Mengenal Konsep Penataan Ruang, dari Mixed Use hingga Waterfront

23 Jun 2020 - Miyanti Rahman

Mengenal Konsep Penataan Ruang, dari Mixed Use hingga Waterfront

Foto: Unsplash

Penataan ruang di wilayah kota perlu dilakukan dengan langkah yang tepat. Pasalnya, penghuni kawasan urban semakin padat, seiring dengan meningkatnya arus urbanisasi dari tahun ke tahun.

Urbanisasi tersebut berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, salah satunya kebutuhan akan tempat tinggal. 

Masalahnya, hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan.

Semakin tinggi permintaan akan tempat tinggal, semakin sempit lahan yang tersedia, sehingga perlu alternatif untuk menyiasati permasalahan tersebut.

Mereka yang bergerak di sektor properti pun enggak tinggal diam. 

Para developer menawarkan solusi dengan membangun hunian-hunian vertikal yang mengusung macam-macam konsep penataan ruang di wilayah perkotaan.

Setiap konsep penataan ruang yang diusung bertujuan untuk menciptakan suasana aman dan nyaman bagi setiap orang yang tinggal dalam kota. 

Selain itu, juga bertujuan untuk menyediakan tempat tinggal yang layak dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Mungkin Anda pernah mendengar hunian vertikal yang dibangun di kawasan superblok

Nah, superblok merupakan salah satu konsep penataan ruang yang banyak dikembangkan oleh developer guna mengoptimalkan fungsi lahan sempit.

Selain superblok, tentu masih banyak lagi konsep penataan ruang lainnya yang patut diketahui. 

Apa saja ya? Simak ulasan berikut ini.

Central Business District (CBD)

Anda yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi mungkin sudah tak asing lagi dengan istilah Central Business District (CBD). 

CBD merupakan konsep  penataan ruang di wilayah kota yang banyak diaplikasikan saat ini.

Penataan ruang dengan konsep CBD menempatkan pusat bisnis dan komersial. 

Seperti kawasan perdagangan, produk dan jasa, serta kebudayaan dalam satu lingkup, dan mudah dijangkau oleh kendaraan pribadi maupun moda transportasi utama.

Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa kawasan seperti di kawasan Olympic Central Business District (OCBD), Senayan City, dan lain-lain, penataan ruang dengan konsep CBD terdiri dari blok-blok bangunan yang memiliki fungsi tunggal dan ganda.

Sebagai pusat bisnis dan komersial, kawasan CBD merupakan tempat transaksi bisnis dan keuangan dalam jumlah besar terjadi. 

Adapun karakteristik kawasan ini, yaitu populasi penghuninya sangat kecil dan hanya padat pada hari dan jam kerja saja. 

Penataan ruang dengan konsep CBD terbagi menjadi dua. 

Pertama Retail Business District (RBD) tempat pusat perbelanjaan, hiburan, rekreasi dan sosial berada. 

Kedua Wholesale Business  District (WBD), yaitu tempat pergudangan (warehouse) dan gedung penyimpanan barang (storage buildings) berada.

Properti ritel dan perkantoran di kawasan ini jumlahnya sangat banyak dibandingkan dengan di kawasan lainnya. 

Namun diperhitungkan secara cermat, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas dan mudah dicapai dari berbagai arah.

Superblok

Foto: Unsplash

Ya, penataan ruang dengan konsep superblok sudah disinggung sedikit di atas. 

Kawasan superblok merupakan perluasan dari kawasan CBD sehingga fungsinya bertambah, bukan hanya pusat bisnis dan komersial saja.

Kawasan superblok juga berfungsi sebagai hunian dimana ada apartemen, lalu juga ada fasilitas sosial lainnya seperti sekolah, rumah sakit, tempat rekreasi, exhibition hall dan lain-lain. 

Penataan ruang di wilayah kota dengan konsep superblok bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan memaksimalkan fungsi lahan sempit. 

Kawasan superblok memungkinkan penghuni untuk mengakses segala kebutuhan dalam satu area.

Tinggal di kawasan superblok membuat penghuni tidak perlu berkendara lebih jauh ke luar kawasan sehingga mobilitas pun lebih efektif dan efisien. 

Dengan begitu kualitas hidup yang lebih baik bisa tercapai, karena lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya transportasi.

Kawasan superblok disebut juga dengan sebutan kota mandiri, karena penghuninya bisa tinggal, bekerja dan berekreasi (live, work & play district) dalam satu area. 

Selain itu, kawasan ini juga sering disebut kota dalam kota.

Mixed Use

Penataan ruang dengan konsep mixed use hampir sama dengan superblok. 

Mixed use berusaha menyatukan berbagai aktivitas penghuni dalam bangunan-bangunan yang dibuat multifungsi atau disebut juga mixed use building.

Perbedaan antara mixed use dan superblok, yaitu kawasan superblok memungkinkan penghuninya untuk mengakses segala kebutuhan di satu area, tetapi bangunannya berbeda. 

Sementara mixed use menggunakan bangunan yang sama.

Mixed use building setidaknya memiliki lebih dari tiga fungsi urban, yaitu fungsi retail, perkantoran, pendidikan, hunian, rekreasi dan hiburan. 

Pembangunan mixed use building dilakukan guna memaksimalkan pembangunan di atas lahan kecil.

Penataan ruang dengan konsep mixed used bisa membuat hidup lebih efektif dan efisien lagi, karena semua kebutuhan bisa diakses dalam satu bangunan. 

Contoh mixed use building di antaranya Southgate Residence dan Apartemen Bassura City.

Mixed use building biasanya dibangun di lokasi yang sangat strategis, misalnya pusat kota. 

Mengingat kondisi di wilayah kota yang semakin padat penduduk, maka penataan ruang dengan konsep mixed use dianggap sebagai strategi yang tepat. 

Transit Oriented Development (TOD)

Foto: Unsplash

Pernah mendengar istilah Transit Oriented Development (TOD)? 

Nah, jika superblok dan mixed use dibangun untuk mengatasi permasalahan lahan, maka penataan ruang dengan konsep TOD dibangun untuk mengatasi permasalahan transportasi.

Ya, penataan ruang dengan konsep TOD memang sedang gencar dilakukan di berbagai kawasan hunian. TOD sendiri merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah kemacetan di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

TOD adalah konsep penataan ruang yang mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi publik. 

Nah, pemukiman yang menerapkan konsep ini dekat dengan titik-titik pemberhentian angkutan umum seperti Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Rel Terpadu (LRT) dan lain-lain. 

Selain itu, TOD juga mendorong masyarakat agar semangat jalan kaki. Beberapa negara maju di benua Amerika dan Eropa banyak yang menerapkan penataan ruang dengan konsep ini, begitu juga Tokyo, Jepang dan Seoul, Korea Selatan.

Penataan ruang dengan konsep TOD diprediksi akan semakin booming, karena akan memudahkan mobilitas masyarakat ke tempat kerja, sekolah, universitas, pusat perbelanjaan dan lain-lain. 

Contoh hunian yang menerapkan konsep TOD, yaitu perumahan Citra Maja Raya.

Waterfront

Waterfront merupakan penataan ruang di daerah tepian air, baik itu air laut, sungai, maupun danau. 

Wajar apabila penataan ruang dengan konsep ini banyak diterapkan di Indonesia, karena sebagian besar wilayahnya adalah perairan.

Kawasan waterfront biasanya berada di titik pertemuan antara darat dan air, serta dataran rendah yang sering terjadi erosi dan sedimentasi. 

Struktur tanahnya lembek dan rawan terhadap gelombang air pasang.

Penataan ruang dengan konsep waterfront harus memenuhi beberapa kriteria, salah satunya berfungsi sebagai permukiman, tempat rekreasi, dan pelabuhan. 

Nah, jika ditinjau berdasarkan fungsi, maka waterfront dibedakan menjadi empat jenis.

Pertama adalah working waterfront meliputi kawasan komersial industri perairan dan pelabuhan. 

Kedua yaitu recreational waterfront yang meliputi kawasan rekreasi yang menyediakan macam-macam sarana dan prasarana seperti playground, tempat mancing, fasilitas kapal pesiar dan sebagainya.

Lalu ada residential waterfront yang meliputi kawasan perumahan, hotel, apartemen dan lain sebagainya yang dibangun di sisi air. 

Terakhir, mixed use waterfront meliputi kawasan perumahan, perkantoran, pusat kuliner dan fasilitas sosial. Salah satunya adalah Waterfront Estate.

Nah, itulah lima konsep penataan ruang di wilayah kota dan perairan yang sering diaplikasikan untuk kawasan hunian. 

Semoga bisa menambah wawasan dan membantu Anda saat mencari properti pilihan ya.

Author:

Miyanti Rahman