Berita Berita Properti

5+ Ragam Rumah Adat Papua | Ada yang Tinggal di Atas Pohon!

3 menit

Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya dari setiap sukunya. Tiap suku memiliki keunikan tersendiri, termasuk dalam hal rumah adat Papua yang menjadi hunian mereka.

Pulau Papua memiliki wilayah seluas kurang lebih 309.934,4 km2, dua kali lipat lebih besar dari pulau Jawa.

Hal ini menyebabkan banyak pula suku berbeda, yang hidup terpencar-pencar di Papua.

Beberapa suku mayoritas di antaranya suku Dani, Damal, Amungme, Arfak, Asmat, Yali, dan lain sebagainya.

Setiap suku memiliki adat istiadat yang berbeda-beda, dan jenis rumah adat Papua yang mereka huni pun tidak sama.

Rumah Adat Papua dan Filosofinya

1. Rumah Adat Papua Honai

rumah adat Papua

Sumber: indonesia.go.id

Honai merupakan rumah adat Papua yang dihuni suku Dani.

Namanya berasal dari kata ‘hun’ atau ‘laki-laki’ dan ‘ai’ yang berarti rumah.

Oleh sebab itu, hunian ini hanya boleh dimasuki laki-laki dewasa.

Biasanya Honai ditemukan di lembah dan pegunungan.

Dinding rumahnya terbuat dari kayu, dengan atap jerami berbentuk kerucut.

Jika dilihat sekilas dari kejauhan, bentuknya tampak seperti jamur.

Rumah Hanoi tidak memiliki jendela, hanya ada satu buah pintu di bagian depan.

Tingginya 2,5 meter, dengan ruangan kecil sekitar 5 meter.

Bagian tengahnya dibuat lingkaran yang berfungsi sebagai tempat membuat api untuk menghangatkan badan sekaligus penerangan.

Meski kecil, hunian ini dibuat bertingkat, di mana lantai atas berfungsi sebagai tempat tidur.

2. Rumah Adat Ebai

rumah adat Papua

Sumber: berbol.co.id

Ebai berasal dari kata ‘ebe’ yaitu tubuh dan ‘ai’ yang berarti rumah.

Ini merupakan hunian khusus untuk perempuan di suku Dani.

Perempuan dipandang sebagai tempat tinggal bagi kehidupan.

Oleh sebab itu, di Ebai biasanya berlangsung proses Pendidikan bagi anak perempuan.

Yakni para ibu mengajarkan hal-hal yang akan dilakukan ketika menikah nanti.

Bentuk bangunannya mirip Honai, dengan ukuran yang sedikit lebih pendek dan kecil.

Sebelum dewasa, anak laki-laki juga akan tinggal di Ebai bersama ibu mereka.

Baca Juga:

7 Cara Menciptakan Nuansa Rumah Adat Daerah Pada Hunian Modern

3. Rumah Adat Papua Wamai

rumah adat Papua

Sumber: moondoggiesmusic.com

Wamai merupakan bangunan yang digunakan untuk kandang ternak peliharaan.

Bentuk atapnya seperti Honai dan Ebai.

Sementara luas bangunan disesuaikan dengan banyaknya jenis hewan yang dimiliki.

Hewan yang menjadi ternak oleh masyarakat Papua misalnya ayam, babi, anjing, dan lainnya.

4. Rumah Adat Kariwari

Sumber: nazeefah.com

Rumah Kariwari dihuni oleh suku Tobati-Enggros yang tinggal di tepi Danau Sentani, Jayapura.

Hunian ini hanya boleh dihuni oleh anak laki-laki yang telah berusia sekitar 12 tahun.

Selain tempat tinggal, di sini anak laki-laki dididik mengenai pengalaman hidup dan cara mencari nafkah.

Mereka diajarkan untuk menjadi laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab.

5. Rumah Adat Rumsram

Sumber: Kemendikbud

Suku Biak Numfor tinggal di rumah Rumsram.

Rumah ini ditujukan untuk laki-laki, dan menjadi tempat untuk mendidik mereka mengenai kehidupan.

Bentuknya persegi seperti rumah panggung, dengan beberapa ukiran pada sekelilingnya.

Atap rumah rumsram mirip seperti perahu terbalik, yang menandakan mata pencaharian utama mereka, yakni nelayan.

Rumah Adat Papua yang Hampir Punah

Nah, itu tadi merupakan jenis rumah adat di Papua yang umumnya kita ketahui.

Namun, masih ada jenis- rumah lainnya yang tidak diketahui banyak orang…

Bahkan banyak yang bilang bahwa statusnya hampir punah.

Salah satu yang perlu diketahui adalah adalah rumah pohon milik suku pedalaman asli Papua, suku Korowai.

Suku Korowai tinggal di sebelah selatan Papua, daerahnya diapit oleh dua sungai besar dan gunung-gunung.

Populasi suku ini kini hanya sekitar 3 ribu orang.

Sumber: gpswisataindonesia.info

Hunian mereka berupa rumah pohon dengan ketinggian mencapai 15-50 meter dari permukaan tanah.

Dindingnya terbuat dari kayu, sementara atapnya hanya beralaskan daun.

Tujuan pembuatan rumah pohon adalah agar terhindar dari binatang buas dan gangguan roh jahat ‘laleo’.

Laleo merupakan julukan untuk semua orang asing yang tidak termasuk penduduk mereka.

Selain rumah suku Korowai, rumah adat Honai juga dikhawatirkan akan punah.

Tergeser rumah-rumah modern yang terbuat dari beton.

Baca Juga: 

7 Inspirasi Rumah Adat Untuk Hunian Modern di Perkotaan

Semoga informasinya bermanfaat Sahabat 99..

Jangan lupa kunjungi situs berita properti Blog 99 Indonesia untuk melihat artikel menarik lainnya.

Temukan hunian impian Anda di 99.co/id!

Hanifah

Jr. Content Writer for 99.co | Knit & Crochet Enthusiast
Follow Me:

Related Posts