Membangun Fasad Rumah di Kawasan Tropis? Perhatikan Hal Ini!

15 Jun 2020 - Miyanti Rahman

Membangun Fasad Rumah di Kawasan Tropis? Perhatikan Hal Ini!

Foto: Unsplash

Istilah fasad rumah tentu sudah enggak asing lagi bagi yang berkecimpung di dunia arsitektur maupun desain interior.  Tetapi banyak masyarakat awam yang masih asing dengan istilah ini. 

Jadi sebelum membahasnya dan Anda mulai cari rumah, pahami dulu yuk apa itu fasad rumah.

Apa Itu Fasad Rumah?

Fasad merupakan kata yang berasal dari Bahasa Prancis, facade. Kata facade sendiri diambil dari Bahasa Italia, faccia

Lalu kata facade berkembang dan diserap ke dalam beberapa bahasa, seperti Bahasa Inggris, face atau Bahasa Indonesia, fasad yang artinya wajah atau muka.

Jadi, fasad rumah dapat didefinisikan sebagai wajah atau halaman depan sebuah rumah. 

Ya, fasad rumah umumnya mengacu pada sisi luar (eksterior) halaman depan, tetapi kadang-kadang juga meliputi bagian samping dan belakang rumah secara keseluruhan. 

Fasad rumah erat kaitannya dengan penampakan luar bangunan sehingga menjadi bagian pertama yang diperhatikan dan dinilai oleh banyak orang. 

Bagian ini bisa menunjukkan kesan, keunikan, serta karakter sebuah rumah.

Maka tak heran apabila fasad rumah dianggap sebagai bagian yang sangat penting dari sebuah rumah. Sehingga yang terbaik pun dilakukan untuk membuatnya terlihat indah dipandang mata. 

Selanjutnya yuk kita ulas komponen fasad rumah.

Komponen Fasad Rumah


Foto: Unsplash

Fasad rumah enggak hanya terbentuk dari satu komponen. Namun terbentuk dari beberapa komponen, dimana antara komponen yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi dan memiliki ciri khas masing-masing.

Nah, komponen fasad rumah meliputi lima hal  berikut ini.

Gerbang atau Pintu Masuk

Gerbang atau pintu masuk  merupakan akses dari dan menuju suatu tempat, gunanya untuk mengendalikan arus keluar-masuk orang. 

Komponen ini menunjukkan transisi antara bagian publik dan privat sebuah rumah, serta menunjukkan kekuatan pertahanan.

Kesan pertama terhadap sebuah rumah bisa ditangkap dari bentuk dan dekorasi gerbangnya. 

Ada gerbang rumah yang sederhana misalnya hanya pagar saja, ada gerbang monumental, juga ada gerbang yang dekoratif.

Lantai

Lantai di sini mengacu pada bagian permukaan bawah sebuah rumah yang bisa terbuat dari kayu, batu alam, bambu, metal, keramik, dan lain-lain. 

Komponen ini merupakan transisi sebuah rumah ke tanah atau pondasi bangunan.

Nah, karena merupakan transisi sebuah rumah ke tanah atau pondasi bangunan, maka lantai harus dibangun dengan sangat kokoh. 

Komponen ini harus dibuat lebih tahan lama dibanding komponen fasad rumah lainnya.

Pintu Masuk dan Jendela

Pintu masuk merupakan bagian yang tak tergantikan. 

Setelah gerbang, komponen inilah yang memberi kesan kepada tamu sehingga pemilik rumah sering mendesain pintu rumahnya semenarik mungkin. Bagian ini juga menunjukkan gengsi pemilik rumah.

Lalu ada jendela yang biasanya dipasang menempel pada dinding, gunanya sebagai tempat masuk udara dan cahaya untuk menerangi ruang dalam yang gelap. 

Selain itu, jendela juga memungkinkan penghuni rumah melihat pemandangan dari dalam ke luar rumah.

Railing

Istilah railing mungkin sedikit asing di telinga ya

Komponen ini mengacu pada konstruksi besi sekaligus pegangan atau dikenal juga dengan pagar lantai. 

Railing digunakan sebagai pengaman, juga bisa menambah kesan dekoratif sebuah rumah.

Railing pada umumnya mengacu pada railing tangga atau railing balkon yang berfungsi untuk menjaga keselamatan. 

Namun sebagai komponen fasad rumah, railing merupakan pembatas fisik yang menjaga ruang dalam rumah agar tetap aman, dan biasanya dipasang menempel dengan pintu.

Atap

Atap merupakan bagian paling atas sebuah rumah yang berguna untuk melindungi penghuni dari panas dan hujan. 

Komponen ini merupakan transisi sebuah bangunan rumah dan langit, serta menunjukkan kesan sebagai pelindung rahasia pemilik rumah.

Komponen ini di dunia arsitektur mempunya dua tipe, yaitu tipe atap mendatar (face style) dan tipe atap menggunung (alpine style). 

Baik tipe mendatar maupun tipe menggunung, bentuk atap rumah harus bisa mengalirkan air supaya jatuh.

Perhatikan Ini Saat Membangun Fasad Rumah

Sudah dipaparkan sebelumnya bahwa fasad rumah merupakan bagian yang erat kaitannya dengan penampakan luar bangunan.

Lalu juga bagian pertama yang diperhatikan dan dinilai banyak orang, sehingga unsur visual mutlak harus diperhatikan.

Namun  hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah material.

 Setidaknya ada dua material yang sering diaplikasikan untuk membangun fasad rumah, yaitu plester aci dengan finishing cat dan batu alam. 


Foto: Unsplash

Plester aci dengan finishing cat merupakan material yang sering digunakan untuk membangun fasad berbagai jenis bangunan, enggak hanya rumah. 

Material yang satu ini banyak digunakan karena mudah didapatkan dan mudah dalam pengerjaannya.

Sementara fasad rumah dengan material batu alam merupakan tren kekinian. 

Adapun batu alam yang sering digunakan, yaitu marmer, andesit, palimanan, candi, keramik, batu kali, lempengan dan masih banyak lagi.

Batu alam sebagai material untuk fasad rumah biasanya dipasang untuk memenuhi dinding rumah bagian depan atau hanya sebatas aksen dari fasad rumah. 

Baca juga:

Aneka Desain Pagar Batu Alam Minimalis

Batu alam favorit yang sering digunakan untuk fasad rumah di antaranya batu alam candi, andesit dan palimanan.

Tahukah Anda, sebuah jurnal menyebutkan bahwa material yang digunakan untuk membangun fasad rumah akan mempengaruhi suhu dalam ruangan? 

Katanya, beban panas kulit bangunan mempengaruhi 80% suhu rumah tinggal.

Secara tak langsung, hal tersebut akan turut mempengaruhi penggunaan energi listrik. 

Itulah mengapa saat membangun fasad rumah di kawasan tropis, seperti Indonesia, material yang digunakan sangat penting untuk diperhatikan.

Lalu, material apa yang sebaiknya digunakan? Plester aci dengan finishing cat atau batu alam?

Ya, tinggal di kawasan tropis membuat kita lebih suka suhu ruangan yang sejuk, karena di luar ruangan suhunya sudah panas dan bikin gerah. 

Oleh sebab itu, saat membangun fasad rumah perlu material yang tepat untuk membuat suhu ruangan lebih dingin.

Nah, material yang tepat untuk membuat suhu ruangan lebih dingin adalah batu alam. 

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Riptek Volume 5 tahun 2011 milik Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) menunjukkan buktinya.

Menurut jurnal tersebut, penurunan suhu dalam  ruangan sangat signifikan terjadi pada dinding fasad rumah yang berlapis batu alam.

Namun penggunaan material yang satu ini masih perlu dilengkapi dengan sun shading atau tritisan.

Tritisan merupakan bagian atap tambahan yang berdiri sendiri, tetapi juga bisa bagian dari atap utama. 

Atap tambahan yang menjorok ke luar ini berguna untuk menahan panas sinar matahari dan air saat musim hujan tiba.

Pada dinding fasad rumah tritisan bisa mengantisipasi terpaan panas pada pukul 12.00 hingga 16.00. 

Nah, pada jam-jam inilah terdapat kenaikan suhu dinding lapis batu alam sehingga penggunaan tritisan akan sangat membantu.

Baca juga:

Cara Memasang Batu Alam Dinding dan Tips Perawatannya

Jika suhu ruangan turun, maka Anda tak perlu menggunakan air conditioner (AC) untuk membuat suasana rumah lebih sejuk dan nyaman. 

Dengan begitu, listrik lebih hemat karena penggunaannya berkurang, kan?

Semoga informasi ini bermanfaat ya...

Author:

Miyanti Rahman