Bunga Floating KPR | Definisi, Kelebihan dan Kekurangannya

Bunga Floating KPR | Definisi, Kelebihan dan Kekurangannya

- Septian Nugraha
Bunga Floating KPR | Definisi, Kelebihan dan Kekurangannya

Perhitungan suku bunga floating KPR adalah hal yang perlu Anda ketahui. Utamanya, sebelum membeli hunian dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kredit pemilikan rumah menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan akan hunian pribadi. 

Animo masyarakat untuk mengambil kepemilikan rumah secara kredit pun terbilang tinggi. 

Wajar saja, karena membeli rumah melalui skema KPR dapat menjadi solusi bagi mereka yang ingin memiliki hunian dalam waktu dekat. 

Cukup mempersiapkan dana untuk uang muka dan biaya lain guna keperluan legalitas dan administrasi, Anda sudah bisa mendapatkan hunian idaman.

Meski begitu, Anda tidak boleh luput dalam mempertimbangkan mekanisme pembayarannya, terutama menyangkut bunga yang diterapkan. 

Mekanisme pembayaran KPR lazimnya menerapkan suku bunga floating.

Nah, Anda perlu mengetahui bagaimana perhitungannya agar terhindar dari risiko kredit macet.

Bila hal tersebut terjadi, tentu bisa berakibat fatal. Salah-salah rumah Anda bisa disita oleh pihak bank karena terus menunggak cicilan. 

Banyak pengalaman yang mengisahkan hal tak mengenakan tersebut. 

Maka itu, agar Anda bisa lebih memahami soal suku bunga floating KPR, berikut kami hadirkan ulasannya dalam artikel ini.

Apa itu Suku Bunga Floating KPR?

Apa itu Suku Bunga Floating KPR

Foto: Unsplash

Suku bunga floating KPR adalah produk KPR yang tidak memiliki bunga fix. Biasanya, suku bunga ini berlaku setelah bunga fixed berakhir, meski kadang berlaku sejak awal kredit. 

Suku bunga mengambang ini berlaku fluktuatif, tapi tetap berada maksimal di angka 12 persen.

Perubahan nilai pada bunga mengambang mengacu pada suku bunga Bank Indonesia (BI), suku bunga pasar, atau kebijakan bank pemberi kredit.  

Perubahan nilai suku bunga KPR berpengaruh pada jumlah cicilan yang dibayarkan.

Artinya, nilai cicilan rumah yang harus Anda bayarkan per bulannya bisa mengalami kenaikan atau penurunan dari sebelumnya. 

Misalnya Anda melakukan pengajuan KPR dengan bunga 10 persen pada dua tahun awal, dengan nilai cicilan sebesar Rp1 juta per bulan. 

Akan tetapi karena nilai suku bunga naik menjadi 13 persen, maka pada tahun ketiga jumlah cicilan Anda meningkat menjadi Rp1,3 juta. 

Informasi terkait suku bunga ini bisa Anda dapatkan melalui situs resmi masing-masing bank.

BI sendiri memang mewajibkan semua bank menampilkan suku bunga acuan kreditnya.

Skema Penghitungan Bunga Floating KPR

Skema Penghitungan Bunga Floating KPR

Foto: Unsplash

Terdapat dua skema perhitungan floating, yakni efektif dan anuitas.  

Skema efektif merupakan skema yang menerapkan perhitungan berdasarkan saldo pinjaman dan juga suku bunga KPR

Adapun anuitas merupakan metode perhitungan berdasarkan jumlah angsuran pokok dengan angsuran bunga, yang dibayar secara bersamaan setiap bulannya. 

Mengenai rumus dan cara penghitungannya, simak uraian berikut ini:

Rumus suku bunga adalah; saldo Pokok Pinjaman (SP) x Suku Bunga Setiap Tahun (i) : 12 (jumlah bulan dalam setahun). 

Simulasinya, Anda hendak melakukan pengajuan KPR seharga Rp500 juta dengan tenor 10 tahun. 

Suku bunga yang dikenakan berupa floating sebesar 10 persen, dengan hitungan masa cicilan 1-3 tahun. Kemudian, naik menjadi 12 persen pada tahun keempat hingga seterusnya. 

Maka besaran cicilan yang harus Anda bayarkan selama tiga tahun pertama, ialah Rp4.166.666. 

Dengan penghitungan; Rp500.000.000 x 10% x 3 : 36 = Rp4.166.666.

Memasuki tahun keempat, besaran cicilan akan naik menjadi Rp 5 juta karena terjadi kenaikan suku bunga sebesar dua persen.

Berikut penghitungan besaran cicilan di tahun keempat setelah terjadi kenaikan; Rp500.0000.000 x 12% x 3 : 36 = Rp5.000.000.

Agar lebih mudah, Anda juga bisa menggunakan fitur kalkulator KPR, untuk melakukan penghitungan floating terhadap hunian incaran.

Baca juga:

7 Daftar Bank Penyedia Bunga KPR Murah

Kelebihan dan Kekurangan Bunga Floating 

Kelebihan Bunga Floating

Kelebihan dan Kekurangan Bunga Floating 

Kelebihannya baru bisa dirasakan ketika terjadinya penurunan suku bunga. Pasalnya, ini membuat jumlah cicilan yang Anda bayarkan turun dari sebelumnya.

Semisal pada dua tahun pertama masa cicilan, suku bunga menyentuh angka 12 persen. Sehingga besaran cicilan yang Anda bayarkan adalah Rp1,2 juta per bulan.

Akan tetapi memasuki tahun ketiga dan keempat, terjadi penurunan suku bunga menjadi 11 persen.

Maka, besaran cicilan Anda akan mengalami penurunan menjadi Rp 1,1 juta per bulannya.

Kekurangan Bunga Floating

Sedangkan kekurangan dari bunga mengambang adalah, kecenderungannya yang terus meningkat. 

Hal ini membuat jumlah cicilan selama periode kredit pun akan terus melambung, meski biasanya tidak terlalu signifikan. 

Karena itu, suku bunga ini cocok diajukan bagi Anda yang memang bisa mengambil risiko finansial. 

Jenis Suku Bunga Lain dalam KPR

Jenis Suku Bunga Lain dalam KPR

Foto: Pexels

Selain floating, suku bunga yang sering diterapkan dalam pemberian kredit pemilikan rumah adalah fixed atau tetap. 

Penghitungan fixed ini mengacu plafon KPR dan besaran bunga. Karena itu, besaran biaya pada jumlah kredit biasanya bersifat tetap.

Begitu pula dengan jumlah cicilan yang harus dibayar setiap bulannya. Tidak akan mengalami kenaikan meski terjadi kenaikan suku bunga.

Rumus penghitungan fixed yakni; pokok kredit (p) x bunga dalam per tahun (i) x tenor dalam satuan tahun (t) : tenor dalam satuan bulan.

Itulah ulasan mengenai bunga floating KPR yang patut dipelajari. 

Jangan sungkan untuk terus memperbarui informasi Anda mengenai dunia properti di situs 99.co Indonesia

Kami juga memiliki banyak rekomendasi hunian ideal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Mulai dari rumah tapak di perumahan Mustika Village Sukamulya dan Villa Pesona Anggrek, hingga hunian hybrid di Sembawang Aparthouse.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Cara Mudah Melakukan Simulasi KPR, Wajib Tahu sebelum Beli Rumah

Author

Septian Nugraha