DIY, Tips & Trik

6 Teknik Hidroponik Mudah yang Dapat Dilakukan di Rumah

21 April 2019
teknik hidroponik
5 menit

Bercocok tanam sayur maupun buah dapat dilakukan dengan mudah menggunakan hidroponik. Setidaknya ada 6 teknik hidroponik yang bisa Anda praktikkan sendiri di rumah. Mau coba?

Bercocok tanam di rumah tentunya menjadi hal yang mengasyikkan. Selain membuat rumah jadi lebih hijau, Anda juga akan mendapatkan udara yang lebih segar.

Sayangnya, keterbatasan lahan menjadi hambatan untuk seseorang bercocok tanam. Anda mengalami hal yang sama?

Tak perlu bingung lagi!

Kini sudah banyak orang yang menggunakan tanaman hidroponik.

Percayakah Anda?

Budidaya menanam secara hidroponik ini akan jauh lebih hemat karena tidak perlu menggunakan media tanam tanah dan juga hanya memerukan sedikit air.

Lebih lanjutnya, kali ini kita akan membahas lebih lajut mengenai apa itu budidaya hidroponik hingga apa saja cara menanamnya.

Langsung saja, ini dia bahasannya:

Hidroponik Adalah…

Sebelum membahas lebih lanjut, satu hal yang perlu diketahui adalah pengertian detail mengenai budidaya hidroponik.

Apakah Anda benar-benar sudah paham?

Nah, sebenarnya budidaya hidroponik adalah:

Menanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya, melainkan menggunakan air.

Meskipun mengguakan air, namun jumlah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak.

Bisa dibilang kebutuhan airnya pun jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan menanam di atas tanah.

Oleh karena itu…

Budidaya seperti ini sangat cocok bagi Anda yang ingin menanam dengan praktis dengan media tanam yang juga hemat.

Kini budidaya hidroponik juga sudah banyak diterapkan di berbagai rumah di Indonesia.

Mulai dari hidroponik skala kecil hingga skala besar.

Hidroponik skala kecil yaitu budidaya yang dilakukan di rumah-rumah, termasuk yang Anda lakukan.

Selanjutnya, hidroponik skala besar di dalamnya terdiri dari budidaya yang digunakan untuk bisnis.

teknik hidroponik

Ada beberapa jenis tanaman yang cukup mudah dan menguntungkan ketika ditanam, yaitu:

  • Selada
  • Tomat
  • Paprika
  • Terong jepang
  • Timun jepang
  • Melon

Nah, dari beberapa tanaman yang ada di atas ada yang mudah yaitu selada, tomat, dan paprika.

Ini juga bisa Anda tanam sendiri di bagian depan rumah atau bahkan di balkon dengan menggunakan paralon.

Tahukah Anda?

Ada enak sistem bercocok tanam hidroponik yang bisa Anda terapkan sendiri di rumah.

Lebih lanjutnya, berikut ini akan kita bahas bersama masing-masing metode dan teknik hidropnik tersebut.

6 Teknik Hidroponik yang Sering Digunakan

1. HIDROPONIK SEDERHANA DI RUMAH: SISTEM SUMBU (WICK)

Sistem ini merupakan sistem yang bisa dibilang paling sederhana, sehingga sangat cocok bagi Anda yang baru memulai untuk bercocok tanam.

Selain mudah, bentuknya pun kecil dan risiko kegagalannya juga tergolong sangat rendah.

Kenapa dinamakan sistem sumbu?

Ini berkaitan dengan cara bercocok tanam yang memberikan asupan nutrisi melalui akar. Selanjutnya, nutrisi tersebut akan disalurkan melalui media dengan menggunakan sumbu.

Ada beberapa media tanam dalam sistem ini, yaitu:

Arang, sekam, kerikil, sabut kelapa, dan media penompang selain tanah lainnya.

Anda bisa memilih salah satunya yang dirasa praktis dan tepat.

Tentu kita akan lebih mempertimbangkan jika mengetahui juga kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihan teknik hidroponik wick system adalah:

  • Bahan yag dibutuhkan tergolong sangat murah
  • Bentuknya sangat sederhana, sehingga sangat cocok untuk pemula;
  • Tidak membutuhkan listrik seperti sistem menanam sistem budidaya hidroponik lainnya;
  • Sangat mudah untuk dipindahkan ke sudut manapun.

Kekurangan teknik hidroponik wick system adalah:

  • Tidak bisa menanam terlalu banyak karena akan sulit untuk mengontrol pH air;
  • Sumbu kapiler terbatas menyalurkan nutrisi, sehingga hanya cocok untuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air.

2. BANYAK DIPAKAI PETANI – SISTEM IRIGASI (FERTIGASI)

Banyak petani di dunia yang sudah sering menggunakan sistem budidaya hidroponik yang satu ini.

Prinsip yang diusung dari sistem irigasi ini adalah meneteskan larutan nutrisi secara terus-menerus sesuai dengan takaran yang dibutuhkan.

Sistem irigasi ini biasanya digunakan untuk menanam sayuran, seperti tomat, cabai, paprika, terong, dan timun jepang.

Ada juga buah yang bisa ditanam, seperti stoberi dan melon.

Teknik yang satu ini juga dikenal dengan hemat biaya karena proses pemupukan hanya dilakukan saat penyiraman.

Ada beberapa alat yang dibutuhkan untuk bercocok tanam menggunakan sistem irigasi, yaitu:

Pipa nutrisi, pompa, polybag, dripper, microtube, timer, nipper, dan wadah penampungan nutrisi.

Melihat peralatannya cukup banyak, maka dibutuhkan juga ruangan yang cukup besar.

Ini dia kelebihan dari sistem irigasi:

  • Pemberian nutrisi bisa disesuaikan dengan usia tanaman
  • Akar jadi lebih mudah dan cepat untuk tumbuh
  • Tanaman dijamin bersih dan bebas penyakit, sehingga kualitasnya lebih baik
  • Bisa menjadi bisnis dengan penghasilan yang menjanjikan.

Sayangnya, ada beberapa kekurangan seperti:

  • Harus menyiapkan modal besar
  • Harus memiliki pengetahuan mengenai tata cara pemberian nutrisi sesuai usia tanaman
  • Harus dikontrol secara berkala
  • Jika ada kesalahan sistem pengairan, pasti berpengaruh pada hasil pertanian.

3. TEKNIK HIDROPONIK PASANG SURUT (EEB & FLOW)

Sistem yang satu ini membutuhkan pompa air yang selanjutnya diatur menggunakan timer.

Bagaimana dengan sistem kerjanya?

Sistem pasang surut akan membanjiri wadah penampung yang berisi tanaman dengan menggunakan air bernutrisi selama periode tertentu.

Proses pembanjiran ini akan terjadi apabila pompa air menyala, sedangkan jika mati maka akan terjadi penyurutan.

Oleh karena itu, pompa air memiliki peran yang sangat penting dari sistem pasang surut ini.

Kelebihan dari sistem hidroponik pasang surut:

  • Sangat mudah dirawat dan dipantau karena tidak membutuhkan penyiraman secara manual
  • Persediaan oksigen akan lebih banyak dan jauh lebih baik.

Kekurangan sistem hidroponikpasang surut:

  • Bergantung pada aliran listrik karena jika mati, maka pompa tak akan berdungsi dan tidak bisa menutrisi tanaman
  • Kualitas tanaman bisa berkurang setelah dipompa berkali-kali.

4. HIDROPONIK SISTEM NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE)

Berhubung namanya cukup panjang, maka kita sebut saja dengan singkatannya yaitu sistem NFT.

Sistem yang dikembangkan di Inggris ini menempatkan tanaman pada aliran nutrisi yang cukup dangkal, sehingga akar tak terendam sepenuhnya.

Meskipun demikian, nutrisi dan oksigen yang akan didapatkan oleh tanaman akan sangat optimal.

Sistem NFT memiliki kelebihan seperti:

  • Aliran air selalu stabil, sehingga tanaman bisa menyerap nutrisi dengan baik dan proses fotosintesis pun akan sangat lancar
  • Sangat cocok jika Anda menanam tanaman yang membutuhkan banyak air
  • Masa tanam jadi jauh lebih singkat, dengan kata lain jadi lebih cepat tumbuh
  • Pengontrolan nutrisi jadi lebih mudah karena ditempatkan dalam satu tempat
  • Setiap tanaman akan mendapatkan komposisi nutrisi yang sama, sehingga hasil pertanian jadi jauh lebih baik

Kalau itu kelebihannya, maka kekurangannya adalah:

  • Perlengkapan yang dibutuhkan tergolong sangat mahal karena cukup banyak komponen yang dibutuhkan
  • Dibutuhkan ilmu yang cukup dan juga ketelitian ekstra, sehingga tidak cocok dicoba untuk pemula karena berisiko gagal
  • Sangat bergantung pada aliran listrik agar kondisi tanaman tetap stabil
  • Sangat rentan terkena penyakit. Apabila ada salah satu tanaman yang terinfeksi, maka kemungkinan akan menyebar cukup tinggi.

5. SISTEM RAKIT APUNG (WATER CULTURE)

Sistem yang satu ini merupakan salah satu cara bercocok tanam hidroponik modern.

Sesuai dengan namanya, cara menanam di media ini cukup mudah. Tanaman akan diletakkan di atas styrofoam yang sudah dibolongi dan nantinya akan mengapung di atas larutan nutrisi.

Penggunaan budidaya ini cocok untuk digunakan dalam skala kecil maupun skala besar, termasuk untuk kebutuhan komersial.

Meskipun modern, sistem yang satu ini tidak akan memakan banyak biaya karena bisa memanfaatkan bahan bekas.

Selain itu, media yang dibutuhkan pun tidak terlalu luas dan tanaman tidak akan rentan layu.

Kelebihan sistem rakit apung adalah:

  • Biaya yang dibutuhkan tidak banyak karena bisa memanfaatkan alat dan bahan yang ada di rumah
  • Alat dan bahan yang dibutuhkan cukup mudah ditemukan
  • Perawatan sangat mudah
  • Tidak terlalu bergantung pada suplai listrik, sehingga akan lebih menghemat pengeluaran
  • Air dan nutrisi yang dibutuhka lebih sedikit, sehingga akan jauh lebih hemat.

Di sisi lain, kekurangannya terdiri dari:

  • Hanya bisa diaplikasikan di dalam ruangan
  • Akar tanaman rentan membusuk karena terus tergenang

6. PENGEMBANGAN HIDROPONIK KONVENSIONAL – SISTEM AEROPONIK

Seperti yang sudah tercatum pada subjudul, metode penanaman yang satu ini merupakan pengembangan dari hidroponik kovensional.

Seperti apa metode penanamannya? Sesuai dengan namanya…

Cara bercocok tanam yang diterapkan yaitu dengan menyemprotkan nutrisi langsung ke tanaman.

Aeroponik sendiri berasal dari kata aero yang artinya adalah udara dan phonic yang artinya menanam.

Berdasarkan hal tersebut, Anda tidak membutuhkan wadah atau membuat aliran untuk menyimpan larutan nutrisi.

Belum terbayang? Begini…

Pada intinya Anda tidak membutuhkan media tanam apapun dan akar tanaman akan disemprot secara berkala menggunakan zat nutrisi berbentuk kabut.

Jangan salah, sistem yang satu ini dapat meningkatkan kualitas dari hasil pertanian, lho!

Hasilnya sendiri dapat dirasakan langsung yaitu tanaman akan terasa lebih segar dan juga enak.

Kelebihan aeroponik terdiri dari:

  • Tidak membutuhkan area tanam yang luas, sehingga bisa dikembangkan oleh siapapun
  • Saat air dan nutrisi disemprotkan, nutrisi bisa saja mengandung oksigen lebih banyak. Ini tentunya dibutuhkan oleh setiap tanaman
  • Kemungkinan tersebar penyakit akan lebih minim karena akar tidak direndam di dalam air, sehingga tak terhubung satu sama lain
  • Tanaman akan mengandung gizi yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan sistem budidaya hidroponik lainnya.

Tentunya sistem yang satu ini juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu:

  • Alat penyemprot nutrisi (sprinkler) cukup sulit didapatkan, terutama di kota kecil dan pedesaan;
  • Membutuhkan listrik saat menyemprotkan nutrisi. Jika listrik tidak ada, maka suplai nutrisi akan terganggu dan berujung layu;
  • Membutuhkan pengetahuan yang luas mengenai tanaman karena sistem yang satu ini cukup rumit;
  • Membutuhkan biaya yang cukup tinggi;

teknik hidroponik

Bagaimana?

Tertarik menerapkan budidaya tanaman dengan teknik hidrponik di rumah?

Kini tak perlu bingung lagi karena Anda hanya perlu memilih salah satu cara yang sudah ada di atas!

Kalau belum ada waktu, tak ada salahnya bagikan atau share artikel ini di media sosial Anda.

Kenapa?

Dengan di-share, maka Anda akan lebih mudah mencarinya ketika akan membacanya lagi di kemudian hari.

Selamat bercocok tanam, ya!

You Might Also Like