Tanpa Ribet, Ini 7 Cara Pengajuan KPR

26 Feb 2020 - Martha

Tanpa Ribet, Ini 7 Cara Pengajuan KPR

Informasi mengenai tata cara pengajuan KPR mungkin paling banyak dicari bagi Anda yang ingin membeli rumah. 

Khususnya bagi yang ingin membeli rumah dengan sistem cicilan.

Biasanya karena kondisi dana yang terbatas, membuat seseorang akhirnya memutuskan untuk membeli rumah dengan cara mencicil.

Salah satu caranya adalah dengan mengikuti program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang kini banyak disediakan oleh berbagai bank.

Biasanya setiap produk KPR dari bank itu berbeda-beda dan memiliki keunggulannya tersendiri. 

Mulai dari suku bunga yang kompetitif, hingga plafon yang beragam, bahkan bisa sangat panjang seperti 25 tahun atau bahkan 30 tahun.

Tinggal Anda membandingkan dan memilih mana KPR yang menurut Anda menguntungkan. 

Yang jelas, berbagai keunggulan produk KPR dari bank ini bertujuan untuk meringankan nasabah  (debitur) dalam masa cicilan yang panjang. 

Seperti yang diketahui bahwa cicilan rumah bisa sampai bertahun-tahun.

Sehingga Anda harus benar-benar cermat dalam memilih produk KPR, agar nantinya Anda tidak merasa diberatkan.

Nah, untuk yang mencari informasi seputar cara pengajuan KPR rumah, berikut beberapa hal yang perlu diketahui:

Menentukan rumah yang akan dibeli


Tentunya sebelum Anda mengajukan KPR ke bank, Anda sudah memiliki rumah pilihan. 

Perlu diketahui juga bahwa bukan dalam memilih produk KPR saja Anda dituntut untuk cermat, tapi juga dalam memilih rumah. 

Misalnya saja dalam penentuan lokasi dan akses, spesifikasi, hingga fasilitas yang disediakan. 

Jika Anda sudah mendapatkan rumah yang diinginkan, maka biasanya Anda akan langsung membayar DP pada pihak penjual.

Siapkan berkas /dokumen dan serahkan ke bank

Anda bisa mendatangi bank dimana Anda akan mengajukan permohonan KPR, lalu minta lah formulir aplikasi untuk diisi sesuai data yang diminta. 

Siapkan juga dokumen pribadi, dan secara umum yang perlu dipersiapkan adalah:

  • Kartu identitas (KTP)

  • Kartu Keluarga

  • NPWP

  • Surat nikah + foto suami istri

  • Rekening koran (biasanya 3 bulan terakhir)

Kebanyakan dari dokumen di atas diminta dalam bentuk copy-an.


photo: pixabay.com

Perlu diketahui bahwa cara pengajuan KPR bagi karyawan dan wirausahawan memiliki beberapa perbedaan dalam berkas yang harus disertakan.

Misalnya untuk karyawan perlu ada slip gaji dan surat keterangan bekerja

Sementara untuk wirausahawan, harus menyiapkan laporan keuangan usaha dan surat keterangan usaha.

Selain dokumen pribadi, juga diperlukan dokumen properti terkait yakni berupa:

  • Sertifikat
  • Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
  • Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
  • Keterangan berisi persetujuan pihak penjual untuk menjual rumah
  • Kartu identitas sang penjual

Pemeriksaan Bank Indonesia (BI Checking)


photo: pixabay.com

Proses berikutnya ini bisa dibilang cukup menentukan, dimana pihak bank akan melakukan penelusuran riwayat perbankan Anda.

Misalnya jika Anda pernah memiliki cicilan sebelumnya, apakah cicilan tersebut berjalan lancar atau tidak. 

Atau apakah Anda sedang dalam proses mencicil ke bank lain dan sebagainya.

Jika Anda memiliki masalah dalam riwayat perbankan, ini akan memberatkan Anda dan bisa saja pengajuan KPR Anda tidak berhasil, sehingga tentunya proses pengajuan Anda terhenti di sini.

Namun, jika Anda lolos proses BI checking ini, maka proses berikutnya akan dilakukan, yakni survei.

Survei dan appraisal

Tujuan survei adalah mengonfirmasi data-data dalam berkas yang Anda pernah ajukan sebelumnya.


photo: pexels.com

Selain itu dalam survei tentunya akan ada sesi tanya jawab.

Dimana pihak penyurvei bisa mengetahui karakter dan kemampuan Anda lebih jauh. 

Tentunya ini terkait dengan proses pembayaran cicilan yang akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

Tahapan survei ini bisa dilakukan by phone, maupun secara langsung dimana petugas bank akan mendatangi Anda.

Sementara appraisal adalah proses penilaian terhadap objek (rumah). Pihak bank akan mengutus ahli untuk menaksir nilai (harga) rumah. 

Biasanya Anda akan dikenakan juga biaya untuk proses appraisal ini.

Penerbitan Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K)

Dari hasil appraisal ini bank akan menerbitkan surat berisi informasi antara lain mengenai nilai maksimum kredit, jangka waktu, suku bunga, angsuran per bulan dan lain sebagainya.

Proses balik nama

Jika KPR disetujui, maka pihak bank akan menunjuk notaris untuk mengurus sertifikat dan proses balik nama, dimana dalam hal ini Anda juga harus menyediakan dana khusus.


photo: pixabay.com

Tanda tangan

Setelah proses pengurusan surat oleh notaris selesai, saatnya masuk ke tahap akhir dari cara pengajuan KPR yakni tanda tangan akad kredit. 

Bagi yang sudah menikah, maka dalam proses ini wajib membawa pasangannya.

Lalu dalam tahapan ini juga Anda akan diminta untuk membayar biaya-biaya yang tertera di SP3K. 

Setelah sertifikat selesai dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), maka Anda akan memegang salinannya, sementara sertifikat dan IMB asli akan disimpan bank sebagai jaminan.

Ketentuan-ketentuan di atas juga berlaku bagi Anda yang mencari cara pengajuan KPR rumah bekas.


photo: pexels.com

Konvensional atau Syariah, Begini Cara Pengajuan KPR

Seperti yang diketahui bahwa dengan membeli rumah melalui sistem cicilan ke bank, maka juga harus siap dengan bunga yang ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan. 

Bunga ini kadang tidak tetap (floating) dan ini tentunya akan berpengaruh pada besaran cicilan Anda dalam sebulan.

Biasanya kondisi ini akan Anda temui dalam sistem KPR konvensional, misalnya dalam cara pengajuan KPR BTN atau sejumlah bank konvensional lainnya. 

Tapi kini ada pilihan properti syariah, yang bisa Anda cicil dengan sistem KPR Syariah.

Perbedaan mendasar dari KPR Syariah dengan yang konvensional adalah tidak adanya bunga. 

Kalau Anda tertarik maka bisa coba pertimbangkan cara pengajuan KPR di Bank Syariah Mandiri.

Sebagai ganti dari bunga adalah nilai keuntungan yang harus dibayarkan pada bank, dan besarannya sudah disepakati dengan Anda sejak awal. 

Di sini akan diberlakukan akad murabahah, dimana pihak bank akan membeli dulu rumah yang diinginkan, kemudian barulah menjualnya pada Anda dengan menambahkan margin yang sudah disepakati tadi.

Kelebihan dari cara pengajuan KPR di Bank Syariah Mandiri adalah:

Jumlah cicilan tetap setiap bulan

Dengan begini Anda sudah tahu dan bisa mengantisipasi dana yang akan keluar setiap bulannya.


photo: pixabay.com

Masa tenor yang lebih bervariasi

Meski tidak selama KPR konvensional yang bisa mencapai 30 tahun, namun masa tenor KPR syariah bisa Anda sesuaikan dengan kemampuan yakni mulai dari 6 bulan hingga 15 tahun.

Tidak ada denda

Ya, berbeda dengan KPR konvensional, KPR syariah tidak mengenal denda karena keterlambatan, atau denda pelunasan di awal. 


photo: pexels.com

Namun biasanya KPR Syariah Mandiri mengadakan dana sosial yang akan disumbangkan bagi kalangan tak mampu.

Lalu kalau bicara syarat-syarat dokumen untuk pengajuan KPR Syariah hampir sama dengan KPR konvensional.

Namun ada ketentuan lain dalam cara pengajuan KPR di Bank Syariah Mandiri, misalnya:

  • Besaran cicilan per bulan tidak boleh melebihi 40% gaji atau penghasilan bulanan.

  • Rumah yang ingin dibeli setidaknya sudah 50% rampung dibangun. Kalau belum sampai 50% maka wajib menyertakan surat perjanjian kerjasama developer dengan bank.

  • Siapkan uang muka (DP) setidaknya 20% dari harga jual rumah.

Nah, kini Anda sudah mengetahui cara pengajuan KPR baik yang konvensional maupun syariah. 

Apapun pilihan Anda, tetap harus pertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan ya, mulai dari rumah yang akan dibeli, kemampuan finansial dan sebagainya.

Semoga bermanfaat!

Author:

Martha