Rumah, Tips & Trik

Tips Pengajuan KPR bagi yang Freelance

31 Oktober 2015
tips pengajuan kpr bagi freelancer
3 menit

Seperti diketahui, Kredit Pemilikan Rumah atau KPR saat ini menjadi andalan sebagian besar masyarakat yang ingin memiliki rumah.

Harga properti yang meroket di Jakarta membuat banyak warga kesulitan untuk membeli rumah secara tunai.

Pembelian rumah menggunakan KPR umumnya hanya membutuhkan uang muka atau down payment (DP) kepada developer melalui bank sebesar 30% dari harga rumah, sesuai peraturan pemerintah. Sementara, sisa 70% dibayar dengan cara mencicil setiap bulan.

Skema ini tentunya sangat meringankan mereka yang tidak memiliki uang tunai dalam jumlah banyak untuk membeli properti.

Meski demikian, tidak semua orang bisa mendapatkan fasilitas KPR. Pasalnya, pemberian KPR bisa mencapai ratusan juta.

Itu sebabnya pihak bank sangat berhati-hati memilih nasabah KPR atau orang yang dinilai layak mendapatkan kredit.

Bank akan menganalisa dan menilai tingkat risiko dan kemampuan bayar calon nasabah untuk memastikan hutang atau kredit yang diberikan dapat dilunasi.

Karena nasabah KPR harus membayar sisa kredit dengan cara mencicil setiap bulan, bank harus mengetahui penghasilan nasabah per bulan.

Biasanya, nilai maksimal cicilan yang ditanggung masing-masing nasabah adalah 30% dari pendapatan tetap.

Data pendapatan tetap ini bisa diperoleh bank dari slip gaji dan rekening tabungan bagi karyawan, atau laporan keuangan perusahaan bagi pengusaha yang mengajukan KPR.

Hal ini cukup menyulitkan pekerja lepas (freelancer).

Meskipun memiliki penghasilan tidak jauh berbeda dari pekerja tetap, freelancer umumnya tidak memiliki slip gaji karena tidak terikat dengan perusahaan.

Lantas bagaimana melakukan pengajuan KPR bagi yang freelance?

KPR untuk Freelancer

Cicilan KPR biasanya membutuhkan waktu lama untuk bisa dilunasi, bahkan hingga lebih dari 15 tahun.

Karena itu, pihak bank harus memastikan bahwa kreditur memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan uang setiap bulannya untuk membayar cicilan hingga jatuh tempo.

Meski demikian, masih ada caranya untuk melakukan pengajuan KPR bagi yang freelance.

Namun, berkas atau dokumen yang harus dilengkapi pekerja freelance sedikit berbeda dengan pekerja tetap atau karyawan pada umumnya.

Bagi seorang pekerja freelance yang tidak memiliki slip gaji rutin, Anda bisa melampirkan daftar pelanggan atau klien yang menggunakan jasa Anda.

Semakin banyak klien yang Anda miliki tentu semakin baik agar pihak bank yakin bahwa Anda memiliki pendapatan yang cukup untuk melunasi kredit hingga jatuh tempo.

Selain itu, berikan juga bukti transaksi keuangan atau transfer upah atas ke rekening Anda.

Simak juga beberapa tips ini yang bisa dilakukan agar pengajuan KPR bagi yang freelance dapat diterima pihak bank:

Pastikan Rasio Pendapatan Lebih Besar dari Angsuran

Jika rasio pendapatan Anda selalu lebih besar dibandingkan angsuran atau hutang, maka bank akan lebih mudah mempertimbangkan permohonan KPR.

Karena itu, satu hal yang sangat penting dilakukan freelancer sebelum mengajukan KPR adalah memperbesar rasio pendapatan.

Caranya? Pastikan Anda tidak memiliki utang lain di luar cicilan KPR.

Menurut para pakar perencana keuangan, rasio hutang seseorang sebaiknya tidak melebihi 30%-40% dari pendapatan.

Jika rasio hutang semakin kecil, tentu saja semakin besar porsi pendapatan yang bisa disisihkan untuk ditabung.

Selain itu, catatan Anda di Bank Indonesia semakin baik dan memperbesar peluang mendapatkan kredit.

Menabung lebih banyak

Jika memiliki tabungan yang cukup besar, Anda bisa menggunakannya untuk menambah jumlah uang muka KPR.

Uang muka yang lebih besar akan mengurangi pokok hutang Anda sehingga cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan pun lebih kecil.

Pertimbangkan alternatif pembelian selain KPR

Meskipun memiliki kesempatan mengajukan KPR, pekerja freelance lebih sulit mendapatkan fasilitas KPR dibandingkan karyawan tetap.

Karena itu, Anda bisa mencari opsi lain untuk mendapatkan pinjaman pembelian rumah.

Salah satunya adalah skema kredit in-house, atau kredit yang diberikan langsung dari pihak pengembang atau developer.

Kredit in-house hanya melibatkan Anda dan developer, sehingga prosedurnya cenderung lebih mudah dibandingkan jika berurusan dengan pihak bank.

Selain itu, jika Anda beruntung, Anda juga bisa mendapatkan fasilitas kredit tanpa harus membayar DP. Pasalnya, banyak developer yang menawarkan promo kredit rumah tanpa pembayaran DP demi menarik calon pembeli.

You Might Also Like