
Foto: Pexels
Mempunyai rumah sendiri adalah salah satu keinginan yang sulit diwujudkan oleh kebanyakan orang, terutama keluarga baru dan anak muda, yang secara finansial belum stabil.
Dari banyaknya solusi yang ditawarkan, cohousing adalah pilihan menarik yang patut dipertimbangkan.
Konsep cohousing atau community housing sendiri bukanlah hal baru di dunia properti, terutama di Eropa dan Amerika. Namun memang hal ini termasuk konsep baru yang ada di Indonesia.
Banyak yang memprediksi konsep ini merupakan salah satu alternatif hunian milenial maupun keluarga muda.
Tapi sebenarnya apa sih cohousing? Apakah ini bisa menjadi solusi untuk masalah hunian di Indonesia?
Mari simak pembahasannya!
Apa Itu Cohousing?
Foto: Arc Daily
Seperti disebutkan tadi, cohousing merupakan singkatan dari community housing (hunian komunitas).
Di sini sebuah grup/komunitas merencanakan, membiayai dan membangun rumah secara bersama-sama di satu lahan yang sama dan memiliki ruang-ruang komunal di dalamnya.
Semua yang dibangun di proyek cohousing didasari atas dasar kepentingan bersama-sama dan setiap individu diberikan kesempatan untuk merencanakan tempat tinggalnya.
Kurang lebih seperti kita urunan untuk membangun hunian bersama.
Ide cohousing sendiri berawal dari Denmark pada era 1960-an dan berkembang ke berbagai negara tetangga.
Sekarang konsep ini sudah tidak asing digunakan di Eropa hingga Amerika.
Keuntungan dari Cohousing
Foto: Word & Way
Meskipun terbilang baru, konsep cohousing sebenarnya merupakan salah satu konsep properti yang menarik banyak orang, karena bisa membangun sebuah komunitas hunian yang sangat dekat satu sama lain.
Lebih Hemat
Salah satu keuntungan dari membangun hunian berkonsep cohousing adalah lebih hemat.
Tanpa developer, calon penghuni punya keleluasaan membangun rumah idaman mereka dengan bujet terbatas.
Konsep patungan sendiri juga dapat menjadi solusi atas harga rumah yang terus naik dari tahun ke tahun.
Komunitas dengan Visi yang Sama
Selain itu juga adanya kebebasan untuk memilih siapa yang akan menjadi tetangga kita.
Karena ini adalah sebuah hunian berbasis komunitas, maka tentu yang akan menjadi tetangga adalah orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Jadi ketika ada masalah di hunian ini, kolaborasi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan sama akan mempermudah pencarian solusi.
Tantangan Cohousing di Indonesia
Foto: Google Images
Meskipun cohousing adalah sebuah konsep yang menarik, bukan berarti hunian jenis ini berjalan tanpa kendala.
Hingga saat ini, konsep rumah seperti ini masih belum umum dan familiar.
Meskipun terdengar sangat menarik, ada beberapa tantangan yang mesti dijawab untuk para peminat cohousing di Indonesia.
Dilansir dari Tirto, berikut tantangan pembangunan dan pengembangan konsep cohousing.
Mencari Calon Penghuni yang Satu Pemikiran
Meskipun sama-sama berminat, bukan berarti semua orang satu pemikiran dengan kita.
Jadi, menemukan calon penghuni dan membentuk komunitas kecil yang akan menempati cohousing adalah sebuah tantangan tersendiri.
Masalah Pembiayaan dan Pembangunan
Cohousing memang dibangun dengan semangat ‘urunan’. Tapi bukan berarti hal tersebut mempermudah masalah pembiayaan.
Komunitas ini tentunya harus membicarakan tentang skema pembiayaan yang cocok dan bisa dikembangkan dengan cara ini.
Bahkan dengan konsep yang masih tergolong asing di pasar properti Indonesia, belum tentu bank juga mendukung dalam pembiayaan rumah seperti ini melalui produk KPR atau yang lainnya.
Lalu masalah selanjutnya adalah pembangunan itu sendiri. Mulai dari pemilihan kontraktor bangunan, biaya konstruksi, fasilitas cluster dan segala teknis lainnya yang butuh dimusyawarahkan bersama.
Jadi, jika memang konsep hunian seperti ini mau berkembang di Indonesia, maka tantangan-tantangan ini harus dijawab oleh mereka yang berminat pada konsep cohousing.
Tapi dengan keberhasilan konsep ini di berbagai negara, bukan tidak mungkin hal sama bisa terjadi di Indonesia bukan?
Itulah penjelasan singkat tentang konsep hunian, cohousing. Semoga informasi ini bermanfaat dan menjawab rasa penasaran Anda ya!
Baca juga: