Mau Beli Rumah? Cek Dulu Simulasi KPR Syariah Berikut Ini!

7 Agt 2020 - Ferry Fadhlurrahman

Mau Beli Rumah? Cek Dulu Simulasi KPR Syariah Berikut Ini!

foto: unsplash


Jika anda tertarik untuk membeli rumah, ada beberapa skema yang bisa dipakai. 


Salah satunya adalah menggunakan KPR Syariah. Tapi apakah anda tahu, skema pembayaran KPR Syariah berbeda dari KPR konvensional?


Bahkan dari hitungan, simulasi KPR Syariah juga sangat berbeda. 


Di tulisan ini, kita akan membahas apa saja yang membedakan antara KPR Syariah dan Konvensional. 


Serta juga akan menggunakan contoh simulasi KPR konvensional untuk membantu Anda mengetahui apa yang membedakan skema ini.


Pada dasarnya, KPR Syariah terbagi menjadi 4, yakni KPR iB Jual Beli (MUrabahah), KPR iB Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah), KPR iB Sewa (Ijarah) serta KPR iB Sewa Beli (Ijarah Muntahiya Bittamlik atau IMBT).


Namun sebagian besar dari bank KPR syariah hanya menyediakan 2 skema, yakni akad Murabahah atau KPR iB Jual Beli dan akad Musyarakah MUtanaqisah atau KPR iB Kepemilikan Bertahap. 


Jadi kita hanya akan membahas 2 simulasi tersebut. 


Lalu seperti apa perbedaan keduanya dan bagaimana hitungan simulasi KPR syariah masing-masing akad? 


Berikut penjelasannya...

Simulasi KPR Syariah Akad Murabahah


Murabahah adalah perjanjian jual-beli antara nasabah dan bank dengan sistem syariah. 


Harga yang ditetapkan pada sistem jual ini adalah harga sebenarnya sebuah barang ditambah dengan keuntungan yang disepakati oleh nasabah dan pihak bank.


Kurang lebih gambarannya adalah Anda mempunyai rumah yang ingin dibeli, bank membeli rumah tersebut dan menjualnya kembali kepada Anda sebagai nasabah. 


Anda mencicil dengan margin keuntungan yang setelah disepakati. 


Jelasnya keuntungan yang diperoleh bank dan harga asli dari sebuah barang adalah hal yang membedakan sistem syariah dengan sistem lainnya. 


Sehingga cicilan yang Anda keluarkan setiap bulannya akan tetap sama selama tenor. 


Untuk jelasnya, inilah simulasi KPR syariah akad Murabahah. 


Misalnya anda membeli rumah seharga Rp300 juta dengan uang muka sebesar 20% atau Rp60 juta.


Uang muka tersebut akan diberikan kepada pengembang yang berarti sisa biaya yang harus Anda bayar untuk melunasi rumah ini adalah Rp240 juta (Rp300 juta – Rp60 juta). 


Dengan prinsip murabahah, bank akan membeli rumah dengan harga tersebut ditambah dengan keuntungan yang disepakati bersama.


Jika kesepakatannya adalah tenor 15 tahun dengan keuntungan 5% untuk bank, maka ini adalah rumus yang harus dipahami: 


(Harga asli rumah x (keuntungan bank x plafon) + harga asli rumah) : bulan tenor.



Hasil hitungannya adalah sebagai berikut:


(( Rp240 juta x (5% x 15)) + Rp240 juta) : 180 bulan

(Rp180 juta + Rp240 juta) : 180 bulan

Rp420 juta : 180 bulan


Sesuai dengan hitungan di atas, angsuran yang harus dibayar setiap bulan adalah Rp2.333.333 selama 15 tahun. 


Baca juga:

Beli Rumah Tanpa Riba, Lewat KPR Syariah atau Developer Syariah?

Simulasi KPR Akad Musyarakah Mutanaqishah



Berbeda dengan Akad Murabahah, KPR syariah dengan Akad Musyarakah Mutanaqishah merupakan kerja sama bagi hasil antara nasabah dan bank. 


Jadi kurang lebih bank dan nasabah patungan untuk membeli rumah untuk Anda.


Sebagai contoh, nasabah menyetor 20 persen dan 80 persen sisanya dibayarkan oleh bank. 


Setelah rumah dibeli, rumah tersebut akan disewakan kepada nasabah yang kemudian membayarkan sewa setiap bulannya ke bank. 


“Uang sewa” tersebut adalah sebagai cicilan untuk membeli 80 persen kepemilikan rumah dari bank. 


Jadi pada akhir masa sewa rumah tersebut menjadi milik nasabah.


Misalnya kedua belah pihak akan menentukan tenor, yang juga merupakan masa sewa, selama 10 tahun. 


Jika rumah yang dibeli berharga Rp300 juta, berarti nasabah harus menyiapkan Rp60 juta (20%-nya) dan bank akan dibayarkan sisanya yaitu Rp240 juta (80%-nya).


Selanjutnya, nasabah dan bank akan menyepakati uang sewa yang harus dibayarkan per bulan. 


Misalnya kedua pihak setuju untuk membayar Rp1,6 juta per bulan. 


Mengingat rumah ini adalah milik kedua belah pihak, kamu harus menambah biaya untuk membeli hak milik rumah secara keseluruhan. 


Maka dari itu, kamu harus membayar Rp1,6 juta ditambah dengan cicilan membeli rumah yang sudah disepakati oleh kedua pihak per bulannya selama 10 tahun.


Nah, dari penjelasan tersebut, sudah jelas kan bagaimana penghitungan KPR Syariah?


Semoga saja dengan simulasi KPR syariah yang singkat ini bisa membantu Anda dalam menentukan skema pembelian rumah yang cocok ya!


Jika Anda masih mencari rumah idaman, bisa mengunjungi situs jual beli properti 99.co Indonesia yang juga menawarkan rumah dengan beragam sistem pembayaran!


Baca juga:

Panduan Memilih Perumahan Syariah dan Pengajuan KPR Syariah

Author:

Ferry Fadhlurrahman