Syarat Jual Beli dalam Islam agar Transaksi Sah dan Sesuai Syariat

8 Apr 2020 - Imam

Syarat Jual Beli dalam Islam agar Transaksi Sah dan Sesuai Syariat

Agama Islam membolehkan siapa pun untuk secara bebas menukar atau jual beli barang dan jasa. 

Dan merupakan hal yang sangat dilarang dalam Islam bagi siapa pun mengambil barang milik orang lain dengan cara yang tidak adil atau batil. 

Topik keadilan dan kepatutan menjadi hal yang sangat penting dan banyak dibahas khususnya dalam perkara pertukaran dan jual beli barang maupun jasa. 

Cara-cara yang batil dalam pertukaran yang dilarang dalam Islam dapat berupa tindakan-tindakan di bawah ini: 

  • Perjudian

  • Praktik riba

  • Ketidakjelasan dalam persetujuan yang dapat dimanfaatkan oleh salah satu pihak

  • Penipuan

  • Pengukuran yang salah

  • Pencurian

  • Penyuapan

Kitab suci Al-Qur'an menyerukan kepada umat Islam supaya melakukan pertukaran melalui jual beli atau yang disebut sebagai tijarah dan disertai dengan kesepakatan bersama yaitu tarad.

Pengertian Jual Beli dalam Islam


Dalam bahasa Arab, kata "Al Bay" berarti jual beli, yang secara harfiah memiliki makna pertukaran atau mubadalah. Kata ini dipakai untuk menyebut penjualan maupun pembelian. 

Jual beli dalam Islam adalah pertukaran sebuah barang untuk mendapatkan barang lainnya, atau mendapat kepemilikan dari suatu barang yang dibayar melalui suatu kompensasi atau iwad.

Praktik jual beli dalam Islam sangat penting kedudukannya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya aturan dan larangan yang tertulis dalam Al-Qur'an mengenai rukun dan syarat jual beli dalam Islam.

Rukun dan Syarat Jual Beli dalam Islam


Jual beli dalam syariat Islam memiliki arti "pertukaran suatu barang yang memiliki nilai dengan barang yang memiliki nilai lainnya atas kesepakatan bersama." 

Melihat pengertian jual beli dalam Islam ini, syarat jual beli dalam islam pada umumnya cukup sederhana. Berikut ini beberapa ketentuan penting yang harus ada dalam rukun dan syarat jual beli dalam Islam:

  • Pihak penjual dan pembeli yang bertransaksi

  • Barang atau jasa yang akan diperjualbelikan

  • Harga yang dapat diukur dengan nilai uang atau barang lainnya

  • Serah terima

Semua rukun di atas harus ada, kalau salah satu saja tidak terpenuhi, maka jual beli tidak dapat dilakukan dan tidak sah.

Syarat Jual Beli dalam Islam Selengkapnya


Di atas telah dijelaskan rukun jual beli dalam islam yang harus ada. Selanjutnya akan dibahas dengan lebih terperinci apa mengenai poin-poin di atas. Di bawah ini merupakan syarat jual beli dalam Islam selengkapnya.

1. Kesepakatan Bersama

Suatu tindakan jual beli sah dengan syarat harus ada kesepakatan bersama. Hal ini berdasarkan surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi: 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu."


Di zaman modern ini, memerlukan tafsiran yang lebih luas mengenai kesepakatan bersama ini. Contoh kasusnya, Anda ingin membeli minuman bersoda dari mesin. 

Tentunya hal ini sangat berbeda dengan transaksi jual beli yang umumnya terjadi antara dua orang manusia. Apakah transaksi itu sah menurut Islam? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut ini ada tiga pendapat dari para ulama mengenai kesepakatan bersama:

  1. Kesepakatan bersama hanya dapat diungkapkan melalui kata-kata yang kita ketahui sebagai ijab kabul.

  2. Kesepakatan bersama harus diungkapkan melalui kata-kata dan dapat diungkapkan melalui tindakan yang telah biasa dilakukan. Selain melalui kata-kata, syarat jual beli dapat dipenuhi melalui sikap yang menandakan kesepakatan. Contohnya Anda membeli air minum botolan dan penjual tidak berbicara apa-apa selama transaksi. Jual beli ini tetap sah dalam Islam.

  3. Kesepakatan bersama dapat dicapai oleh apa pun yang menunjukannya, baik itu melalui kata-kata atau sikap.

Kesimpulannya, transaksi jual beli menjadi sah ketika dapat memenuhi salah satu dari tiga poin syarat syarat jual beli dalam Islam di atas yang telah dikaji dan dikemukakan para ulama dan pelajar ilmu fikih.

Baca juga:

Mau Investasi Properti Syariah? Ini yang Perlu Diketahui

2. Penggunaan Akal Sehat


Transaksi jual beli dalam Islam wajib dilakukan oleh dua pihak yang sehat secara akal dan melihat konteks transaksi. 

Contoh kasus yang bisa dikatakan tidak sah berdasarkan aspek akal sehat adalah ketika pihak penjual merupakan seorang anak kecil yang berlaku di luar kuasanya. 

Jika anak kecil ini tiba-tiba menjual mobil ayahnya tanpa sepengetahuan, maka jual beli tidak sah. Beda ceritanya dengan contoh lain ketika ada seorang anak kecil yang menjaga toko milik orangtuanya. Tidak ada salahnya jika anak kecil tersebut menjual barang dagangannya pada Anda.

Kembali lagi pada kasus transaksi jual beli dengan mesin. Bagaimana kita dapat mengukur aspek akal sehat dalam pertukaran demikian ketika kita melakukan transaksi dengan mesin? 

Jawabannya adalah kita jangan melihat mesin tersebut sebagai pihak penjual. Pihak penjual dalam contoh ini ialah perusahaan yang menggunakan mesin itu sebagai metode pembayaran. Jual beli tersebut tetaplah sah.

4. Barang yang Diperjualbelikan Harus Dimiliki Penjual


Poin ini melarang jual beli dimana seorang penjual menjanjikan barang yang sebenarnya tidak dimilikinya. 

Misalnya ada dua orang yang sedang mengobrol, sebut si A dan B. A ingin membeli mobil dari teman B, sebut saja si C. Lalu B menjanjikan bahwa dia dapat membantu A membeli mobil milik C. A dan B melakukan ijab kabul. Selanjutnya B membeli mobil C dan menjualnya kepada A. 

Transaksi ini tidak sah dalam Islam karena B sebenarnya belum memiliki mobil tersebut ketika mereka melakukan serah terima. Bisa saja C menolak untuk menjual mobilnya kepada B, maka B tidak bisa memenuhi transaksinya pada A.

5. Pihak Penjual Harus Bisa Menyerahkan Barang pada Pembeli


Poin ini dalam syarat-syarat jual beli merupakan sesuatu yang sifatnya mendasar. Jual beli tidak sah jika barang yang diperjualbelikan tidak dapat diserahkan kepada pembeli. Contohnya, menjual burung yang masih terbang di langit atau menjual barang yang tidak dapat diambil karena barang berada di zona yang sedang diisolasi karena wabah penyakit.

6. Harga Barang Harus Diketahui

Informasi harga dari barang atau jasa yang dijual harus disampaikan dan diketahui oleh pihak pembeli baik itu dengan cara diperlihatkan atau melalui penjelasan.

7. Barangnya Harus Diketahui


Informasi tentang kondisi barang dapat diketahui melalui cara dilihat langsung atau melalui deskripsi, dan audio-visual. Pembeli tetap dapat menolak melanjutkan transaksi jika komoditas yang dilihatnya ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.


Nah, itulah informasi selengkapnya mengenai rukun dan syarat jual beli dalam Islam. Semoga setelah membaca tulisan ini, Anda dapat lebih teliti dalam melakukan transaksi jual beli agar selalu sesuai dengan syariat.

Baca juga:

Contoh Surat Jual Beli Tanah Lengkap Berdasarkan Jenis dan Fungsinya


Author:

Imam