Begini Rukun dan Syarat Jual Beli Rumah dalam Islam

Begini Rukun dan Syarat Jual Beli Rumah dalam Islam

- Imam
Begini Rukun dan Syarat Jual Beli Rumah dalam Islam

Ingin beli rumah lewat proses yang sesuai dengan syarat jual beli dalam agama Islam? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel ini. 

Syariat Islam mengejawantahkan jual beli sebagai pertukaran suatu barang yang memiliki nilai, dengan barang yang memiliki nilai lainnya atas kesepakatan bersama.

Praktik jual beli dalam Islam memiliki kedudukan yang penting.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya aturan dan larangan yang tertulis dalam Al-Qur'an mengenai rukun dan syarat jual beli dalam Islam.

Rukun Jual Beli Rumah dalam Islam

Rukun Jual Beli Rumah dalam Islam

Rukun jual beli dalam Islam sejatinya sangat sederhana dan amat mudah untuk dipraktikkan.

Berikut adalah beberapa ketentuan penting yang harus ada dalam rukun dan syarat jual beli dalam Islam:

  • Pihak penjual dan pembeli yang bertransaksi
  • Barang atau jasa yang akan diperjualbelikan
  • Harganya bisa diukur dengan nilai uang atau barang lain
  • Serah terima.

Semua rukun di atas harus ada, kalau salah satu saja tidak terpenuhi, maka jual beli tidak dapat dilakukan dan tidak sah.

Baca juga:

Mau Investasi Properti Syariah? Ini yang Perlu Diketahui

Syarat Jual Beli dalam Islam

Syarat Jual Beli dalam Islam

Di atas telah dijelaskan rukun jual beli dalam Islam yang harus ada. 

Selanjutnya akan dibahas dengan lebih terperinci apa mengenai poin-poin di atas.

Di bawah ini merupakan syarat jual beli dalam Islam selengkapnya.

Kesepakatan Bersama

Kesepakatan Bersama

Suatu tindakan jual beli sah dengan syarat harus ada kesepakatan bersama. Hal ini berdasarkan surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi: 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu."

Contoh kasusnya, Anda hendak membeli rumah di Sukamanah Islamic Village dengan skema kredit kepada developer.

Pada prosesnya, penjual dan pembeli akan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan bersama dalam aktivitas jual beli tersebut. 

Kesepakatan tidak hanya menyangkut harga atau skema pembayaran, tetapi juga penyelesaian masalah jika pembeli terlambat atau gagal memenuhi kewajiban dalam melunasi cicilan rumah

Mengingat, tidak adanya sistem denda dan sita dalam jual-beli yang berlandaskan syariat Islam.

Maka penyelesaian masalah tersebut harus dibicarakan dan disepakati kedua pihak. 

Biasanya, penyelesaian yang ditawarkan oleh developer property syariah dalam penyelesaian masalah tersebut adalah, memberikan tambahan waktu kepada pembeli untuk bisa membayar kewajibannya. 

Namun apabila pembeli sudah tidak memiliki kemampuan menyelesaikan kewajibannya, maka developer akan menyarankan pembeli untuk menjual rumah tersebut kepada pihak lain. 

Nantinya, hasil penjualan rumah itu bisa digunakan untuk melunasi utang pembelian rumah. 

Penggunaan Akal Sehat

Penggunaan Akal Sehat

Transaksi jual beli dalam Islam wajib dilakukan oleh dua pihak yang sehat secara akal dan melihat konteks transaksi. 

Contoh kasus yang bisa dikatakan tidak sah berdasarkan aspek akal sehat adalah, ketika pihak penjual merupakan seorang anak kecil yang berlaku di luar kuasanya. 

Jika anak kecil ini tiba-tiba menjual rumah ayahnya tanpa sepengetahuan, maka jual beli tidak sah. 

Beda ceritanya dengan contoh lain ketika ada seorang anak kecil yang menjaga toko milik orangtuanya. 

Tidak ada salahnya jika anak kecil tersebut menjual barang dagangannya kepada Anda.

Baca juga:

Ingin Rumah Segera Laku? Begini Cara Cepat Jual Rumah Menurut Islam

Barang yang Diperjualbelikan Harus Dimiliki Penjual

Barang yang Diperjualbelikan Harus Dimiliki Penjual

Poin ini melarang jual beli di mana seorang penjual menjanjikan barang yang sebenarnya tidak dimilikinya. 

Misalnya Iwan mengutarakan keinginannya kepada Sandi untuk membeli rumah milik Bobby di Precium Cipete

Bobby sendiri adalah teman dari Sandi, dan Sandi menganggap keinginan Iwan sebagai peluang. 

Kemudian, Sandi menjanjikan untuk bisa membantu Iwan mendapatkan rumah tersebut. Keduanya pun melakukan ijab kabul. 

Selanjutnya Sandi membeli rumah Bobby dan menjualnya kepada Iwan. 

Transaksi ini tidak sah dalam Islam, karena Sandi sebenarnya belum memiliki mobil tersebut ketika mereka melakukan serah terima. 

Bisa saja Bobby menolak untuk menjual mobilnya kepada Sandi, maka Sandi tidak bisa memenuhi transaksinya kepada Iwan.

Pihak Penjual Harus Bisa Menyerahkan Barang pada Pembeli

Pihak Penjual Harus Bisa Menyerahkan Barang pada Pembeli

Poin ini dalam syarat-syarat jual beli merupakan sesuatu yang sifatnya mendasar. 

Jual beli tidak sah jika barang yang diperjualbelikan tidak dapat diserahkan kepada pembeli. 

Contohnya, menjual burung yang masih terbang di langit atau menjual barang yang tidak dapat diambil karena barang berada di zona yang sedang diisolasi karena wabah penyakit.

Harga Barang Harus Diketahui

Harga Barang Harus Diketahui

Informasi harga dari barang atau jasa yang dijual harus disampaikan dan diketahui oleh pihak pembeli, baik itu dengan cara diperlihatkan atau melalui penjelasan.

Barangnya Harus Diketahui

Barangnya Harus Diketahui

Informasi tentang kondisi barang dapat diketahui melalui cara dilihat langsung atau melalui deskripsi dan audio-visual. 

Pembeli tetap dapat menolak melanjutkan transaksi jika komoditas yang dilihatnya ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.

Nah, itulah informasi lengkap mengenai rukun dan syarat jual beli dalam Islam.

Sedang mencari rumah yang proses pembayarannya menggunakan sistem syariah? Temukan rekomendasinya di laman 99.co Indonesia

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Cara Cepat Punya Rumah Menurut Islam yang Wajib Kamu Tahu!

Author

Imam