lulusan Magister Profesi Psikolog dengan konsentrasi Klinis Dewasa di Universita Padjadjaran (Unpad).

Lewat surat elektronik, Mariska secara gamblang menjelaskan informasi berkaitan dengan insecure.

Panasaran?

Makanya, simak artikel ini sampai selesai, ya!

Pengertian Insecure

Mariska menguraikan, secara definisi atau pengertian, insecurity adalah sebuah perasaan tak percaya diri dan cemas.

Tak hanya itu, lo. Ternyata perasaan tersebut muncul  karena tak yakin dengan kemampuan yang dimiliki dirinya sendiri.

“American Psychology Association (APA) mendefinisikan insecurity sebagai perasaan tidak cukup baik, kurangnya rasa percaya diri, dan ketidakmampuan untuk menghadapi suatu masalah, diiringi dengan perasaan tidak yakin dan cemas akan tujuan-tujuan; kemampuan; dan relasi yang bersangkutan dengan orang lain,” jelas Mariska.

Faktor Penyebab Insecure

penyebab insecure

sumber: freepik.com

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang mengalami insecurity.

Dari sekian banyak penyebab, Mariska menjelaskan 3 hal besar.

1.  Mendapat Evaluasi Negatif dari Teman

Faktor ini berkaitan dengan bullying yang dilakukan lingkungan sekitar, misalnya oleh teman sebaya.

“Insecurity bisa disebabkan oleh banyak faktor, misalnya dapat evaluasi negatif dari teman-teman sebaya atau bahkan sampai bullying,” ungkap Mariska.

2. Kejadian Besar dalam Hidup

Seseorang yang mengalami kejadian besar dalam hidup dalam konteks ‘kurang baik’ bisa saja kelak akan mengalami insecurity.

Misalnya, masalah ekonomi, perceraian orang tua, hingga kehilangan pasangan karena putus cinta.

“Tapi tidak selalu salah satu kejadian ini bisa bikin orang insecure. Intinya, tiap orang bisa berbeda sesuai dengan apa yang dia dan/atau lingkungan sekitarnya anggap penting,” jelas sang Psikolog.

3. Tugas Perkembangan Individu

Setiap orang mempunyai tugas individu yang harus dipenuhi.

Maksunya begini, kamu yang berusia 25 tahun ke atas mempunyai berbagai tugas yang harus dijalani dan dipenuhi, seperti mendapat pekerjaan dan mungkin menikah.

Jika tak terpenuhi, hal tersebut dapat memantik perasaan insecurity di dalam diri. Apalagi teman-teman satu angkatan sudah menikah dan memiliki pekerjaan yang mumpuni.

“Kalau menurut psikolog Robert J. Havighurst, dewasa awal (usia 18-35) tugasnya itu punya pasangan atau berkeluarga serta punya karier (kuliah juga termasuk di dalamnya) jadi di usia segitu dan tugas perkembangannya belum terpenuhi, bisa bikin seseorang insecure, apalagi kalau teman-teman di lingkarannya sudah memenuhi,” tutur Mariska.

Tanda-Tanda Mengalami Insecure

tanda insecure

sumber: freepik.com

Nah, selanjutnya akan dipaparkan tanda-tanda insecurity.

Mariska yang kini menekuni bidang psikologi klinis mengatakan, insecurity dapat muncul dalam dua tipe.

Tipe Pertama

Orang-orang yang merasa tidak percaya diri, minderan sampai tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

“Tipe pertama, yang mungkin ada di bayangan kita ketika disuruh memikirkan orang insecure – merasa tidak percaya diri, minderan, tidak yakin akan keputusan/hasil kerjanya, merasa butuh diyakinkan akan sesuatu, merasa perlu validasi dari lingkungan sekitar, orangnya cemasan, malu-malu,” ungkap Mariska.

Tipe Kedua

Tipe ini yang sangat menarik, Sahabat 99.

Pasalnya, tipe kedua akan mengemas dirinya secara berlebihan, seperti melakukan pamer.

Selain itu, tipe ini lekat dengan individu yang melebihkan dirinya sendiri ketika berbincang dengan temannya.

Ia akan berbicara soal kelebihan yang dipunya sampai lawan bicaranya minder.

Paling parah, ia akan melakukan pembicaraan tersebut dalam bentuk humble bragging (berusaha mendapatkan perhatian orang dengan menunjukkan kekurangan orang lain).

Mariska lalu memberikan contohnya.

“Seperti ‘Duh capek banget deh, dalam seminggu ini udah nolak 10 cowok.’ di depan orang yang enggak punya-punya pacar (yang sebenarnya) hanya untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Atau ketika dicurhatin soal hal buruk yang menimpa kita, dia akan merespon, ‘Ih untung aku nggak gitu…’”

Sahabat 99, pernah melihat orang dengan tipe kedua ini?

Menghindari Insecure, Emang Bisa?

cara mengatasi insecure

sumber: drmikemd.com

Mariskan memaparkan, indikator sehat mental menurut definisi WHO adalah pertama, ketika seseorang menyadari kemampuan yang dimilikinya.

“Mencakup di dalamnya adalah dia orang yang seperti apa, keahliannya apa, preferensinya apa, kebutuhannya apa, pengalamannya apa saja, dan sebagainya,” urainya.

Maka dari itu, insecurity dapat dihindari jika kamu mampu mengindentifikasi berbagai kekurangan di dalam diri, lalu selanjutnya berusaha untuk menutupi hal tersebut.

“Saya pikir kuncinya adalah kesadaran penuh akan segala aspek tentang diri kita,” tegas Mariska.

Cara Ampuh Usir Insecure

1. Bijak Menggunakan Media Sosial

Umumnya, perasaan insecurity akan muncul karena ada bagian dari dalam diri yang tidak seperti kebanyakan orang dan tidak mampu memenuhi standar yang diinginkan.

Mariska lalu menyebut penggunaan media sosial cukup berpengaruh. Lantaran perasan insecure bisa muncul dari postingan-postingan lingkaran teman yang kelihatannya lebih baik dari diri sendiri.

Maka dari itu, ia menyarakankan agar lebih bijak dan aware dengan kemampuan dan kualitas diri sendiri saja.

“Penggunaan media sosial bisa lebih bijak atau hanya follow akun-akun yang tidak men-trigger kita.”

2. Mempraktikan Positive Self-Talk

Lebih baik dikatakan Mariska, ajak diri untuk mempraktikkan positifve self-talk untuk menghindari perasaan insecure…

Lalu fokus terhadap kemampuan yang dipunya, lalu mengasahnya.

“misalnya dengan banyak latihan atau bergabung di komunitas sesuai bidang keahlian kita. Jika kita merasa ada yang perlu dikembangkan dari diri kita, lakukan,” saran Mariska.

***

Bagaimana Sahabat 99, jelas dan gamblang, bukan?

Semoga bermanfaa.

Dapatkan hunian yang nyaman di Bandung!

Langsung saja cek hanya di www.99.co/id.

Insan Fazrul

Junior Content Writer di 99.co Indonesia.
Follow Me:

Related Posts