Berita Berita Properti

Mengenal Properti Syariah: Pengertian, Kelebihan, hingga Perbedaan dengan Properti Konvensional

4 menit

Belakangan ini, tren properti syariah kian meroket karena bukan hanya memberi keuntungan secara materi, tetapi juga bisa memberi kepuasan spiritual. Jika kamu tertarik dengan program kepemilikan rumah yang bersifat syariah tersebut, yuk ketahui seluk-beluknya pada artikel ini!

Konsep syariah yang berkembang di Indonesia saat ini membuat pebisnis mengambil kesempatan untuk melebarkan sayap menghasilkan produk halal.

Tren tersebut pun tak hanya menguntungkan untuk pebisnis, tetapi juga masyarakat muslim yang menghindari hal-hal mudarat.

Adapun prospek produk halal atau syariah yang dinilai memiliki value tinggi dan bisa meningkatkan ekonomi nasional adalah properti syariah.

Properti syariah diklaim menawarkan skema pembelian dan cicilan rumah yang mudah dan 100% tanpa riba.

Dalam kesempatan kali ini, Ketua Umum Asosiasi Developer Syariah (DPS), Arief Sungkar menyampaikan gagasannya mengenai seluk-beluk properti syariah kepada 99.co Indonesia, Rabu (10/3/2021).

Apa Itu Properti Syariah?

properti syariah

Tak dapat dipungkiri, banyak masyarakat yang menganggap properti syariah hanya berlaku bagi muslim saja.

Padahal, program tersebut bisa diperuntukkan bagi seluruh umat beragama.

“Dalam Islam tidak melarang untuk bertransaksi dengan non-muslim,” ungkap Arief.

Alhasil, jangan sampai menyalahartikan properti syariah dengan konsep perumahan khusus untuk penganut agama Islam saja.

Secara umum, properti syariah adalah jenis properti yang prosedur transaksinya dijalankan sesuai dengan akidah Islam.

Dalam skema pembayaran properti ini menjalankan syariat Islam yang tidak menerapkan prinsip pinjaman seperti bank.

Adapun proses pembelian unit rumahnya bisa dilakukan kepada developer syariah dengan tidak melibatkan orang ketiga atau pihak bank.

Awal Mula Kemunculan Tren Properti Syariah

1. Kesadaran Masyarakat akan Bahaya Riba

bahaya riba

Menurut Arief, jenis properti ini lahir dari kesadaran masyarakat tentang bahaya riba.

Edukasi tentang bahaya riba pun sudah muncul sejak tahun 2015.

Kemudian, banyaknya edukasi mengenai produk halal tersebut membuat industri syariah semakin hari kian naik daun.

“Mulai tahun 2020 sudah terlihat adanya fenomena halal boom sehingga masyarakat semakin aware dengan produk-produk halal. Sampai dicari cap halalnya ketika membeli barang,” ujar Arief.

2. Maraknya Kapitalisasi Perbankan oleh Pihak Asing

Arief menuturkan, properti syariah tidak melulu perihal ideologi, tetapi juga berangkat dari keadaan ekonomi nasional yang sudah banyak dikuasai asing.

“Orang-orang dengan kapital besar yang bisa menguasai sehingga saat ini kita membutuhkan revolusi industri di bidang properti,” katanya.

3. Ketidaksanggupan Pemerintah dan Perbankan Menyuplai Kebutuhan Properti

Pada tahun 2020, ujar Arief, Indonesia membutuhkan 7,6 juta unit rumah untuk memenuhi kebutuhan properti.

Dengan begitu, diperkirakan pada tahun 2025 backlog yang dibutuhkan bisa mencapai 11 juta unit.

Sementara itu, tambahnya, pemerintah dan perbankan hanya bisa menyanggupi 5 juta unit rumah sampai 2024.

“Kekuatan bank dan APBN tidak sanggup menampung backlog itu sehingga ada beberapa stakeholder yang kita temui menyadari bahwa Indonesia butuh industri properti syariah,” tegasnya.

Kemudian, saat ini perumahan tanpa menggunakan dana bank hanya mengisi <1% dari market size property nasional.

4. Masalah Pendanaan Perumahan dari Perbankan Berbasis Hutang dan Bunga

beban-hutang

 

Pendanaan perumahan yang berlaku saat ini hanya melalui perbankan berbasis hutang dan bunga.

Hal tersebut tentu menyalahi syariat agama Islam yang mengharamkan tindakan riba.

“Pelarangan hutang dan bunga sudah ada fatwanya dari MUI sejak 2004,” tambah Arief.

5. Solusi Bagi Masyarakat yang Tidak Bertransaksi di Perbankan

Mengingat tak sedikit masyarakat yang memiliki kesadaran akan bahaya riba membuat mereka tak memiliki akses ke bank.

Oleh sebab itu, properti syariah bisa menjadi solusi bagi mereka karena program tersebut sama sekali tidak melibatkan pendanaan dari bank.

Perbedaan Properti Syariah dan Konvensional

1. Pihak yang Terlibat

Umumnya, proses akad properti konvensional harus melibatkan tiga pihak, yaitu konsumen, developer, dan perbankan.

Sementara properti syariah dalam proses akad jual beli hanya melibatkan konsumen dan developer saja.

2. Proses Transaksi

Berbeda dengan jual beli properti konvensional yang mengenakan bunga dan denda, transaksi properti jenis syariah tidak menggunakan keduanya sama sekali.

Pasalnya, baik bunga maupun denda adalah riba dalam jual beli, yang diharamkan.




3. Mitigasi Kerusakan pada Rumah

asuransi rumah

Umumnya, properti konvensional menggunakan asuransi rumah untuk menanggulangi risiko kerusakan rumah akibat kecelakaan atau bencana alam.

Sementara pada developer syariah tidak menggunakan asuransi.

Pasalnya, akad yang terjadi dalam asuransi mengandung ketidakjelasan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Adapun contoh developer properti syariah yang menerapkan ketentuan tidak memakai asuransi rumah adalah Royal Orchid Syariah.

Pengembang syariah ini menawarkan hunian yang berlandaskan prinsip syariah, salah satunya The Billabong Soeta di Bandung

Selain tanpa asuransi, Arief Sungkar, selaku Founder Pengembang Royal Orchid Syariah Group menuturkan proses transaksi hunian pada pengembang tersebut menerapkan unique selling point (USP) berupa 7T:

  • Tanpa KPR bank
  • Tanpa riba
  • Tanpa sita
  • Tanpa denda
  • Tanpa penalti
  • Tanpa asuransi
  • Tanpa akad bermasalah

4. Kebijakan bagi Konsumen yang Gagal Bayar

Hukuman bagi konsumen yang gagal bayar pada properti konvensional bisa berupa denda dan sita.

Namun, program syariah tidak menggunakan tindakan tersebut.

Ketika konsumen dihadapkan dengan kondisi gagal bayar, developer perumahan syariah akan memberikan pilihan terbaik, sesuai dengan syariat Islam.

Misalnya, ketika ada konsumen yang meninggal dunia, hutang akan ditanggung oleh ahli waris.

“Namun, ketika ahli waris tidak mampu mengangsur, pilihannya rumah tidak akan disita, melainkan dijual bersama,” katanya.

Menurut Arief, hasil penjualan rumah tersebut akan diberikan secara merata ke ahli waris dan developer.

“Jadi, bukan disita dan uang yang telah diangsur hilang, tapi malah dimargin. Developer akan mengambil sisa hutangnya saja, sedangkan ahli waris mengambil total angsuran dan keuntungannya,” tambah Arief.

Pelunasan Cepat

Adapun kasus yang sering terjadi adalah ketika konsumen melunasi angsuran KPR lebih cepat di properti konvensional, biasanya mereka akan mendapatkan denda.

Berbeda dengan properti syariah, produk ini malah memberikan diskon kepada konsumen.

“Diskonnya pun tergantung developer, ada yang 10% atau 20%” ujar Arief.

5. Proses Pembangunan Rumah

Pada properti syariah, pembangunan rumah baru dilakukan setelah konsumen membayar booking fee, DP, dan angsuran atau biasa disebut dengan inden.

Sebenarnya, properti konvensional juga ada yang menerapkan sistem inden, tetapi banyak juga yang menggunakan sistem ready stock.

6. Proses Pemodalan

Pemodalan dan pendanaan pada bisnis properti syariah lebih terbatas daripada konvensional karena proses transaksi di developer yang melibatkan bank dinilai lebih cepat.

Kelebihan dan Kekurangan Properti Syariah

Kelebihan

kelebihan

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik sejumlah kelebihan dari jenis properti tersebut.

Adapun kelebihan properti bisa kamu simak dalam rincian berikut:

  • Bebas riba
  • Tanpa BI checking
  • Jumlah cicilan tetap
  • Akad yang digunakan adalah akad istishna atau akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan rumah dengan menggunakan persyaratan tertentu
  • Tidak ada sistem sita, penalti, dan denda
  • Cicilan yang singkat
  • Memiliki beragam fasilitas yang mendukung kepuasan spiritual, seperti rumah tahfidz dan masjid
  • Rutin mendapatkan edukasi tentang syariat Islam

Kekurangan

kekurangan

Selain memiliki beragam kelebihan, jenis properti ini juga memiliki beberapa kekurangan.

Berikut ini merupakan penjelasan kekurangan properti syariah:

  • Tidak ada asuransi rumah yang menanggung kerusakan rumah
  • Pembangunan dan serah terima unit rumah lebih lama
  • Biaya perawatan besar
  • Besaran cicilan tidak akan turun walaupun suku bunga BI turun
  • Tidak memiliki sertifikasi halal/syariah dari MUI

***

Semoga informasinya bermanfaat, ya.

Baca ulasan menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari rumah aman dan nyaman seperti Botania Lake Residence?

Kunjungi 99.co/id dan rumah123.com untuk menemukan hunian idaman, karena kami selalu #AdaBuatKamu.




Gadis Saktika

Gadis Saktika is an Indonesian Language and Literature graduate who specializes in Linguistics. Aside from that, Gadis is an aspiring content writer. Her experience varies from writing property, lifestyle, and politics. She also uses Google Analytics, Ahrefs, and implements SEO seamlessly in her contents to further enhance the contents she produces.

Related Posts